Bunga The Fed Naik, Begini Efeknya Bagi IHSG, Rupiah, dan Yield SUN

Kamis, 28 Juli 2022 | 07:12 WIB
Bunga The Fed Naik, Begini Efeknya Bagi IHSG, Rupiah, dan Yield SUN
[ILUSTRASI. ilustrasi Suku Bunga, Jakarta (04/06). Kontan/Panji Indra]
Reporter: Akhmad Suryahadi, Aris Nurjani, Nur Qolbi, Yuliana Hema | Editor: Sanny Cicilia

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelaku pasar yakin suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat (AS) naik. Dampak kenaikan suku bunga ini akan terasa di pasar keuangan dalam negeri.

Di pasar saham, Head of Investment Reswara Gian Investa, Kiswoyo Adi Joe menilai, meski berdampak, efel sentimen kebijakan suku bunga The Fed terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan minim. Alasannya, pelaku pasar sudah priced in terhadap sentimen ini.

Pelaku pasar lebih mencermati laporan keuangan emiten di paruh pertama tahun ini. Kinerja keuangan yang positif diyakini akan mengerek harga saham, sehingga mengangkat IHSG secara keseluruhan.

Kendati begitu, karena ada sentimen kenaikan suku bunga The Fed, Kiswoyo menilai IHSG akan bergerak di fase sideways dengan rentang yang cukup lebar, yakni antara 6.500 sampai 7.000, dengan garis tengah 6.750. IHSG baru akan naik setelah Agustus-September. Proyeksi Kiswoyo, IHSG akan mencapai 7.500 hingga akhir tahun ini.

Head of Research NH Korindo Sekuritas Liza Camelia malah memprediksi, keputusan The Fed hari ini berpotensi jadi sentimen positif bagi IHSG. Ini dengan asumsi hasil rapat The Fed sesuai dengan ekspektasi pasar.

Namun, jika bunga The Fed naik sampai 100 basis poin, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus menuturkan,  potensi koreksi pasar terkoreksi akan terbuka. "Kalau diperhatikan, ketika jarak tingkat suku bunga antara The Fed dan Bank Indonesia semakin mengecil, daya tarik berinvestasi di Indonesia akan semakin berkurang dan akan mendorong capital outflow untuk terus terjadi," jelas Nico. 

Dia menekankan walaupun fundamental ekonomi Indonesia masih kuat, bursa saham punya volatilitas yang berbeda. Kendati begitu, Nico tetap mempertahankan proyeksi IHSG berada di level 7.380 di akhir tahun nanti.

 

Rupiah melemah

Pelaku pasar valuta asing juga berekspektasi Fed fund rate akan naik 75 basis poin. Ekonom Bank Mandiri Reny Eka Putri memprediksi, hari ini rupiah melemah tipis dan bergerak di kisaran Rp 14.955-Rp 15.052 per dollar AS.

Meski begitu, Reny tetap memperkirakan rupiah dapat menguat kembali ke kisaran Rp 14.700-Rp 14.800 per dolar AS pada akhir tahun. "Dengan asumsi kenaikan suku bunga The Fed sudah priced in, pertumbuhan ekonomi berlanjut, dan capital inflow kembali terjadi di pasar domestik," tutur Reny.

Presiden Komisioner HFX International Berjangka Sutopo Widodo juga memprediksi rupiah masih dimungkinkan menguji Rp 15.100 per dollar AS akibat kenaikan suku bunga The Fed. Akan tetapi, dampaknya akan terjadi dalam jangka pendek saja.

 

Yield SUN

Kondisi serupa juga terjadi di pasar obligasi. Pelaku pasar saat ini sudah mulai priced in dengan potensi kenaikan suku bunga The Fed 75 bps. Ini terlihat dari yield Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun yang turun ke 7,35% kemarin. Sebelumnya, yield sempat bertengger di atas 7,4%.

Yield US Treasury tenor 10 tahun juga melandai ke 2,76%. Yield surat utang AS ini sudah turun cukup banyak dari posisi pekan lalu, yang sempat menyentuh 3%.

Fixed Income Portfolio Manager Sucorinvest Asset Management Gama Yuki menjelaskan, yield obligasi cenderun turun karena pelaku pasar mengkhawatirkan potensi resesi. Alhasil, pelaku pasar mengamankan dana di instrumen surat utang negara.

Senior Economist Samuel Sekuritas Fikri C. Permana mengatakan, kenaikan suku bunga AS memang akan mengerek naik yield obligasi dalam negeri. Artinya, harga berpotensi turun.

Meski begitu, penurunan akan terkendali. "Tapi kalau bunga The Fed naik 100 bps, akan menimbulkan volatilitas yang cukup besar di pasar," papar Fikri.

Sejauh ini, spread obligasi negara AS dan Indonesia menyempit ke 455 bps, dari sebelumnya 470 bps. Meski begitu, Gama menilai, obligasi Indonesia masih lebih menarik dibandingkan dengan negara lain dengan rating sama.  

Dengan likuiditas pasar yang masih cukup besar dan  potensi investor asing masuk lagi,  yield SUN tenor 10 di akhir tahun ini akan kembali turun ke level 6,5%-6,8%.         

 

Bagikan

Berita Terkait

Berita Terbaru

Halo Jane (HALO) Bidik Pertumbuhan Dobel Digit
| Sabtu, 17 Januari 2026 | 14:10 WIB

Halo Jane (HALO) Bidik Pertumbuhan Dobel Digit

Manajemen HALO menjalankan strategi efisiensi biaya secara berkelanjutan, khususnya pada cost of production

Wintermar (WINS) Terus Mengembangkan Layar Bisnis
| Sabtu, 17 Januari 2026 | 14:02 WIB

Wintermar (WINS) Terus Mengembangkan Layar Bisnis

Namun, industri pelayaran selama tahun lalu masih menghadapi tekanan, terutama pada tingkat utilisasi dan harga sewa kapal.

WINS Optimalkan Pemulihan Permintaan Kapal dan Aktivitas Eksplorasi Energi
| Sabtu, 17 Januari 2026 | 12:00 WIB

WINS Optimalkan Pemulihan Permintaan Kapal dan Aktivitas Eksplorasi Energi

PT Wintermar Offshore Marine Tbk (WINS) melihat prospek industri pelayaran offshore tahun ini semakin membaik.

Suku Bunga Turun, Harga Bitcoin Bisa Cetak Rekor Lagi
| Sabtu, 17 Januari 2026 | 10:37 WIB

Suku Bunga Turun, Harga Bitcoin Bisa Cetak Rekor Lagi

Harga Bitcoin (BTC) sempat menembus US$ 97.000. Dalam sepekan, harga BTC mengakumulasi kenaikan 7,65%%.​

Kualitas Aset KUR Sejumlah Bank Terjaga di Level Baik
| Sabtu, 17 Januari 2026 | 10:13 WIB

Kualitas Aset KUR Sejumlah Bank Terjaga di Level Baik

KUR tidak hanya berfungsi sebagai pembiayaan, tetapi juga sebagai sarana pemberdayaan UMKM untuk memperkuat daya saing.

Rahasia Bos Krom Bank, Wisaksana Djawi Hindari Jebakan Return Investasi Tinggi
| Sabtu, 17 Januari 2026 | 09:16 WIB

Rahasia Bos Krom Bank, Wisaksana Djawi Hindari Jebakan Return Investasi Tinggi

Tanpa kesiapan mental dan pemahaman risiko, fluktuasi dan volatilitas harga bisa berujung pada kepanikan dan kerugian besar. 

Bonus atau Beban?
| Sabtu, 17 Januari 2026 | 06:10 WIB

Bonus atau Beban?

Bila pemerintah gagal menciptakan lapangan kerja yang memadai, tenaga kerja produktif tidak bisa jadi bonus demografi.

Perpres Transportasi Online Menunggu Aksi Merger GOTO dan Grab
| Sabtu, 17 Januari 2026 | 05:00 WIB

Perpres Transportasi Online Menunggu Aksi Merger GOTO dan Grab

Indikasi Peraturan Presiden soal transportasi online lebih condong menguntungkan para pengemudi online.

Rasio Pajak dan Cermin Keberanian Kekuasaan
| Sabtu, 17 Januari 2026 | 04:32 WIB

Rasio Pajak dan Cermin Keberanian Kekuasaan

Negara yang besar bukan negara yang pandai membuat target, melainkan negara yang berani menagih tanggung jawab dari yang paling mampu.

Dugaan Rekayasa dan Skema Ponzi DSI
| Sabtu, 17 Januari 2026 | 04:10 WIB

Dugaan Rekayasa dan Skema Ponzi DSI

DSI berhasil menghimpun dana masyarakat Rp 7,48 triliun. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp 6,2 triliun sempat dibayarkan sebagai imbal hasil.

INDEKS BERITA

Terpopuler