Duit Masyarakat

Selasa, 14 April 2026 | 06:10 WIB
Duit Masyarakat
[ILUSTRASI. TAJUK - Thomas Hadiwinata (KONTAN/Indra Surya)]
Thomas Hadiwinata | Managing Editor

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah plus otoritas terkesan berniat memperluas perannya dalam industri perbankan. Pertanda terbarunya adalah rencana Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam merevisi aturan tentang penyusunan Rencana Bisnis Bank (RBB). 

Aturan penyusunan RBB yang berlaku saat ini adalah Peraturan OJK (POJK) No. 5/POJK.03/2016. Inti aturan itu, para bankir wajib menyusun rencana bisnis dengan mempertimbangkan faktor eksternal dan internal, prinsip kehati-hatian, manajemen risiko serta asas perbankan yang sehat.

Revisi atas aturan itu bertujuan agar bank tidak sekadar menjaga stabilitas sistim keuangan. OJK juga menginginkan perbankan turut berperan dalam mendukung akselerasi pembangunan nasional menlalui integrasi program prioritas.

Dalam bahasa yang lebih sederhana, OJK ingin agar bank menyiapkan dana untuk penyaluran kredit bagi program-program pemerintah. Dan, program utama pemerintah saat ini adalah Makan Bergizi Gratis (MBG), pembangunan Tiga Juta Rumah, dan pemberdayaan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). 

Sepintas, niat ini terkesan mengembalikan peran perbankan di masa sebelum reformasi. Di era Orde Baru, perbankan mengemban tugas sebagai agent of development. Sebagai agen pembangunan, bank harus ikut cawe-cawe dalam berbagai upaya pemerintah menumbuhkan ekonomi, termasuk membiayai aneka proyek, baik yang dijalankan langsung oleh pemerintah ataupun swasta.

Di Indonesia, skema pendanaan melalui pinjaman bank memang lebih populer ketimbang pendanaan melalui pasar modal. Dan, saat ini memang banyak pihak berharap bank lebih agresif dalam menyalurkan pendanaan.

Namun merujuk ke sejarah negeri ini, jika yang memiliki harapan semacam itu adalah pemerintah atau otoritas, yang terjadi adalah hal yang tidak diinginkan. Siapa juga yang benar-benar bisa memastikan penyaluran kredit masih berjalan dalam batas prinsip kehati-hatian serta asas perbankan yang sehat?

Di masa lalu, status sebagai agen pembangunan menjadi pembenaran bankir untuk mengucurkan dana masyarakat menjadi pinjaman. Termasuk ke proyek, milik pemerintah maupun swasta, yang tidak layak. 

Situasi ini yang perlu dicegah. Dan, baik pemerintah maupun OJK perlu mendengarkan suara publik. Mengingat, dana yang diputar bank sebagai pinjaman ke aneka proyek tersebut pada dasarnya adalah uang milik masyarakat.

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terkait

Berita Terbaru

ESG Tower Bersama (TBIG): Memacu Pertumbuhan yang Bertanggungjawab
| Senin, 22 Juni 2026 | 10:03 WIB

ESG Tower Bersama (TBIG): Memacu Pertumbuhan yang Bertanggungjawab

Ekspansi tetap PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) lakukan, meski terimbas konsolidasi operator dan dibayangi pelemahan rupiah

Arus Dana Asing di Saham Masih Maju-Mundur, Investor Tunggu Kepastian Kebijakan
| Senin, 22 Juni 2026 | 09:05 WIB

Arus Dana Asing di Saham Masih Maju-Mundur, Investor Tunggu Kepastian Kebijakan

Keberlanjutan arus masuk dana asing ditentukan oleh kemampuan pemerintah membangun kembali kepercayaan investor.

BI Menyempitkan Area Spekulasi Dolar
| Senin, 22 Juni 2026 | 09:04 WIB

BI Menyempitkan Area Spekulasi Dolar

BI menurunkan threshold transaksi valas tanpa underlying menjadi US$10.000 yang berlaku efektif mulai 1 Juli 2026

Celah Moral Hazard Surat Utang Khusus Danantara
| Senin, 22 Juni 2026 | 08:49 WIB

Celah Moral Hazard Surat Utang Khusus Danantara

Aturan perlindungan hukum secara khusus yang diatur dalam UU P2SK menuai kecemasan                  

Saham MAPI Resilien Terjang Gejolak Pasar, Ditopang Akumulasi Institusi Asing
| Senin, 22 Juni 2026 | 07:46 WIB

Saham MAPI Resilien Terjang Gejolak Pasar, Ditopang Akumulasi Institusi Asing

Karakteristik konsumen dari kalangan kelas menengah atas membuat struktur permintaan terhadap produk-produk yang dijajakan MAPI lebih kokoh.

Masuk Bisnis Nikel, FITT Jual Aset Hotel
| Senin, 22 Juni 2026 | 07:40 WIB

Masuk Bisnis Nikel, FITT Jual Aset Hotel

PT Hotel Fitra International Tbk (FITT) bakal divestasi aset hotelnya di Majalengka, Jawa Barat, dan beralih ke industri jasa pertambangan nikel.​

Emiten Jasa Migas Masih Ngegas Saat Harga Minyak Mentah Lemas
| Senin, 22 Juni 2026 | 07:37 WIB

Emiten Jasa Migas Masih Ngegas Saat Harga Minyak Mentah Lemas

Tren penurunan harga minyak belakangan ini belum menjadi sinyal berakhirnya siklus positif bagi sektor migas maupun turunannya. ​

Emiten Lesu Darah Akibat Tinggi Suku Bunga dan Pelemahan Rupiah
| Senin, 22 Juni 2026 | 07:29 WIB

Emiten Lesu Darah Akibat Tinggi Suku Bunga dan Pelemahan Rupiah

Era suku bunga tinggi dan semakin loyonya rupiah terhadap dolar AS, bisa menjadi tantangan bagi emiten dalam membayar utang dalam bentuk valas.

Berharap Penjualan Mobil LCGC Melaju
| Senin, 22 Juni 2026 | 07:26 WIB

Berharap Penjualan Mobil LCGC Melaju

Konsumen mempertimbangkan dari sisi harga, besaran uang muka atau Down Payment (DP), cicilan bulanan, biaya operasional bulanan.

Mark Dynamics Indonesia (MARK) Kebanjiran Pesanan dari Pasar Ekspor
| Senin, 22 Juni 2026 | 07:13 WIB

Mark Dynamics Indonesia (MARK) Kebanjiran Pesanan dari Pasar Ekspor

MARK menjadi salah satu pemasok utama cetakan sarung tangan bagi produsen sarung tangan di Malaysia, Vietnam, Thailand, dan China.

INDEKS BERITA

Terpopuler