Bukan Negeri Pelanduk

Rabu, 01 Maret 2023 | 08:00 WIB
Bukan Negeri Pelanduk
[]
Reporter: Barly Haliem | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Radar dunia terus memantau Indonesia. Baru-baru ini misalnya, Max Boot, seorang kolomnis kenamaan urusan keamanan nasional Amerika Serikat (AS), menuliskan tentang strategisnya posisi Indonesia dalam perebutan pengaruh politik dan ekonomi antara Amerika Serikat versus China.

Di mata Boot, siapa pun yang ingin meraih pengaruh besar di Asia harus menjalin sekutu dengan Indonesia.

Dia menilai, Amerika telah lama memalingkan muka dari Indonesia, sehingga membuka pintu lebar bagi China untuk "invasi" secara massif di Indonesia. Alhasil, China menikmati hasil besar secara ekonomi, politik serta pengaruh di Asia karena bisa merebut hati Indonesia.

Oleh karena itu, dalam konteks mengembalikan pengaruhnya di Asia, AS harus memberikan perhatian ekstra terhadap Indonesia. Bagi dia, "Indonesia memiliki suara besar dalam menentukan masa depan Asia," tulis Boot di The Washington Post, edisi 20 Februari 2023 lalu.

Sebelumnya, The Economist juga menuliskan bahwa dunia, terutama Barat, harus mulai melihat posisi dan peran strategis Indonesia yang selama ini ibarat raksasa Asia yang diabaikan (Asia's Giant Overlooked).

Menurut media ekonomi yang sudah berusia hampir dua abad ini, Indonesia telah bangkit dan akan menentukan nasib Asia dalam beberapa dekade ke depan.

Secara umum, dua blok kekuatan dunia saat ini memang tengah mencari sekutu baru untuk membuat tatanan dunia sesuai apa yang mereka inginkan. Mereka juga ingin mencengkeramkan lebih dalam lagi kuku pengaruhnya  di dunia.

AS dan para sekutunya, simbol kekuatan Barat, misalnya, punya kepentingan besar dalam upaya ini. Maklum, perang dagang dengan China sejak tahun 2016 maupun agresi Rusia terhadap Ukraina yang sudah berlangsung satu tahun ini, telah mengikis pengaruh besar Negara Adidaya ini di urusan geopolitik maupun ekonomi dunia.

Sementara China dan Rusia yang mewakili Blok Timur, mengisyaratkan aliansi baru untuk mengimbangi dominasi Barat. Mereka juga menginginkan ruang lebih besar untuk ekspansi ekonomi yang sekian lama dikuasai kepentingan Barat.

Nah, di tengah kecamuk perang pengaruh antar blok kekuatan dunia tersebut, posisi Indonesia kian dilirik dan tengah jadi rebutan. Letak strategis geografis maupun geopolitik Indonesia, serta keberhasilan Indonesia memimpin G20 maupun jabatannya sebagai Ketua ASEAN saat ini, dinilai bisa menjadi penyeimbang baru di tengah kebuntuan dialog antar blok kekuatan dunia.

Dalam situasi seperti ini, Indonesia tidak boleh terlena alih-alih besar kepala. Kita harus pintar-pintar mengayunkan pendulum dan menjaga keseimbangan langkah: memberi sinyal pro-barat, tetapi  bukan berarti anti-China maupun Rusia yang sudah berinvestasi di sini.

Lebih utama lagi, momentum ini harus memacu kita untuk mengonsolidasikan kekuatan sendiri negara ini, serta terus fokus membangun pertumbuhan dalam negeri sembari terus mengurangi ketergantungan dari luar di segala bidang.

Hanya dengan kekuatan diri sendiri dan kemandirian yang bisa membuat negara ini lebih bermartabat dan disegani dunia. Kita tak ingin hanya menjadi negeri pelanduk yang mati terinjak-injak di tengah pertikaian antar para gajah. 

 

Bagikan

Berita Terbaru

Beban Berkurang Seiring Tekanan Jual CIC Mereda, Gerak Saham BUMI Bakal Lebih Enteng?
| Jumat, 20 Februari 2026 | 07:25 WIB

Beban Berkurang Seiring Tekanan Jual CIC Mereda, Gerak Saham BUMI Bakal Lebih Enteng?

Kunci utama BUMI dalam menghadapi siklus normalisasi harga batubara terletak pada struktur biaya produksi dan pengelolaan tumpukan beban utang.

Kebijakan Pemerintah Tentukan Arah Rupiah
| Jumat, 20 Februari 2026 | 05:30 WIB

Kebijakan Pemerintah Tentukan Arah Rupiah

BI menahan suku bunga, tapi rupiah terus melemah. Apa saja faktor global dan domestik yang membuat upaya bank sentral belum berhasil?

Gencar Ekspansi Bisnis, Prospek Sejahtera Anugrahjaya (SRAJ) Semakin Sehat
| Jumat, 20 Februari 2026 | 05:05 WIB

Gencar Ekspansi Bisnis, Prospek Sejahtera Anugrahjaya (SRAJ) Semakin Sehat

Kontribusi fasilitas baru PT Sejahtera Anugrahjaya Tbk (SRAJ) bisa mendorong pendapatan perusahaan tumbuh 10%–15% secara tahunan pada 2026.

Jelang Libur Akhir Pekan, IHSG Ambrol, Rupiah Ambruk, Cek Rekomendasi Saham Hari Ini
| Jumat, 20 Februari 2026 | 04:43 WIB

Jelang Libur Akhir Pekan, IHSG Ambrol, Rupiah Ambruk, Cek Rekomendasi Saham Hari Ini

Tekanan jual meningkat seiring pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), yang kemarin hampir menjebol Rp 17.000. 

Momen Bulan Suci Memoles Bisnis Gadai
| Jumat, 20 Februari 2026 | 04:15 WIB

Momen Bulan Suci Memoles Bisnis Gadai

Pola musiman kembali terulang untuk mencari pinjaman tunai guna memenuhi kebutuhan di bulan suci Ramadan. 

Nasib Rupiah Jumat: Pelaku Pasar Cermati Data Penting AS Ini
| Jumat, 20 Februari 2026 | 04:00 WIB

Nasib Rupiah Jumat: Pelaku Pasar Cermati Data Penting AS Ini

Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar AS. Keputusan BI menahan suku bunga belum sepenuhnya meredam tekanan. 

Prospek Unilever (UNVR) terganjal persaingan dan daya beli lemah
| Jumat, 20 Februari 2026 | 04:00 WIB

Prospek Unilever (UNVR) terganjal persaingan dan daya beli lemah

Prospek Unilever Indonesia (UNVR) di 2026 hadapi tantangan berat. Persaingan ketat dan daya beli melemah jadi ancaman serius.

Cashlez Worldwide (CASH) Mengalami Tekanan Kinerja di Tahun 2025
| Jumat, 20 Februari 2026 | 03:45 WIB

Cashlez Worldwide (CASH) Mengalami Tekanan Kinerja di Tahun 2025

Skala transaksi dinilai belum menghasilkan operating leverage yang cukup untuk menutup struktur biaya tetap industri infrastruktur pembayaran.

Luncurkan Internet Rakyat, Surge (WIFI) Siap Memperluas Pasar
| Jumat, 20 Februari 2026 | 03:45 WIB

Luncurkan Internet Rakyat, Surge (WIFI) Siap Memperluas Pasar

PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) meluncurkan layanan komersial 5G dengan merek IRA atau Internet Rakyat pada Kamis (19/2).

Harga dan Pasokan Perikanan Masih Stabil
| Jumat, 20 Februari 2026 | 03:35 WIB

Harga dan Pasokan Perikanan Masih Stabil

Ditjen Perikanan Tangkap KKP mencatat produksi  perikanan tangkap Januari sampai Maret 2026 mencapai sekitar 7,3 juta ton.​

INDEKS BERITA

Terpopuler