Bitcoin Tembus US$ 82.000, Reli ETF dan Short Squeeze Dongkrak Pasar Kripto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga bitcoin terpantau kembali mencetak rally panjang dan mampu menembus level psikologis US$ 82.000. Pencapaian ini ditasbihkan sebagai kenaikan tertinggi yang tercetak dalam tiga bulan terakhir sekaligus menandai perubahan struktur pasar kripto global, sebab sebelumnya bergerak dalam fase konsolidasi yang cukup panjang di kisaran US$ 65.000 hingga US$ 75.000.
Memandang capaian Bitcoin yang terjadi, FLOQ menilai bahwa penguatan yang terjadi kali ini tidak sekadar dipicu oleh spekulasi jangka pendek, tetapi turut ditopang kombinasi arus dana institusional, dinamika pasar derivatif, hingga perubahan ekspektasi makroekonomi global.
"Kami menilai pasar mulai menunjukkan pola akumulasi yang lebih sehat, terutama setelah meningkatnya pembelian institusi besar melalui produk spot Bitcoin ETF. Namun, volatilitas tinggi masih menjadi risiko utama yang perlu dicermati investor," ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima KONTAN, Jumat (8/5).
FLOQ lebih jauh menelusuri faktor pendorong utama rally Bitcoin. Kali ini, kekuatan pendorong datang dari derasnya arus dana ke spot Bitcoin ETF di Amerika Serikat. Dalam dua hari pertama Mei 2026, tercatat lebih dari US$ 1 miliar dana masuk ke produk ETF Bitcoin.
Baca Juga: Nasib Bitcoin Setelah The Fed Tahan Suku Bunga, Investor Harus Apa?
Produk iShares Bitcoin Trust (IBIT) milik BlackRock tercatat melakukan pembelian Bitcoin senilai US$ 284,4 juta pada 2 Mei 2026. Kondisi ini memperkuat sentimen bahwa investor institusional masih agresif melakukan akumulasi meski harga Bitcoin sudah melonjak signifikan.
Di saat bersamaan, cadangan Bitcoin di bursa kripto global berada di level terendah dalam tujuh tahun terakhir. Situasi ini memicu fenomena supply shock, yakni ketika pasokan aset di pasar spot semakin terbatas sehingga tekanan beli relatif kecil dapat mendorong harga naik lebih agresif.
Rally Bitcoin juga diperkuat tekanan di pasar derivatif. FLOQ mencermati bahwa sebelum menembus US$ 80.000, funding rate pasar futures sempat bergerak negatif yang menunjukkan dominasi posisi short trader. Lantas, ketika harga breakout, angka sebanyak lebih dari US$ 300 juta dilikuidasi hanya dalam 24 jam.
"Fenomena short squeeze tersebut membuat trader yang bertaruh pada penurunan harga terpaksa membeli kembali Bitcoin untuk menutup posisi mereka, sehingga mempercepat kenaikan harga," papar FLOQ.
Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur juga melihat pergerakan Bitcoin sekarang, memang menandakan aliran dana mulai kembali masuk ke pasar kripto.
Pada April 2026, net inflow ke US Spot Bitcoin ETF mencapai US$ 2,44 miliar, menjadi yang tertinggi sepanjang tahun ini. Secara kumulatif sejak 2024, total inflow telah mencapai US$ 58,5 miliar, dengan total AUM Bitcoin ETF berada di sekitar US$ 102 miliar. BlackRock’s IBIT masih memimpin dengan kepemilikan sekitar 812.000 BTC atau setara US$ 62 miliar, serta menguasai sekitar 49%–62% pasar ETF Bitcoin.
