KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ekonomi Indonesia sedang menghadapi tantangan berat. Dari eksternal, gejolak di Timur Tengah imbas perang Iran versus Israel dan Amerika Serikat (AS) masih menghantui meski mereda setelah ada gencatan senjata.
Namun perang di Iran bisa saja kembali meledak, jika negosiasi AS dengan Iran dalam dua minggu ini menemui jalan buntu. Berarti siap-siap pasar keuangan dan pasar komoditas kembali bergejolak liar.
Dari lonjakan harga minyak mentah saja sudah membuat dunia kalang kabut. Ini lantaran bisa merembet ke harga bahan bakar minyak (BBM) domestik yang bisa memancing gejolak sosial dan kelesuan ekonomi. Dus, banyak pemerintah di dunia berupaya melindungi konsumen dari lonjakan harga energi.
Indonesia, semisal, memilih tak menaikkan harga BBM nonsubsidi maupun BBM subsidi. Malaysia juga memilih menambah pengeluaran subsidi untuk bensin agar harga BBM tak naik.
Persoalannya, seberapa kuat fiskal kita menahan tekanan ini? Apalagi kalau nanti perang Iran berkobar lagi dan harga minyak dunia kembali melambung serta pemerintah menghindari risiko menaikkan harga BBM dalam negeri. Beban fiskal akan menjadi pertaruhan.
Belum lagi, kita juga dihadapkan pada pelemahan rupiah yang telah jatuh ke level terendah sepanjang masa terhadap dolar AS. Jumat (10/4), rupiah sudah bertengger di level Rp 17.104 per dolar AS.
Efek pelemahan rupiah ini juga bisa merembet kemana-mana. Termasuk ke fiskal karena asumsi APBN saat ini memakai patokan kurs rupiah Rp 16.500. Termasuk juga ancaman kenaikan harga barang terutama yang tergantung pada bahan baku impor.
Di tengah tekanan eksternal tersebut, ekonomi Indonesia juga masih harus menghadapi tantangan lain yakni ancaman kemarau panjang atau El Nino Godzilla di sebagian besar wilayah Indonesia.
Ini juga butuh perhatian serius lantaran El Nino berpotensi mengganggu produksi dan pasokan pangan. Sedangkan, kalau harus impor pangan sudah pasti bakal memakan ongkos mahal karena rupiah sedang melemah. Buntutnya harga pangan ke konsumen makin mahal dan sulit terjangkau masyarakat bawah.
Tiga hal ini; lonjakan harga energi, pelemahan rupiah dan ancaman kemarau ekstrem patut diwaspadai dan diantisipasi lantaran rawan secara sosial maupun ekonomi.
Sebab, bila tak tertangani, bibit krisis bukan tidak mungkin muncul dari sini. Semoga tak terjadi.
