Tekanan Jual Hantam Emiten Berkapitalisasi Besar, Sinyal Indonesia Bakal Turun Kelas?

Senin, 25 Mei 2026 | 05:50 WIB
Tekanan Jual Hantam Emiten Berkapitalisasi Besar, Sinyal Indonesia Bakal Turun Kelas?
[ILUSTRASI. IHSG ditutup melemah (ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto)]
Reporter: Amalia Nur Fitri | Editor: Yuwono Triatmodjo

KONTAN.CO.ID- JAKARTA. Tekanan jual investor asing yang tercermin di pasar saham Indonesia konsisten terjadi jelang masa efektif rebalancing indeks MSCI pada 29 Mei 2026 mendatang.

Sejak pengumuman MSCI Pada 13 Maret 2026 lalu, sejumlah saham berkapitalisasi besar menjadi sasaran aksi jual asing, hal ini terlihat dari saham perbankan raksasa hingga emiten konglomerasi dan komoditas.

Dari aktivitas yang ada, data perdagangan menjukkan setidaknya ada 10 saham yang paling banyak dilepas investor asing yaitu PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Persero Tbk (BBRI), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Dian Swastika Sentosa Tbk (DSSA), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Annam Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Astra International Tbk (ASII), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM).



Aksi jual yang terjadi tersebut seakan-akan menimbulkan spekulasi di kalangan pelaku pasar bahwa Indonesia mulai menghadapi resiko penurunan status dari MSCI Emerging Market menjadi Frontier Market.

Pengamat Pasar Modal Reydi Octa menilai aksi jual asing saat ini memang tidaklah semata-mata dipicu faktor teknikal rebalancing indeks MSCI. Ia menilai investor global mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap terhadap kualitas struktural pasar modal Indonesia.

Baca Juga: Saham Komoditas Jadi Penyelamat IHSG, Arah Bursa Masih Rentan Ambruk

"Tekanan jual asing saat ini betul memang bukan hanya karena faktor teknikal rebalancing MSCI, tetapi juga mulai mencerminkan peningkatan kehati-hatian para investor global terhadap pasar Indonesia," tutur Reydi kepada KONTAN belum lama ini.

Ia melanjutkan, isu free float, kebijakan full call auction atau HSC (high shareholding concentration), likuiditas pasar hingga konsentrasi kepemilikan saham kini menjadi perhatian utama investor global. Hal ini juga menyimpan arti bahwa pasar mulai melakukan penyesuian terhadap persepsi risiko Indonesia secara lebih struktural.

Asal tahu saja, dalam beberapa tahun terakhir MSCI memang semakin menyorot aspek aksesibilitas pasar dan kualitas likuiditas di negara berkembang. Di awal tahun ini saja yakni pada 28 dan 29 Januari, pasca pasar saham Indonesia mengalami stock crash membuat dana asing US$ 80 miliar melayang, media internasional The Diplomat sudah mewanti-wanti kejadian tersebut sebagai peringatan bahwa investor asing tidak lagi tertarik menyimpan dana di pasar yang terlalu didominasi oleh keluarga berpengaruh.

Kejadian tersebut berbuntut himbauan dari lembaga indeks global kepada pasar saham domestik untuk lebih ketat memperhatikan free float yang benar-benar tersedia diperdagangkan publik.

Ini Artikel Spesial
Agar bisa lanjut membaca sampai tuntas artikel ini, pastikan Anda sudah berlangganan.
Sudah Berlangganan?
Berlangganan dengan Google
Gratis uji coba 7 hari pertama dan gunakan akun Google sebagai metode pembayaran.
Business Insight
Artikel pilihan editor Kontan yang menyajikan analisis mendalam, didukung data dan investigasi.
Kontan Digital Premium Access
Paket bundling Kontan berisi Business Insight, e-paper harian dan tabloid serta arsip e-paper selama 30 hari.
Masuk untuk Melanjutkan Proses Berlangganan
Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Nasib BI Tanpa Tangan Dingin Perry
| Senin, 03 Agustus 2026 | 04:16 WIB

Nasib BI Tanpa Tangan Dingin Perry

Mungkin juga masih ada sejumlah kebijakan Bank Indonesia yang bertentangan dengan Kementerian Keuangan.

Hobi Unik Bos  Harta Djaya Karya (MEJA): Koleksi Jersey hingga Jam Tangan Lawas
| Minggu, 02 Agustus 2026 | 15:32 WIB

Hobi Unik Bos Harta Djaya Karya (MEJA): Koleksi Jersey hingga Jam Tangan Lawas

Dari sekian banyak koleksim ada dua yang paling ia banggakan. Pertama, jersey Bryan Robson, pemain Inggris, lengkap dengan tanda tangan asli.

Direktur Harta Djaya Karya Venantius Agung: Optimis Pada Prospek Emas Fisik
| Minggu, 02 Agustus 2026 | 10:44 WIB

Direktur Harta Djaya Karya Venantius Agung: Optimis Pada Prospek Emas Fisik

Venantius Agung Passionoraga tetap setia pada satu instrumen yang telah menemani lebih dari tiga dekade, yakni emas fisik.

Investor Masih Berhati-Hati, Kurva Imbal Hasil Obligasi Bergerak Mendatar
| Minggu, 02 Agustus 2026 | 10:38 WIB

Investor Masih Berhati-Hati, Kurva Imbal Hasil Obligasi Bergerak Mendatar

Investor meminta premi tinggi di tengah ketidak pastian fiskal dan prospek ekonomi yang belum pulih.

Jangan Belanja untuk Senang, Merana Kemudian
| Minggu, 02 Agustus 2026 | 09:15 WIB

Jangan Belanja untuk Senang, Merana Kemudian

Simak tanda-tanda terjebak doom spending, dan bagaimana cara mengatasinya.                          

Rapor Juli Positif, Bisakah Reksadana Saham Cuan Tahun Ini?
| Minggu, 02 Agustus 2026 | 08:35 WIB

Rapor Juli Positif, Bisakah Reksadana Saham Cuan Tahun Ini?

Rata-rata reksadana saham cetak kinerja positif sebulan terakhir. Namun, menutup tahun ini dengan kinerja positif, masih akan menantang.

Kapan Waktu yang Tepat Bagi Investor Melakukan Profit Taking?
| Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:05 WIB

Kapan Waktu yang Tepat Bagi Investor Melakukan Profit Taking?

Profit taking terencana bukan tanda hilangnya keyakinan terhadap pasar. Melainkan menjaga hasil jerih payah agar tidak menguap.

Jersey Lokal Meraup Peluang Saat Demam Olahraga Meradang
| Minggu, 02 Agustus 2026 | 00:34 WIB

Jersey Lokal Meraup Peluang Saat Demam Olahraga Meradang

Tren olahraga kini melanda berbagai kalangan, seperti apa pengaruhnya ke bisnis jersey lokal dalam negeri?

Cabai Gendot dari Dieng yang Super Pedas
| Minggu, 02 Agustus 2026 | 00:11 WIB

Cabai Gendot dari Dieng yang Super Pedas

​Di Jawa Barat, cabai gendot dikenal dengan nama cabai tit super, tit paris dan jatilaba. Asal-usul nama tit super dan tit paris tidak jelas.

Angkutan Antarkota Topang Bisnis Weha Transportasi Indonesia (WEHA)
| Sabtu, 01 Agustus 2026 | 20:10 WIB

Angkutan Antarkota Topang Bisnis Weha Transportasi Indonesia (WEHA)

Pertumbuhan pendapatan ditopang bisnis jasa angkutan antarkota yang meningkat 16,7% yoy selama semester I-2026

INDEKS BERITA