Bibit Ancaman Sosial dan Ekonomi

Sabtu, 11 April 2026 | 07:00 WIB
Bibit Ancaman Sosial dan Ekonomi
[]
Reporter: Khomarul Hidayat | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ekonomi Indonesia sedang menghadapi tantangan berat. Dari eksternal, gejolak di Timur Tengah imbas perang Iran versus Israel dan Amerika Serikat (AS) masih menghantui meski mereda setelah ada gencatan senjata.

Namun perang di Iran bisa saja kembali meledak, jika negosiasi AS dengan Iran dalam dua minggu ini menemui jalan buntu. Berarti siap-siap pasar keuangan dan pasar komoditas kembali bergejolak liar.

Dari lonjakan harga minyak mentah saja sudah membuat dunia kalang kabut. Ini lantaran bisa merembet ke harga bahan bakar minyak (BBM) domestik yang bisa memancing gejolak sosial dan kelesuan ekonomi. Dus, banyak pemerintah di dunia berupaya melindungi konsumen dari lonjakan harga energi.

Indonesia, semisal, memilih tak menaikkan harga BBM nonsubsidi maupun BBM subsidi. Malaysia juga memilih menambah pengeluaran subsidi untuk bensin agar harga BBM tak naik.

Persoalannya, seberapa kuat fiskal kita menahan tekanan ini? Apalagi kalau nanti perang Iran berkobar lagi dan harga minyak dunia kembali melambung serta pemerintah menghindari risiko menaikkan harga BBM dalam negeri. Beban fiskal akan menjadi pertaruhan.

Belum lagi, kita juga dihadapkan pada pelemahan rupiah yang telah jatuh ke level terendah sepanjang masa terhadap dolar AS. Jumat (10/4), rupiah sudah bertengger di level Rp 17.104 per dolar AS.

Efek pelemahan rupiah ini juga bisa merembet kemana-mana. Termasuk ke fiskal karena asumsi APBN saat ini memakai patokan kurs rupiah Rp 16.500. Termasuk juga ancaman kenaikan harga barang terutama yang tergantung pada bahan baku impor.

Di tengah tekanan eksternal tersebut, ekonomi Indonesia juga masih harus menghadapi tantangan lain yakni ancaman kemarau panjang atau El Nino Godzilla di sebagian besar wilayah Indonesia.

Ini juga butuh perhatian serius lantaran El Nino berpotensi mengganggu produksi dan pasokan pangan. Sedangkan, kalau harus impor pangan sudah pasti bakal memakan ongkos mahal karena rupiah sedang melemah. Buntutnya harga pangan ke konsumen makin mahal dan sulit terjangkau masyarakat bawah.

Tiga hal ini; lonjakan harga energi, pelemahan rupiah dan ancaman kemarau ekstrem patut diwaspadai dan diantisipasi lantaran rawan secara sosial maupun ekonomi.

Sebab, bila tak tertangani, bibit krisis bukan tidak mungkin muncul dari sini. Semoga tak terjadi.

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Krisis LNG Bikin Asia Pasifk Butuh Tambahan 90 Juta Ton Batubara, RI Siap Menyuplai?
| Kamis, 11 Juni 2026 | 09:30 WIB

Krisis LNG Bikin Asia Pasifk Butuh Tambahan 90 Juta Ton Batubara, RI Siap Menyuplai?

Laju impor batubara Korea Selatan dan Jepang masing-masing tercatat melonjak lebih dari 50% dan 20% di atas level tahun lalu.

Memburu Saham Blue Chip yang Murah
| Kamis, 11 Juni 2026 | 08:50 WIB

Memburu Saham Blue Chip yang Murah

Saham blue chip memimpin rebound IHSG. Strategi akumulasi bertahap dapat memaksimalkan potensi keuntungan.

Ruang Pertumbuhan ASII Masih Terbatas, Simak Rekomendasi Sahamnya
| Kamis, 11 Juni 2026 | 08:34 WIB

Ruang Pertumbuhan ASII Masih Terbatas, Simak Rekomendasi Sahamnya

Astra International ubah fokus ke value creation. Temukan tiga mesin pertumbuhan baru yang berpotensi dongkrak kinerja jangka panjang.

Kenaikan BI Rate Hanya Obat Kuat Sementara untuk Rupiah
| Kamis, 11 Juni 2026 | 08:28 WIB

Kenaikan BI Rate Hanya Obat Kuat Sementara untuk Rupiah

Kenaikan BI Rate dinilai belum cukup untuk menjamin stabilitas nilai tukar dalam jangka panjang tanpa dukungan kebijakan lainnya.

PALM Menerbitkan Obligasi Senilai Rp 500 Miliar untuk Membayar Utang
| Kamis, 11 Juni 2026 | 08:01 WIB

PALM Menerbitkan Obligasi Senilai Rp 500 Miliar untuk Membayar Utang

Masa penawaran umum obligasi ini pada 9 Juni 2026 dan tanggal pencatatan obligasi di Bursa Efek Indonesia pada 15 Juni 2026. ​

Genjot Perdagangan Saham, Rukun Raharja (RAJA) Lakukan Stock Split
| Kamis, 11 Juni 2026 | 07:56 WIB

Genjot Perdagangan Saham, Rukun Raharja (RAJA) Lakukan Stock Split

Nilai nominal saham PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) akan berubah dari Rp 25 per saham  menjadi Rp 5 per saham setelah stock split. ​

Nilai Dividen Aneka Tambang (ANTM) Menurun, Imbal Hasil Tetap Menggiurkan
| Kamis, 11 Juni 2026 | 07:49 WIB

Nilai Dividen Aneka Tambang (ANTM) Menurun, Imbal Hasil Tetap Menggiurkan

PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) memutuskan membagikan dividen tunai tahun buku 2025 sebesar Rp 5,05 triliun.

Asing Konsisten Sell Indonesia Saat IHSG Melesat, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini
| Kamis, 11 Juni 2026 | 07:48 WIB

Asing Konsisten Sell Indonesia Saat IHSG Melesat, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

Tiga hari terakhir, jumlah net sell asing itu malah mencapai Rp 6,01 triliun. Artinya, penguatan IHSG ditopang oleh investor lokal. 

Investor Asing Rajin Borong TINS Saat Pasar Saham Indonesia Tertekan, Ini Penyebabnya
| Kamis, 11 Juni 2026 | 07:47 WIB

Investor Asing Rajin Borong TINS Saat Pasar Saham Indonesia Tertekan, Ini Penyebabnya

Daya tarik utama PT Timah Tbk (TINS) berasal dari prospek fundamental yang membaik seiring reli harga timah dunia.

Era Suku Bunga Tinggi, Prospek Emiten Semen Kian Berat
| Kamis, 11 Juni 2026 | 07:43 WIB

Era Suku Bunga Tinggi, Prospek Emiten Semen Kian Berat

Kenaikan BI rate akan memperberat beban KPR oleh masyarakat, yang langsung menekan permintaan properti sebagai pasar terbesar emiten semen.​

INDEKS BERITA

Terpopuler