Saham Emiten Penghuni KBMI I Bergerak Dinamis, Simak Apa Saja Pendorongnya
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan harga saham perbankan yang tergabung dalam Kelompok Bank Berdasarkan Modal Inti (KBMI) I cukup dinamis dan naik signifikan dalam beberapa hari belakangan.
Asal tahu saja, KBMI I ini diisi oleh sekitar 34 perbankan yang memiliki modal inti di bawah Rp 6 triliun. Pada penutupan pasar akhir pekan lalu. Jumat (28/11), beberapa saham bank penghuni KBMI I bertengger di zona merah, tetapi kompak menguat sepekan belakangan.
Sebagai contoh, pergerakan saham PT Bank Oke Indonesia Tbk (DNAR) yang melejit 66,40% lima hari belakangan ke posisi Rp 208. Tetapi, hari ini, saham DNAR berada di zona merah dengan koreksi 4,59%. PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) juga ditutup melemah 12,96% ke Rp 430 hari ini, namun pergerakannya dalam sepekan terakhir mencapai 12,57%..
Senada, PT Bank Raya Indonesia Tbk (AGRO) juga walau mencatat pelemahan pada penutupan pasar Jumat (28/11), sebesar 4,17% ke Rp 230, dalam sepekan terakhir menguat 1,77%. Setali tiga uang, PT China Construction Bank Indonesia Tbk (MCOR) hari ini juga ditutup melemah 1,30% ke Rp 76, setelah selama lima hari belakangan menguat 4,11%.
Baca Juga: Investor Asing Cabut, Bank Menambah Kepemilikan pada SRBI
Pergerakan saham emiten perbankan berkapitalisasi kecil tersebut memunculkan pertanyaan terkait faktor pendorong harga sahamnya. Maklum saja, belum lama ini Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sempat mengimbau kepada para penghuni KBMI I untuk naik kelas ke KBMI II dan menaikkan modal inti ke rentang Rp 6 triliun hingga Rp 14 triliun.
Aksi menghimpun permodalan, biasanya lumrah dilaksanakan melalui aksi korporasi rights issue atau private placement atau bahkan bergabung sebagai mitra strategis melalui aksi merger. Dengan demikian, berhembus rumor bahwa pergerakan saham perbankan KBMI I merupakan sinyal adanya aksi korporasi untuk menghimpun modal inti di atas Rp 6 triliun.
Namun, saat ditelusuri lebih lanjut, DNAR tidak memberikan kepastian aksi korporasi. Perseroan melalui Direktur Kepatuhan merangkap Sekretaris Perusahaan DNAR Efdinal Alamsyah hanya menyampaikan pihaknya terbuka dengan segala opsi strategis untuk menambah modal inti Perseroan yang per September 2025 lalu hanya mencapai Rp 3,73 triliun.
Baca Juga: OJK Minta Bank Evaluasi Kredit ke Pindar
"Kami akan mengevaluasi berbagai opsi strategis secara cermat dan bijaksana untuk meningkatkan modal inti perusahaan. Hal ini termasuk melakukan penambahan melalui rights issue maupun kemitraan strategis bersama pemegang saham dan pemangku kepentingan terkait," urai Efdinal kepada KONTAN belum lama ini.
Sementara itu, Head of Korea Investment Sekuritas Indonesia Muhammad Wafi menguatkan dugaan akan adanya aksi korporasi yang dilancarkan oleh penghuni KBMI I dalam waktu dekat. Terutama terkait dengan aksi penghimpunan dana modal inti.
Menurut dia, sektor perbankan kecil seperti KBMI I, sangat sensitif terhadap tema konsolidasi sehingga rumor kecil bisa menggerakkan harga pasar.
Baca Juga: Bank Syariah Siap Penuhi Aturan Baru OJK
"Katalis utama pergerakan saham perbankan kecil KBMI I ini, memang adalah ekspetasi naik kelas dan wajib menaikkan modal inti. Pasar memang melihat hal ini sebagai sinyal bahwa akan ada rights issue, private placement atau merger," ujar Wafi kepada KONTAN, Jumat (28/11).
Jadi, lanjut Wafi, spekulasi akan adanya aksi korporasi biasanya memang mendorong harga saham bank kecil.
Lebih jauh, Wafi memandang kebijakan OJK untuk menghapus KBMI I akan berimbas pada kemungkinan adanya potensi front run rights issue atau aksi korporasi lain. Dia juga memandang, jika benar KBMI I dinaikkan, maka valuasi beberapa bank kecil sudah naik jauh di depan fundamental, basis ekspektasi injeksi modal dan akuisisi strategis.
Namun risikonya, jika aksi korporasi tidak terjadi atau struktur rights issue dilusi, maka harga saham akan cepat terkoreksi. "Tetapi memang untuk bank yang prospek naik kelas tinggi, re-rating masih bisa berlanjut," ucap dia.
Analis senior Mirrae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta juga mengindahkan bahwa pergerakan harga saham yang naik tajam belakangan kemungkinan didorong ekspetasi pasar bahwa bank-bank kecil tersebut bakal meningkatkan modal untuk beralih dari KBMI I ke KBMI II. "Kita sudah mulai melihat aksi taking profit selain karena saham bank ini relatif kurang likuid juga karena masih berada di kategori KBMI I," ucap dia.
Baca Juga: Danantara Pastikan Proses Merger Goto-Grab Bergulir
Dengan demikian, jika KBMI I benar-benar dihapus oleh OJK atau adanya perubahan regulasi, maka wajar bila investor melakukan aksi profit taking lebih dulu.
Melihat kinerja perbankan kecil ini, Wafi juga mencermati perbankan KBMI I yang patut untuk diperhatikan kinerjanya ke depan adalah PT Bank Raya Indonesia Tbk (AGRO). Wafi menilai ekosistem PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang menaungi AGRO membuat kesiapan digital AGRO lebih mumpuni. Selain itu, penguatan modal AGRO juga lebih tinggi.
Hingga kuartal III-2025, AGRO menggenggam laba bersih Rp 41,97 miliar atau naik 23,9% dibandingkan dengan periode yang sama Rp 33,8 miliar. Capaian ini ditopang oleh kenaikan penyaluran kredit sebesar 7,1% year on year (YoY) menjadi Rp 7,27 triliun, dengan penyaluran kredit digital mencapai Rp20,61 triliun atau tumbuh 50,1% YoY, yang mendorong outstanding kredit hingga Rp2,73 triliun atau naik 52,1% YoY.
Dari sisi simpanan, total Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat sebesar Rp 9,15 triliun atau tumbuh 16,5% YoY. Pertumbuhan dana seiring dengan porsi CASA yang semakin membaik, terlihat dari peningkatan total CASA menjadi sebesar Rp 2,72 triliun atau tumbuh 38,8% YoY dengan rasio CASA sebesar 29,78%.
Pertumbuhan ini turut menopang total aset Bank Raya per September 2025 menjadi sebesar Rp 13,59 triliun atau meningkat 6,0% YoY. Rasio profitabilitas Bank Raya juga membaik yang tercermin dari peningkatan rasio NIM pada Kuartal III-2025 menjadi 5% dari sebelumnya 4,35%, serta rasio imbal hasil aset serta ekuitas yang masing-masing meningkat dari tahun sebelumnya.
Sementara dari sisi permodalan, perseroan masih memiliki modal dari rasio Total CAR sebesar 42,35% dan rasio Tier 1 CAR sebesar 41,55%. Hingga September 2025 pengguna Aplikasi Raya tercatat lebih dari 1,6 juta nasabah. Penggunaan transaksi Aplikasi Raya meningkat 45,4% dan mencapai 3,8 juta transaksi, dengan digital saving tercatat sebesar Rp 1,75 triliun atau tumbuh 61,4% YoY.
Selain AGRO, Wafi juga melihat PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) berpotensi untuk melaksanakan aksi korporasi walaupun turnaround lambat. BBYB juga baru saja menerima dukungan baru dari pemegang saham, PT Gozco Capital, yang menambah kepemilikan sebesar 72.452.676 saham.
Aksi korporasi tersebut disampaikan melalui laporan Keterbukaan informasi pada Rabu, 26 November 2025. Dari sisi kinerja keuangan, BBYB menunjukkan perbaikan signifikan.
Perseroan membukukan laba sebesar Rp 464 miliar atau melompat tajam 11.320,21% year on year (YoY) hingga kuartal III-2025. Hasil ini ditopang efisiensi operasional dan penguatan manajemen risiko.
Return on Assets (ROA) bank digital ini juga naik drastis menjadi 3,45% pada September 2025, jauh lebih tinggi dibandingkan 0,03% pada periode yang sama 2024. Return on equity (ROE) juga meningkat tajam menjadi 16,96%, dari hanya 0,16% pada September 2024.
Dalam keterangan resmi Perseroan, BBYB menjelaskan bahwa lonjakan profitabilitas tersebut mencerminkan strategi perseroan dalam mengoptimalkan produktivitas aset dan memanfaatkan modal secara efektif, khususnya untuk mendukung pertumbuhan kredit konsumen yang berkualitas.
Baca Juga: Harga Saham DNAR Lompat Kodok, Begini Kata Direktur OK Bank Soal Upaya Mengerek Modal
Perbaikan kualitas aset turut memperkuat fundamental BNC. Rasio kredit bermasalah (non-performing loan /NPL) kotor turun signifikan dari 3,72% pada September 2024 menjadi 2,92% pada kuartal III-2025. Adapun NPL net menurun dari 0,99% menjadi 0,23% pada periode yang sama.
"Penurunan NPL tersebut mencerminkan keberhasilan perseroan menjaga kualitas portofolio melalui proses seleksi debitur yang ketat, pemantauan risiko secara proaktif, serta mitigasi yang disiplin dan terukur," papar Direktur Bisnis Bank Neo, Commerce Aditya Windarwo dalam keterangan tertulisnya.
Sementara untuk DNAR dan MCOR, Wafi melihat keduanya murni bergerak karena permainan spekulasi dan minat investor terhadap rumor konsolidasi, bukan fundamental.
"Di sisi lain, untuk DNAR dan MCOR, bisa bergerak murni karena permainan spekulasi karena minat investor strategis dan rumor konsolidasi, bukan fundamental," tandas dia.
