KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Turut berduka cita atas bencana yang menimpa para korban banjir di Sumatra. Semoga bantuan juga cepat mengalir dan bisa segera diterima oleh para warga yang menjadi korban banjir.
Selain memastikan para korban yang terdampak segera mendapatkan penanganan terbaik, semua pihak juga harus mengupayakan agar kejadian serupa tidak terulang kembali di masa mendatang.
Banyak pakar menyebut, penyebab banjir ini adalah curah hujan ekstrem yang diperburuk oleh deforestasi. Berkurangnya area tutupan hutan ini membuat air hujan yang jatuh tidak terbendung, sehingga menyebabkan banjir besar.
Berkurangnya luas hutan masih jadi masalah lingkungan besar di Indonesia. Menurut laporan State of Climate Action 2025 yang dipublikasikan World Resources Institute (WRI) pada awal November ini, Indonesia termasuk 10 negara terbesar yang mengalami deforestasi terburuk di periode 2015 hingga 2024.
WRI menempatkan Indonesia sebagai negara dengan deforestasi terparah kedua sedunia. Indonesia hanya lebih baik dari Brasil, yang menempati posisi pertama dalam daftar negara dengan deforestasi terburuk.
Menurut catatan WRI, 10 negara dengan tingkat deforestasi total tertinggi antara 2015-2024 secara kolektif berkontribusi hampir dua pertiga dari seluruh deforestasi global di periode tersebut. Kontribusi deforestasi di Brasil mencapai 26%.
Sementara kontribusi deforestasi di Indonesia terhadap deforestasi global sebesar 11%. Kontribusi delapan negara lainnya semua satu digit, alias di bawah 10%.
Kabar baiknya, WRI menilai Indonesia termasuk salah satu negara yang berhasil memperlambat deforestasi. Kendati begitu, penurunan laju deforestasi di Indonesia dinilai masih tidak konsisten, bahkan melambat beberapa tahun terakhir.
Deforestasi di Indonesia juga dinilai masih pada tingkat yang mengancam kelangsungan keanekaragaman hayati. Karena itu, Indonesia dinilai perlu memperkuat kebijakan terkait lingkungan, memperkuat penegakan hukum, serta meningkatkan tatakelola dalam hal pengelolaan dan pelestarian lingkungan.
Indonesia sejatinya sudah memiliki program karbon net sink sektor kehutanan dan penggunaan lahan lainnya atawa forestry and other land use net sink (FOLU) 2030. Salah satu strateginya adalah pencegahan deforestasi. Tapi, tampaknya pemerintah masih harus lebih tegas dan bergerak lebih gesit untuk mengatasi masalah ini.
