Tekanan Jual Hantam Emiten Berkapitalisasi Besar, Sinyal Indonesia Bakal Turun Kelas?
KONTAN.CO.ID- JAKARTA. Tekanan jual investor asing yang tercermin di pasar saham Indonesia konsisten terjadi jelang masa efektif rebalancing indeks MSCI pada 29 Mei 2026 mendatang.
Sejak pengumuman MSCI Pada 13 Maret 2026 lalu, sejumlah saham berkapitalisasi besar menjadi sasaran aksi jual asing, hal ini terlihat dari saham perbankan raksasa hingga emiten konglomerasi dan komoditas.
Dari aktivitas yang ada, data perdagangan menjukkan setidaknya ada 10 saham yang paling banyak dilepas investor asing yaitu PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Persero Tbk (BBRI), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Dian Swastika Sentosa Tbk (DSSA), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Annam Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Astra International Tbk (ASII), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM).
Aksi jual yang terjadi tersebut seakan-akan menimbulkan spekulasi di kalangan pelaku pasar bahwa Indonesia mulai menghadapi resiko penurunan status dari MSCI Emerging Market menjadi Frontier Market.
Pengamat Pasar Modal Reydi Octa menilai aksi jual asing saat ini memang tidaklah semata-mata dipicu faktor teknikal rebalancing indeks MSCI. Ia menilai investor global mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap terhadap kualitas struktural pasar modal Indonesia.
Baca Juga: Saham Komoditas Jadi Penyelamat IHSG, Arah Bursa Masih Rentan Ambruk
"Tekanan jual asing saat ini betul memang bukan hanya karena faktor teknikal rebalancing MSCI, tetapi juga mulai mencerminkan peningkatan kehati-hatian para investor global terhadap pasar Indonesia," tutur Reydi kepada KONTAN belum lama ini.
Ia melanjutkan, isu free float, kebijakan full call auction atau HSC (high shareholding concentration), likuiditas pasar hingga konsentrasi kepemilikan saham kini menjadi perhatian utama investor global. Hal ini juga menyimpan arti bahwa pasar mulai melakukan penyesuian terhadap persepsi risiko Indonesia secara lebih struktural.
Asal tahu saja, dalam beberapa tahun terakhir MSCI memang semakin menyorot aspek aksesibilitas pasar dan kualitas likuiditas di negara berkembang. Di awal tahun ini saja yakni pada 28 dan 29 Januari, pasca pasar saham Indonesia mengalami stock crash membuat dana asing US$ 80 miliar melayang, media internasional The Diplomat sudah mewanti-wanti kejadian tersebut sebagai peringatan bahwa investor asing tidak lagi tertarik menyimpan dana di pasar yang terlalu didominasi oleh keluarga berpengaruh.
Kejadian tersebut berbuntut himbauan dari lembaga indeks global kepada pasar saham domestik untuk lebih ketat memperhatikan free float yang benar-benar tersedia diperdagangkan publik.
