Berita

Ekonomi Global Masih Suram, Pemerintah Hati-Hati Pasang Target Pertumbuhan di 2020

Senin, 19 Agustus 2019 | 07:45 WIB

ILUSTRASI. Presiden serahkan RUU APBN 2020 beserta Nota Keuangan

KONTAN.CO.ID - JAKARTA.  Pemerintah memprediksi ekonomi belum tumbuh tinggi di tahun depan. Lihat saja asumsi target pertumbuhan ekonomi di Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2020 yang hanya 5,3%. Memang, angka itu masih lebih tinggi jika dibandingkan dengan proyeksi realisasi tahun ini yang sebesar 5,1%.

"Pertumbuhan ekonomi 2020 akan berada pada tingkat 5,3% dengan konsumsi dan investasi sebagai motor penggerak utamanya," ujar Presiden Joko Widodo saat menyampaikan pidato Nota Keuangan RAPBN 2020, pekan lalu.

Kendala yang bisa menghadang laju ekonomi tahun depan masih seputar tekanan ekonomi global. Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China belum berakhir mengakibatkan perdagangan antar negara terganggu, hingga melambatkan pertumbuhan ekonomi dunia.

Menteri Keuangan Sri Mulyani menyebut, lembaga-lembaga keuangan internasional membuat proyeksi perlambatan pertumbuhan ekonomi global. "Ekonomi dunia melemah menjadi risiko penyebab lesunya pertumbuhan. Dari sisi perdagangan internasional juga diproyeksi lebih lemah dibandingkan dengan 2018 dan 2019. Kami harus mewaspadai risiko itu dalam APBN," katanya.

Menkeu berharap, saat eksternal berkecamuk, ada perbaikan dari sisi internal. Ia menyebut arus modal masuk ke Indonesia cukup baik. Nilainya mencapai Rp 189,1 triliun per Juli 2019. Arus masuk dana asing turut menguatkan kurs rupiah terhadap dollarAS.

Baca Juga: Setebal 23 halaman, ini isi lengkap dari pidato APBN 2020 Presiden Jokowi

Agar mendorong pertumbuhan investasi, Menkeu menyebut, pemerintah rela memberikan insentif perpajakan. Ia menyebut sepanjang 2018 lalu pemerintah telah memberikan manfaat dari insentif perpajakan senilai kurang lebih Rp 221 triliun.

Menkeu menyadari harapan masyarakat saat ekonomi melemah adalah ingin APBN lebih ekspansif. "Kami mencari pengimbang yang cukup dengan kehati-hatian. Kami tidak akan terlalu cepat untuk mengetatkan fiskal karena kami harus melakukan penetralan atas pelemahan global," kata mantan Direktur Eksekutif Bank Dunia ini.

Pada Nota Keuangan RAPBN 2020, pemerintah memperkirakan nilai produk somestik bruto Indonesia secara nominal mencapai Rp 17.464,8 triliun. Penyumbang pertumbuhan PDB berasal dari konsumsi masyarakat yang diprediksi meningkat sebesar 4,9%. Pemeritah berupaya mempertahankan daya beli masyarakat berpenghasilan rendah agar tingkat konsumsi bisa terjaga sesuai target tersebut.

Konsumsi pemerintah diprediksi tumbuh sekitar 4,9% dibandingkan dengan tahun lalu.

Baca Juga: Jokowi: Belanja negara tahun 2020 juga fokus kurangi ketimpangan antarwilayah 

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Rizal Taufikurahman menilai, asumsi pertumbuhan ekonomi yang dipatok pemerintah untuk tahun depan tidak beranjak ke mana-mana. Ini lantaran target yang ditetapkan tersebut sama dengan target yang ditetapkan dalam APBN 2019.

"Ini menunjukkan bahwa perekonomian nasional sedang stagnan. Artinya, perekonomian Indonesia 2020 tidak jauh lebih baik dari tahun 2019 ini," ujar Rizal, Jumat (16/8).

Apalagi, target pertumbuhan 5,3% tersebut akan dicapai dengan mengandalkan pertumbuhan konsumsi dan investasi sebagai motor penggerak utamanya. Padahal, menurut Rizal, kedua indikator tersebut masih belum memberikan sinyal yang lebih baik sesuai harapan hingga semester I-2019 lalu.

Pertumbuhan konsumsi rumah tangga, misalnya, hanya naik 5,1% secara tahunan hingga semester I-2019. Sementara, pertumbuhan investasi yang tecermin dari pembentukan modal tetap bruto (PMTB) hanya 5,02%.

"Target investasi masih belum memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi triwulan II-2019. Termasuk juga daya beli yang perlu digenjot lagi, agar konsumsi masyarakat semakin meningkat," kata Rizal.

Baca Juga: Jokowi: Tantangan ekonomi ke depan semakin berat

Peneliti INDEF Abdul Manap Pulungan juga menilai, target pertumbuhan ekonomi 5,3% sangat sulit tercapai di tahun depan. Sebab, berdasarkan catatannya, pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang periode 2015-2019 yang tertinggi hanya 5,27%, yaitu pada kuartal II-2018. Apalagi kondisi global semakin berat, pertumbuhan 5,3% itu sulit," tutur Pulungan.

Pulungan melihat terhambatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia akibat menurunnya peranan sektor-sektor padat karya seperti pertanian, tambang, dan industri pengolahan. Sementara, dari sisi permintaan, perekonomian Indonesia juga belum masuk ke aktivitas produktif.

Hal ini terlihat dari masih rendahnya pertumbuhan investasi. "Pertumbuhan PMTB pada kuartal I dan II 2019 di bawah pertumbuhan ekonomi, ini mengkhawatirkan," tutur Pulungan.

Reporter: Grace Olivia
Editor: Thomas Hadiwinata

IHSG
6.231,47
0.21%
-13,00
LQ45
980,77
0.21%
-2,03
USD/IDR
14.085
-0,10
EMAS
756.000
0,53%

Baca juga