Centratama Menunda Penerbitan Global Bond US$ 500 Juta

Selasa, 02 Juni 2020 | 22:56 WIB
Centratama Menunda Penerbitan Global Bond US$ 500 Juta
[ILUSTRASI. Pada bulan september 2019, PT Centratama Menara Indonesia (anak perusahaan CENT yang bergerak dalam bidang penyediaan menara telekomunikasi) baru saja menandatangani perjanjian jual beli (CSPA) untuk pembelian 121 menara telekomunikasi dari salah satu per]
Reporter: Narita Indrastiti | Editor: Narita Indrastiti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Centratama Telekomunikasi Indonesia Tbk (CENT) menunda proses penerbitan surat utang global (global bond) senilai US$ 500 juta. Perusahaan menilai pasar obligasi masih belum kondusif akibat pandemi virus corona (Covid-19). 

"Pandemi Covid-19 memberikan ketidakpastian pasar internasional high yield bonds yang mengakibatkan perseroan masih menunda proses penerbitan surat utang sampai waktu yang tepat," ujar Yan Raymond Jafri, Direktur Utama Centratama dalam suratnya ke Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (2/6). 

Sejatinya, Centratama akan menerbitkan surat utang global melalui anak usahanya, PT Centratama Menara Indonesia (CMI). Penerbitan global bond ini untuk melunasi utang perusahaan dan menjaga likuiditas. 

Baca Juga: Si raja menara telekomunikasi masih akan akuisisi tower lagi

Karena penundaan itu, Centratama juga belum memproses pemeringkatan global bond tersebut. Dalam jawabannya ke BEI, Centratama juga menjelaskan alasan memilih surat utang dalam mata uang dollar Amerika Serikat (AS). 

"Ini karena fasilitas pinjaman yang akan dilunasi melalui penerbitan surat utang adalah dalam mata uang dollar AS," ujarnya. 

Centratama juga yakin, jika kondisi pasar internasional high yield bonds kondusif, surat utang ini bisa diserap pasar dengan baik. Selain itu, struktur surat utang yang tepat dan dukungan oleh investment bankers yang profesional juga diharapkan menjadi kunci penerbitan surat utang tersebut. 

Seharusnya, rapat umum Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) akan digelar pada 15 Mei 2020 untuk meminta izin atas penerbitan surat utang tersebut. 

Baca Juga: Pendapatan emiten menara telekomunikasi naik pada 2019, begini prospek bisnisnya

Sesuai keterangan di prospektus yang terbit 8 April lalu, penerbitan global bond dijamin dengan tanpa syarat dan tidak dapat ditarik lagi oleh perseroan. Batas maksimal kupon adalah 10% per tahun. Perusahaan akan menerbitkan surat utang dengan ketentuan Bursa Efek Singapura (SGX).

Sekadar mengingatkan, 1 April lalu, Centratama dan anak usahanya menarik pinjaman senilai US$ 331 juta  dari DBS Bank Ltd dan ING Bank N.V cabang Singapura. Perjanjian fasilitas pinjaman tersebut memiliki tenor 12 bulan sejak pencairan.

Baca Juga: Pendapatan 2019 tumbuh, begini saran analis untuk saham menara telekomunikasi

Adapun, selain Centratama, anak usaha yang ikut mencairkan pinjaman adalah CMI, PT Network Quality Indonesia, PT Mac Sarana Djaya, dan PT Fastel Sarana Indonesia.

Informasi saja,  Centratama menguasai sekitar 3.500 menara telekomunikasi dengan 5.300 penyewa sampai dengan Maret 2020. Pada Februari kemarin, Centratama telah membeli 1.054 menara telekomunikasi milik PT XL Axiata Tbk. Sebanyak 1.032 di antaranya sudah masuk tahap jual-beli secara sah dengan nilai Rp 1,58 triliun.

Namun begitu, tahun ini Centratama tetap berupaya melanjutkan pengembangan bisnis menara telekomunikasi dan distributed antenna system (DAS) secara organik maupun non organik. Mereka juga ingin semakin mendalami bisnis internet dan jaringan serat optik.

Bagikan

Berita Terbaru

Asing Masih Lepas ASII, Pemulihan Otomotif Belum Cukup
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 12:00 WIB

Asing Masih Lepas ASII, Pemulihan Otomotif Belum Cukup

Ketidakpastian hasil review MSCI serta transparansi tata kelola pasar modal menjadi faktor yang ikut mendorong arus net sell asingdari big caps.

Profitabilitas Emiten Cenderung Melandai dalam Dua Tahun Pemerintahan Prabowo
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 09:30 WIB

Profitabilitas Emiten Cenderung Melandai dalam Dua Tahun Pemerintahan Prabowo

Investor tampaknya lebih banyak mem-pricing risiko persepsi, ketidakpastian kebijakan pemerintah, dan persoalan kelembagaan.

Negara Kaji Pengecualian Pajak Bagi EGR
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 08:37 WIB

Negara Kaji Pengecualian Pajak Bagi EGR

Pembahasan mengenai perlakuan PPN dan PPh atas transaksi EGR telah dilakukan bersama Kementerian Keuangan

Mazda Hingga CoreWeave Disebut Antre Masuk Indonesia, Cermati BEST, DMAS, atau KIJA?
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 08:34 WIB

Mazda Hingga CoreWeave Disebut Antre Masuk Indonesia, Cermati BEST, DMAS, atau KIJA?

Peningkatan investasi asing tidak serta-merta bertranslasi ke kenaikan harga saham emiten kawasan industri.

Optimisme Terkikis, Konsumsi Makin Tipis
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 08:28 WIB

Optimisme Terkikis, Konsumsi Makin Tipis

Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) menurun selama tiga bulan berturut-turut                            

Ujian Independensi BI di Bawah Nahkoda Baru
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 08:11 WIB

Ujian Independensi BI di Bawah Nahkoda Baru

Destru Damayanti menjadi calon tunggal Gubernur Bank Indonesia menggantikan Perry Warjiyo           

 Digencet Depresiasi Rupiah Prospek Emiten Farmasi Masih bisa Cerah, KLBF atau SIDO?
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 08:03 WIB

Digencet Depresiasi Rupiah Prospek Emiten Farmasi Masih bisa Cerah, KLBF atau SIDO?

Sektor farmasi memiliki karakter defensif karena kebutuhan terhadap obat dan produk kesehatan bertahan di berbagai kondisi ekonomi.

Bursa Efek Indonesia Mengejar Pendalaman Pasar
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 07:42 WIB

Bursa Efek Indonesia Mengejar Pendalaman Pasar

Ekspansi pengembangan produk yang dilakukan Bursa Efek Indonesia (BEI) tetap harus mampu menjawab kebutuhan investor

Penjualan Masih Kuat, Laba Bersih ULTJ Semester Pertama Melonjak 73,7%
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 07:38 WIB

Penjualan Masih Kuat, Laba Bersih ULTJ Semester Pertama Melonjak 73,7%

Penjualan  PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ) mencapai Rp 5,49 triliun, naik 34,6% year-on-year (yoy)

Babak Baru Demutualisasi Bursa Efek Indonesia
| Selasa, 11 Agustus 2026 | 07:35 WIB

Babak Baru Demutualisasi Bursa Efek Indonesia

OJK tengah melakukan finalisasi aturan demutualisasi, Danantara siap masuk menjadi pemegang saham BEI

INDEKS BERITA

Terpopuler