Bitcoin Menguat 47,60% per Kuartal III-2026, Begini Strategi Manfaatkan Momentumnya
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Efek aturan The Federal Reserved (The Fed) merambah kemana-mana termasuk pergerakan aset kripto terbesar, bitcoin. Bitcoin menguat signifikan bahkan menembus level US$ 86.000 pada perdagangan Senin (21/9), sebelum melanjutkan kenaikan hingga menyentuh US$ 87.395 pada Selasa (22/9) dini hari.
Lebih lanjut, mengacu pada data perdagangan CoinMarket, bitcoin sempat berada di level US$ 86.150 alias sekitar Rp 1,53 miliar per keping dengan asumsi kursi Rp 17.800 per dolar AS. Posisi ini juga menjadi level tertinggi bitcoin sejak akhir Januari 2026.
Penguatan ini pula sekaligus memperpanjang pemulihan bitcoin setelah sempat tertekan berat di paruh pertama 2026. Berdasarkan data yang dipaparkan oleh Ajaib Sekuritas, laju kenaikan bitcoin belum mau berhenti setelah sukses menembus level harga US$ 85.000 hingga melesat menyentuh level US$ 87.395 pada Selasa (22/9) dini hari pukul 03:00 WIB.
Sepanjang kuartal III-2026 (1 Juli–22 September) BTC tercatat mengalami pemulihan signifikan, naik 47,60% dari US$ 58.600 menuju US$ 86.500, sementara total kapitalisasi pasar aset kripto melonjak 4,50% kini ke level US$ 2,90 triliun.
"Bitcoin telah melesat 45,34% sejak awal Juli hingga kini bertengger di level US$ 85.300-an per 22 September, menandakan kuartal III-2026 berpotensi jadi salah satu kuartal terbaik bagi kripto dalam delapan tahun terakhir," papar Panji Yudha Financial Expert Ajaib kepada KONTAN, Selasa (22/9).
Baca Juga: Harga Bitcoin Menguat, Saham COIN Ikut Terangkat: Simak Prospeknya
Pemulihan ini pun juga dipandang cukup tajam, karena pada dua kuartal sebelumnya di 2026, kinerja bitcoin mencatatkan minus masing-masing sebesar -22,2% di kuartal I-2026 dan -14,09% di kuartal II-2026.
Pergerakan ini punya kemiripan dengan perjalanan bitcoin di 2018 dan 2019 saat pelemahan pada awal periode diikuti pemulihan pada paruh kedua tahun.
"Kendati demikian, reli bitcoin kali ini berlangsung saat kondisi moneter AS belum sepenuhnya mendukung aset berisiko," lanjut Panji.
