Bunga Dikerek, Investasi di Aset Defensif Bisa Menjadi Pilihan

Jumat, 23 September 2022 | 04:40 WIB
Bunga Dikerek, Investasi di Aset Defensif  Bisa Menjadi Pilihan
[]
Reporter: Akhmad Suryahadi, Aris Nurjani | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Akhirnya tren bunga tinggi tiba. Kemarin (22/9), bank sentral Amerika Serikat The Fed menaikkan suku bunga acuan 75 basis poin (bps) menjadi 3,25%. 

Lalu, secara mengejutkan, Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) menaikkan suku bunga 50 bps menjadi 4,25%. Bunga deposit facility ikut naik 50 bps menjadi 3,5%, begitu pula bunga lending facility menjadi 5%. 

Kepala Riset Aldiracita Sekuritas Agus Pramono mengatakan, investor harus meracik alokasi investasi yang defensif. Di tengah sentimen kenaikan suku bunga, dia menyarankan investor melirik saham berbasis komoditas, terutama yang menjadi unggulan Indonesia, seperti batubara dan minyak sawit mentah alias crude palm oil (CPO). 

Baca Juga: Tren Kenaikan Suku Bunga, Intip Strategi Investasi Ini

Selain itu, investor juga bisa mencermati saham emiten telekomunikasi. Agus menyebut saham yang bisa dipilih antara lain PT Adaro Energy Tbk (ADRO), PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dan saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM).

Di era suku bunga yang mulai tinggi, Agus menyarankan investor bisa mengalokasikan 50% dana dalam bentuk saham. Sisanya bisa di instrumen lain, seperti obligasi. "Saat ini saya perkirakan pasar akan volatil sampai The Fed ada kejelasan mengenai arah kebijakan suku bunga ke depan," tambah Agus.

Senior Investment Mirae Asset Sekuritas Indonesia Martha Christina juga menilai saham tetap menarik di tengah era bunga tinggi. Saham berpotensi memberi return di atas produk investasi lain. "Saham perbankan layak dicermati, karena kemungkinan naiknya net interest margin (NIM), seiring naiknya suku bunga kredit," terang dia. 

Kendati masih menarik, Martha menyarankan investor mengurangi porsi investasi saham dan memperbanyak porsi instrumen pasar uang dan obligasi. Alasannya, kenaikan bunga biasanya akan meningkatkan yield investasi di aset berisiko rendah. 

Baca Juga: BI Naikkan Suku bunga, Rupiah Diprediksi Akan Menguat Tipis

Rekomendasi Martha, jika biasanya porsi investasi di pasar uang 20%, 40% di obligasi dan 40% di saham, kini investor bisa memperbesar porsi di pasar uang jadi 30%, 40% di obligasi, dan 30% dalam bentuk saham. 

President dan CEO Pinnacle Persada Investama Guntur Putra juga menyarankan investor menempatkan dana di aset defensif. Investor bisa masuk ke saham asalkan memilih saham berfundamental baik dengan pertumbuhan  pendapatan yang positif. 

"Investor perlu menempatkan dana investasi sesuai dengan profil risiko dan tujuan investasi masing-masing," imbuh Guntur. Secara fundamental, ia menilai prospek instrumen investasi dalam negeri masih oke karena ekonomi Indonesia cukup tahan banting.

Ke depan, Martha menilai, selama ekonomi Indonesia tumbuh positif dan rupiah stabil, maka akan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga masih akan positif. 

Baca Juga: Simak Saran Racikan Portofolio di Tengah Era Kenaikan Suku Bunga
 

Bagikan

Berita Terbaru

Prospek Emiten RS Bakal Semakin Sehat Tahun Ini, Pilih Saham MIKA, HEAL atau SILO?
| Selasa, 20 Januari 2026 | 09:45 WIB

Prospek Emiten RS Bakal Semakin Sehat Tahun Ini, Pilih Saham MIKA, HEAL atau SILO?

Dominasi segmen pasien swasta yang memiliki margin lebih bagus diprediksi akan berlanjut tahun 2026.

Faktor Fundamental Memacu Laju Indeks Sektoral
| Selasa, 20 Januari 2026 | 08:38 WIB

Faktor Fundamental Memacu Laju Indeks Sektoral

Indeks sektoral saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat kinerja apik di sepanjang tahun 2026 berjalan.

Penjualan Semen Lambat di Akhir 2025, Tahun Ini Diproyeksi Sudah bisa Mulai Berlari
| Selasa, 20 Januari 2026 | 08:37 WIB

Penjualan Semen Lambat di Akhir 2025, Tahun Ini Diproyeksi Sudah bisa Mulai Berlari

Simak rekomendasi saham INTP dan SMGR serta proyeksi pemulihan pasar konstruksi yang berefek ke industri semen di kuartal II-2026.

Dirikan Anak Usaha Baru, Indika Energy (INDY) Memperluas Ekspansi Non Batubara
| Selasa, 20 Januari 2026 | 08:34 WIB

Dirikan Anak Usaha Baru, Indika Energy (INDY) Memperluas Ekspansi Non Batubara

PT Indika Energy Tbk (INDY) mendirikan perusahaan baru di bidang manufaktur kendaraan listrik komersial.​

Ekspansi Agresif dan Aksi Borong Prajogo Pangestu Jadi Amunisi Saham BREN
| Selasa, 20 Januari 2026 | 08:10 WIB

Ekspansi Agresif dan Aksi Borong Prajogo Pangestu Jadi Amunisi Saham BREN

Efek ekspansi kapasitas yang digelar PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) tidak akan terlihat seketika.

Geely Memulai Perakitan di Indonesia
| Selasa, 20 Januari 2026 | 07:58 WIB

Geely Memulai Perakitan di Indonesia

Kolaborasi PT Handal Indonesia Motor (HIM) menegaskan komitmen jangka panjang Geely untuk memperkuat fondasi industri otomotif nasional 

Psokan Gas Seret, Industri di Jawa Timur Terganggu
| Selasa, 20 Januari 2026 | 07:45 WIB

Psokan Gas Seret, Industri di Jawa Timur Terganggu

Pada Januari 2026, PGN menyurati pelanggan industri untuk menginformasikan kuota gas hanya diberikan di kisaran 43%–68%.

Simak Proyeksi Saham AALI di Tengah Beragam Tarik Ulur Kebijakan Industri Sawit
| Selasa, 20 Januari 2026 | 07:41 WIB

Simak Proyeksi Saham AALI di Tengah Beragam Tarik Ulur Kebijakan Industri Sawit

Beberapa hari terakhir harga saham PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) menunjukkan tanda-tanda tertekan.

Prabowo Tunjuk Ponakan, Pasar Khawatir Independensi BI Terancam, Rupiah Makin Anjlok
| Selasa, 20 Januari 2026 | 07:39 WIB

Prabowo Tunjuk Ponakan, Pasar Khawatir Independensi BI Terancam, Rupiah Makin Anjlok

Rupiah anjlok setelah Prabowo Subianto menominasikan keponakannya, yang juga Wakil Menteri Keuangan  Thomas Djiwandono, masuk Dewan Gubernur BI. 

Perdana di 2026, Dana Asing Kabur dari Bursa, Dampak Prabowo Tunjuk Ponakan ke BI?
| Selasa, 20 Januari 2026 | 07:22 WIB

Perdana di 2026, Dana Asing Kabur dari Bursa, Dampak Prabowo Tunjuk Ponakan ke BI?

Rekor terbaru itu di tengah terjadinya aksi jual bersih perdana di 2026, sebesar Rp 708,61 miliar. Juga di tengah rupiah yang semakin suram. 

INDEKS BERITA