Emiten Kepincut Kilau Bisnis Pertambangan Emas

Rabu, 24 April 2019 | 08:28 WIB
Emiten Kepincut Kilau Bisnis Pertambangan Emas
[]
Reporter: Ika Puspitasari | Editor: Yuwono Triatmodjo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bisnis tambang emas memang menyilaukan. Prospek bisnis yang stabil membuat sejumlah emiten pertambangan batubara mulai mendiversifikasikan bisnisnya ke bisnis logam mulia itu.

Salah satunya, PT United Tractors Tbk (UNTR). Tahun lalu, perusahaan ini mengakuisisi 95% saham PT Agincourt Resources, yang memiliki tambang emas Martabe di Sumatra Utara.

Sekretaris Perusahaan UNTR, Sara K. Loebis mengatakan, selain memiliki prospek yang cerah, diversifikasi bisnis ini bertujuan untuk menyeimbangkan bisnis UNTR selain bidang non-thermal. Langkah ini sekaligus strategi perusahaan di tengah harga batubara yang fluktuatif.

Melalui anak usahanya PT Danusa Tambang Nusantara, UNTR membidik produksi emas sebanyak 350.000 oz pada tahun 2019. Sampai kuartal I-2019 ini, UNTR sudah berhasil memproduksi sebanyak 97.000 oz.

Asal tahu saja, UNTR menggelontorkan dana sekitar US$ 50 juta untuk kegiatan operasional tambang emas ini. Dana itu diperoleh dari internal Agincourt Resources dan akan terkonsolidasi dalam total belanja modal atau capital expenditure (capex) UNTR.

Selain memaksimalkan produksi, tahun ini, Agincourt Resources secara berkelanjutan akan melakukan eksplorasi untuk menemukan tambahan cadangan emas pada wilayah yang belum dilakukan eksplorasi, serta pada wilayah operasi untuk menentukan target produksi.

Berdasarkan data per Desember 2017, tambang emas Martabe memiliki cadangan 4,7 juta oz. Untuk informasi cadangan terbaru saya cek dulu, target produksi tahun ini 350.000 oz, ungkapnya pada Kontan, Selasa (23/4).

Senada dengan itu, di tahun ini, PT Renuka Coalindo Tbk (SQMI) tinggal menadah hasil pendapatan dari produksi emas.

SQMI lebih memilih beralih ke pertambangan mineral dengan mempertimbangkan sejumlah alasan. Salah satunya, harga komoditas ini lebih stabil. Direktur Independen SQMI, Irwan Darmawan bilang, lokasi tambang yang tengah digarap memiliki potensi yang cukup menjanjikan.

Tahun ini, mereka menargetkan produksi emas 19.000 oz. Target pendapatan kita tahun ini sekitar US$ 22 juta hasil dari produksi 10.000 oz dengan harga US$ 1.250 per oz, katanya, Selasa (23/4).

Garapan tambang emas Renuka bernama Ciemas Gold Project. Saat ini, SQMI mempunyai 10 lokasi yang bisa menambah sumber daya yang ada. Dari 10 lokasi yang ada, baru ada enam lokasi yang dilakukan eksplorasi. Ke depan, mereka juga akan menambah sumber daya dengan terus melakukan eksplorasi lanjutan.

Managing Director and CEO PT Indika Energy (INDY), Azis Armand mengatakan, lewat mekanisme private placement, (INDY) juga mengakuisisi 19,9% saham perusahaan tambang asal Australia yakni Nusantara Resources akhir tahun 2018.

Cadangan tambang emas perusahaan ini mencapai 1,2 juta oz. Jka sesuai jadwal, perusahaan ini mulai berproduksi emas pada tahun 2021, dengan target produksi sebanyak 100.000 oz setahun.

Bisnis Emas Menjanjikan

Jika dibandingkan dengan bisnis batubara, bisnis emas lebih menjanjikan. Sebab, kepastian bisnis batubara di dalam negeri memiliki banyak polemik.

Analis Jasa Utama Capital Sekuritas, Chris Apriliony menilai, semaraknya emiten pertambangan masuk ke tambang emas lantaran bisnis batubara sendiri sudah mulai terlihat adanya pembatasan-pembatasan baik impor maupun ekspor. "Ditambah lagi isu lingkungan yang cukup tinggi, sehingga batubara mulai tertekan dari sisi penggunaan. Selain itu, harga batubara tak stabil, meski sempat naik cukup signifikan tahun lalu, jelasnya, Selasa (23/4).

Menurutnya, pertambangan emas masih cukup menjanjikan, karena instrumen emas belakangan mulai banyak diminati. Tak hanya itu, saat ini emas juga mulai masuk menjadi sarana hadiah, tidak hanya investasi untuk diri sendiri.

Namun, perusahaan-perusahaan yang akan masuk tambang emas juga harus memikirkan terkait pembuatan smelter yang memerlukan biaya tak sedikit. Ini yang menjadi tantangan," tandasnya.

Bagikan

Berita Terbaru

Laba Bersih Melonjak tapi Saham TINS Terjerembap, Asing Malah Diam-Diam Serok Bawah!
| Kamis, 14 Mei 2026 | 09:30 WIB

Laba Bersih Melonjak tapi Saham TINS Terjerembap, Asing Malah Diam-Diam Serok Bawah!

Ketidakpastian mengenai aturan royalti minerba menjadi salah satu faktor utama penekan harga saham TINS.

Rupiah Terjerembap ke Rekor Terendah, Emiten Kertas TKIM dan INKP Siap Panen Cuan
| Kamis, 14 Mei 2026 | 08:30 WIB

Rupiah Terjerembap ke Rekor Terendah, Emiten Kertas TKIM dan INKP Siap Panen Cuan

Rebalancing indeks MSCI memberikan tekanan outflow jangka pendek buat TKIM yang terdepak dari indeks small cap.

Agresif Ekspansi Anorganik, Saham INET Malah Terus Terjepit, Prospeknya tak Menarik?
| Kamis, 14 Mei 2026 | 07:30 WIB

Agresif Ekspansi Anorganik, Saham INET Malah Terus Terjepit, Prospeknya tak Menarik?

PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) sedang bertransformasi menjadi integrated digital infrastructure provider.

Konflik Geopolitik Makin Menjerat Membuat Harga Emas Semakin Mengkilat
| Kamis, 14 Mei 2026 | 07:00 WIB

Konflik Geopolitik Makin Menjerat Membuat Harga Emas Semakin Mengkilat

Salah satu faktor yang mendorong harga emas adalah rencana NATO menggelar pertemuan bulan depan untuk membahas kemungkinan keanggotaan Ukraina.

Sebelas Saham Big Caps Bertahan di Indeks MSCI Global Standard, Simak Prospeknya
| Kamis, 14 Mei 2026 | 06:59 WIB

Sebelas Saham Big Caps Bertahan di Indeks MSCI Global Standard, Simak Prospeknya

Pengumuman MSCI ini bisa jadi bottom dari koreksi IHSG sebelum kembali bangkit mengikuti fundamental perusahaan.

DBS Research Group: Perekonomian Indonesia Masih Resilien di Bawah Pelemahan Rupiah
| Kamis, 14 Mei 2026 | 06:10 WIB

DBS Research Group: Perekonomian Indonesia Masih Resilien di Bawah Pelemahan Rupiah

Sektor pertambangan dan energi, perusahaan tambang hulu dinilai akan diuntungkan di tengah harga komoditas yang lebih tinggi.

Pemulihan EXCL dari Beban Merger Terus Berjalan Hingga Akhir Tahun
| Kamis, 14 Mei 2026 | 05:37 WIB

Pemulihan EXCL dari Beban Merger Terus Berjalan Hingga Akhir Tahun

Salah satu faktor kunci adalah kemampuan EXCL melakukan efisiensi jaringan dan mengurangi biaya yang tumpang tindih pasca merger.

Akuisisi MAPI Tunjukkan Daya Tarik Consumer Lifestyle Indonesia
| Rabu, 13 Mei 2026 | 11:00 WIB

Akuisisi MAPI Tunjukkan Daya Tarik Consumer Lifestyle Indonesia

Valuasi MAPI masih menarik, saat ini diperdagangkan pada price earnings ratio (PER) sekitar 9,88 kali dan price to book value (PBV) 1,69 kali.

Pertumbuhan Indeks Keyakinan Konsumen Belum Mendongkrak Prospek Emiten
| Rabu, 13 Mei 2026 | 10:19 WIB

Pertumbuhan Indeks Keyakinan Konsumen Belum Mendongkrak Prospek Emiten

Kenaikan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) per April 2026 belum menjadi katalis positif emiten konsumer.

Rama Indonesia Resmi Jadi Pengendali Saham Dua Putra Utama Makmur (DPUM)
| Rabu, 13 Mei 2026 | 10:11 WIB

Rama Indonesia Resmi Jadi Pengendali Saham Dua Putra Utama Makmur (DPUM)

PT Rama Indonesia telah menyelesaikan transaksi pengambilalihan saham mayoritas PT Dua Putra Utama Makmur Tbk (DPUM). 

INDEKS BERITA

Terpopuler