Biaya Energi Naik, Daya Saing Industri Baja Tertekan

Kamis, 16 April 2026 | 05:25 WIB
Biaya Energi Naik, Daya Saing Industri Baja Tertekan
[]
Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Fahriyadi .

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kenaikan biaya energi global akibat dinamika geopolitik, termasuk ketegangan di Timur Tengah mulai menekan industri baja nasional. Pelaku usaha menilai lonjakan harga energi dan logistik berpotensi menggerus daya saing, baik di pasar domestik maupun ekspor.

Direktur Eksekutif Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) Harry Warganegara mengatakan, energi merupakan salah satu komponen utama dalam struktur biaya produksi baja. Untuk itu, kenaikan harga energi berimplikasi langsung terhadap peningkatan biaya produksi industri.

"Keberlanjutan kebijakan energi yang kompetitif, termasuk kepastian pasokan gas dan listrik bagi industri, menjadi sangat penting untuk menjaga daya saing sektor baja nasional," ucap dia kepada KONTAN, Rabu (15/4).

Baca Juga: Marak Produk Dumping Asal China, Kinerja Emiten Baja Belum Perkasa

Menurut Harry, dampak kenaikan biaya energi berbeda-beda di setiap pelaku usaha, tergantung struktur biaya dan teknologi produksi yang digunakan.

Industri yang memiliki intensitas penggunaan listrik dan gas tinggi, seperti yang menggunakan teknologi electric arc furnace (EAF), akan lebih sensitif terhadap kenaikan biaya energi.

Selain itu, lonjakan harga minyak dunia turut mendorong kenaikan biaya logistik dan transportasi. Kondisi tersebut pada akhirnya menambah tekanan terhadap biaya operasional serta margin usaha industri baja.

Meski demikian, IISIA belum dapat memerinci besaran kenaikan biaya produksi secara agregat. Pasalnya, dampak kenaikan energi sangat bergantung pada konsumsi energi, jenis proses produksi serta perkembangan harga energi dan logistik global.

Untuk meredam tekanan tersebut, IISIA mendorong pemerintah menjaga kepastian harga dan pasokan energi, termasuk keberlanjutan kebijakan harga gas bumi tertentu (HGBT) serta stabilitas tarif listrik.

Di sisi lain, Asosiasi menekankan pentingnya penguatan pengawasan impor, penerapan instrumen trade remedies, pemberlakuan SNI wajib, serta optimalisasi kebijakan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) agar produk baja nasional mendapatkan porsi lebih besar dalam proyek strategis pemerintah.

Sementara itu, Corporate Secretary & Investor Relations PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (ISSP) Johannes Edward menilai, dampak langsung kenaikan biaya energi terhadap industri pipa relatif terbatas. Hal ini lantaran porsi biaya energi dalam struktur biaya perusahaan tidak terlalu besar.

Namun demikian, Johannes mengakui dampak tidak langsung tetap perlu diwaspadai, terutama dari sisi logistik dan kenaikan harga komponen lain.

"Dampaknya akan material ke aspek logistik dan kenaikan harga produk dan barang lainnya karena efek tidak langsung, yang pada akhirnya dapat mengancam daya beli masyarakat," jelas dia kepada KONTAN, Rabu (15/4).

Johannes menambahkan, Steel Pipe Industry of Indonesia terus memantau ketersediaan barang di pasar dan menyesuaikan tingkat persediaan secara optimal untuk menjaga harga tetap kompetitif tanpa menggerus margin.

Dia optimistis prospek industri pada 2026 masih positif, terutama jika kondisi geopolitik tidak semakin memburuk.

Apalagi, outlook tersebut didukung oleh kebijakan strategis pemerintah yang diharapkan mampu mendorong permintaan di dalam negeri.

Melansir Trading Economics, Rabu (15/4), harga HRC Steel sebesar US$ 1.085,05 per ton. Harga tersebut mencerminkan kenaikan 3,24% dalam sebulan dan naik 16,05% sejak awal tahun ini.

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Melihat Indonesia Pasca Disalip Singapura Sebagai Bursa Terbesar ASEAN
| Jumat, 22 Mei 2026 | 07:38 WIB

Melihat Indonesia Pasca Disalip Singapura Sebagai Bursa Terbesar ASEAN

Capital outflow asing sejak awal tahun telah mencapai lebih dari Rp 51 triliun, turut menekan IHSG dan meningkatkan volatilitas pasar domestik.

Ambruk 8 Hari Beruntun, IHSG Rentan Menjebol 6.000, Cek Rekomendasi Saham Hari Ini
| Jumat, 22 Mei 2026 | 07:29 WIB

Ambruk 8 Hari Beruntun, IHSG Rentan Menjebol 6.000, Cek Rekomendasi Saham Hari Ini

Analis memperkirakan, IHSG hari ini masih dalam tren melemah. Bahkan ada potensi menjebol level 6.000.

Menggali Potensi Kakao Premium
| Jumat, 22 Mei 2026 | 07:11 WIB

Menggali Potensi Kakao Premium

"BPDP juga telah mengalokasikan pendanaan untuk mendukung sarana dan prasarana pascapanen serta pengolahan kakao

SNI Wajib untuk Produk Baja Mulai Diberlakukan
| Jumat, 22 Mei 2026 | 07:07 WIB

SNI Wajib untuk Produk Baja Mulai Diberlakukan

Industri menyambut baik penerapan SNI wajib untuk produk baja dan besi karena bisa meningkatkan daya saing

Swasta Siap Menggarap Proyek PLTS
| Jumat, 22 Mei 2026 | 07:02 WIB

Swasta Siap Menggarap Proyek PLTS

APLSI memberikan sejumlah catatan terhadap proyek ambisius yang ditargetkan rampung dalam tiga tahun tersebut

 Pertamina Cari Alternatif Pemasok Minyak
| Jumat, 22 Mei 2026 | 06:59 WIB

Pertamina Cari Alternatif Pemasok Minyak

Harga minyak mentah Indonesia (ICP) April 2026 naik 14,72% menjadi US$ 117,31 per barel, tapi pemerintah masih menahan harga BBM subsidi

Danantara Eksportir Tunggal Tiga Komoditas SDA
| Jumat, 22 Mei 2026 | 06:52 WIB

Danantara Eksportir Tunggal Tiga Komoditas SDA

Presiden Prabowo menyebut kebocoran ekspor sumber daya alam selama 34 tahun mencapai Rp 15.400 triliun.

Emas Terkoreksi di Bawah US$ 4.500: Geopolitik dan Inflasi Pemicunya
| Jumat, 22 Mei 2026 | 06:30 WIB

Emas Terkoreksi di Bawah US$ 4.500: Geopolitik dan Inflasi Pemicunya

Harga emas turun  di bawah US$4.500 per ons troi. Gejolak geopolitik dan kekkhawatiran inflasi memicu proyeksi Fed memperketat kebijakan

Dapat Persetujuan RUPST, RMK Energy (RMKE) Siap Menebar Dividen Rp 130,9 miliar
| Jumat, 22 Mei 2026 | 06:25 WIB

Dapat Persetujuan RUPST, RMK Energy (RMKE) Siap Menebar Dividen Rp 130,9 miliar

Nilai dividen setara 54,1% dari laba bersih RMKE tahun buku 2025. Dus, setiap pemegang saham akan menerima dividen tunai sebesar Rp 30 per saham.​

Minat Bank Terbitkan Obligasi Bisa Turun
| Jumat, 22 Mei 2026 | 06:25 WIB

Minat Bank Terbitkan Obligasi Bisa Turun

Kenaikan BI rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25% diperkirakan dapat menurunkan minat bank untuk menerbitkan obligasi atau surat utang.​

INDEKS BERITA

Terpopuler