Ekspansi Sunindo Cetak Hasil Positif

Sabtu, 07 September 2024 | 11:41 WIB
Ekspansi Sunindo Cetak Hasil Positif
[ILUSTRASI. PT Sunindo Pratama Tbk (SUNI) mencetak kinerja positif di separuh pertama tahun ini./pho KONTAN/Carolus Agus Waluyo/12/06/2024.]
Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Narita Indrastiti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri minyak dan gas (migas) masih menjadi ladang yang potensial untuk mendulang cuan. PT Sunindo Pratama Tbk (SUNI) pun mencetak kinerja positif di separuh pertama tahun ini.

Pendapatan dan laba bersih SUNI kompak menanjak, hingga mencapai rekor perolehan laba tertinggi sejak perusahaan ini berdiri pada September 2002 silam. SUNI merupakan emiten yang bergelut pada aktivitas penunjang migas, terutama menyediakan berbagai produk pipa untuk migas, atau oil country tubular goods (OCTG) tubing.

Performa bisnis SUNI ditopang oleh anak usahanya, PT Rainbow Tubulars Manufacture (RTM). Perusahaan ini merupakan pionir manufaktur OCTG tubing di Indonesia dengan standar American Petroleum Institute (API)- 5CT serta telah mencapai Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).

SUNI meraup penjualan sebesar Rp 522,39 miliar pada semester I-2024. Penjualan SUNI melejit 98,44% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yang kala itu Rp 263,24 miliar. Ini mendorong laba bersih SUNI menjadi Rp 124,17 miliar, naik 178,65% secara tahunan.

Baca Juga: Prajogo Pangestu Jual 12,41 Juta Saham CUAN

Direktur Keuangan Sunindo Pratama, Freddy Soejandy mengatakan, rekor perolehan laba bersih SUNI pada semester I-2024 itu telah melewati target yang dicanangkan untuk tahun ini. SUNI memproyeksikan bisa meraup penjualan sebesar Rp 923,6 miliar dan laba bersih Rp 109,3 miliar pada tahun 2024.

Jumlah itu mencerminkan pertumbuhan masing-masing 21,14% dan 8% dibandingkan capaian tahun 2023. Freddy bilang, kinerja SUNI pada semester pertama ditopang oleh penjualan produk OCTG tubing yang diproduksi sendiri.

Penjualan SUNI juga ditopang oleh segmen OCTG casing serta wellhead dan christmas tree melalui trading. Di industri migas christmas tree adalah alat untuk mengatur aliran pipa.

"Ke depan, kami tetap berfokus pada produk-produk tersebut. Kami juga sedang mengembangkan produk-produk lain," ungkap Freddy kepada KONTAN, Jumat (6/9).

Dalam keterangan sebelumnya, Direktur Utama Sunindo Pratama Willy Johan Chandra membeberkan lonjakan kinerja ini sejalan dengan implementasi langkah-langkah strategis SUNI pada tahun ini. SUNI mengejar pertumbuhan bisnis dari potensi captive market Indonesia untuk produk OCTG tubing.

"Keberhasilan memenangkan tender yang signifikan memberikan peluang bagi kami untuk dapat meningkatkan kinerja," ungkap Willy.

SUNI pun aktif mengejar kontrak anyar. Terbaru, SUNI memenangkan tender dari PT Pertamina EP dengan nilai US$ 3,79 juta untuk pengadaan casing low grade 7 inch dan pengadaan casing low grade (TFC Tahap II) dengan nilai US$ 1,61 juta. Transaksi ini diharapkan akan memberikan kontribusi positif terhadap kinerja operasional dan keuangan pada tahun 2024 dan 2025.

Dorong kapasitas

SUNI akan terus memperluas pasar dengan menyasar perusahaan migas atau Kontraktor Kontrak Kerja Saham (KKKS) sebagai konsumen atau end user pengguna produk. SUNI pun membidik peluang dari target pemerintah yang ingin mencapai produksi siap jual (lifting) 1 juta barel per hari pada tahun 2030.

Saat ini, produksi migas di Indonesia mencapai sekitar 600.000 barel per hari. Sehingga untuk mencapai target tersebut, akan ada peningkatan aktivitas pengeboran sumur-sumur migas di Indonesia.

"Diharapkan bisa ikut meningkatkan permintaan terhadap produk kami," katanya.

Baca Juga: Penjualan Rata-Rata Tiap Toko Alfamart (AMRT) Tumbuh Sepanjang Juli 2024

Apalagi, RTM saat ini diklaim sebagai satu-satunya produsen tubing di Indonesia. Adanya aturan mengenai syarat TKDN membuat peluang RTM sebagai produsen lokal semakin terbuka untuk memenuhi permintaan pasar.

"Permintaan casing diharapkan dapat terus meningkat sehingga SUNI berusaha untuk mendapatkan tender-tender dari KKKS," katanya.

Sebagai upaya mengejar peluang itu, SUNI menggelar ekspansi dengan membangun fasilitas pabrik untuk meningkatkan kapasitas produksi in-house milik RTM di Batam. Fasilitas Plant II RTM ini ditargetkan dapat beroperasi pada tahun 2025.

Melalui ekspansi ini, SUNI mengejar peningkatan kapasitas produksi tubing dari 25.000–30.000 ton menjadi 60.000–70.000 ton per tahun. Selain itu, SUNI juga dalam proses penyelesaian proses sertifikasi API/TKDN untuk workshop di anak perusaahaan yang lain, yakni PT Petro Synergy Manufacture (PSM) untuk produk wellhead dan christmas tree.

Untuk ekspansi itu, SUNI menganggarkan belanja modal (capex) sebesar Rp 327,4 miliar. Hingga Juni 2024, SUNI telah menyerap capex Rp 82,6 miliar, untuk pembelian mesin dan proses awal konstruksi Plant II RTM.

Bagikan

Berita Terbaru

Opsi Realokasi Anggaran Negara untuk Penanganan Gempa NTT
| Rabu, 19 Agustus 2026 | 10:05 WIB

Opsi Realokasi Anggaran Negara untuk Penanganan Gempa NTT

Dewan Perwakilan Rakyat mendorong realokasi anggaran untuk mempercepat pemulihan pasca gempa Nusa Tenggara Timur (NTT).

 KKI Disebut Tak Gusur Posisi Visa dan Mastercard
| Rabu, 19 Agustus 2026 | 10:03 WIB

KKI Disebut Tak Gusur Posisi Visa dan Mastercard

Kartu Kredit Indonesia (KKI) hadir sebagai pemain baru di sistem pembayaran domestik akan berjalan berdampingan dengan Visa dan Mastercard.

Partitokrasi: Negara dalam Cengkeraman Partai
| Rabu, 19 Agustus 2026 | 09:55 WIB

Partitokrasi: Negara dalam Cengkeraman Partai

Monopoli partai dalam pencalonan harus dipatahkan. Keuangan partai dan sumber dananya harus dibuka kepada publik.

Mimpi Naik Kelas
| Rabu, 19 Agustus 2026 | 09:42 WIB

Mimpi Naik Kelas

Indonesia butuh investasi yang menghasilkan pekerjaan yang akhirnya menjadikan masyarakat mampu naik kelas.

Sentimen Profit Taking dan Bi Rate, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini, Rabu (19/8)
| Rabu, 19 Agustus 2026 | 08:53 WIB

Sentimen Profit Taking dan Bi Rate, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini, Rabu (19/8)

Investor hari ini akan mencermati rilis suku bunga acuan alias BI rate. Secara teknikal ada kemungkinan investor akan melakukan profit taking. 

Penjualan Meningkat, Kerugian Bersih FAST Mulai Menyusut
| Rabu, 19 Agustus 2026 | 08:49 WIB

Penjualan Meningkat, Kerugian Bersih FAST Mulai Menyusut

FAST membukukan pendapatan sebesar Rp 2,79 triliun, naik 16,1% dibandingkan Rp 2,40 triliun pada semester I-2025. 

Tekanan MSCI Mereda, Saham Bahan Baku Berpeluang Melaju
| Rabu, 19 Agustus 2026 | 08:43 WIB

Tekanan MSCI Mereda, Saham Bahan Baku Berpeluang Melaju

Kenaikan harga emas, prospek hilirisasi dan pemulihan minat investor terhadap saham komoditas menjadi sejumlah katalis sektor ini

Saham IMAS Mulai Menggeliat, Ekspansi Mobil China Termasuk Hongqi Picu Turnaround?
| Rabu, 19 Agustus 2026 | 08:29 WIB

Saham IMAS Mulai Menggeliat, Ekspansi Mobil China Termasuk Hongqi Picu Turnaround?

Data penjualan pada kuartal III-2026 salah satu indikator awal untuk melihat apakah ekspansi bisnis baru IMAS mulai memberikan dampak nyata.

Sinyal Turnaround di Saham HRUM, Kinerja di Semester II-2026 Bakal Jadi Penentu
| Rabu, 19 Agustus 2026 | 08:11 WIB

Sinyal Turnaround di Saham HRUM, Kinerja di Semester II-2026 Bakal Jadi Penentu

Konfirmasi turnaround HRUM baru akan terlihat apabila sejumlah indikator operasional mulai menunjukkan perbaikan secara bersamaan.

JARR, TEBE, PGUN hingga PACK Rally, Efek Spillover Rumor Akuisisi BYAN Oleh Haji Isam
| Rabu, 19 Agustus 2026 | 07:53 WIB

JARR, TEBE, PGUN hingga PACK Rally, Efek Spillover Rumor Akuisisi BYAN Oleh Haji Isam

Setiap emiten memiliki prospek, struktur bisnis, fundamental, serta tingkat sensitivitas yang berbeda-beda terhadap akuisisi BYAN.

INDEKS BERITA

Terpopuler