Empati dan Transparansi

Seorang pejabat eselon I yang aktif di media sosial, tiba-tiba bertanya. "Kalau saya posting acara nyanyi-nyanyi, seperti kurang pas sekarang ya?" Dia menegaskan, rasanya bak kurang berempati dengan kondisi masyarakat, ketika PHK masih jadi ancaman, daya beli lemah, dan harga beras mahal.
Empati, tiba-tiba jadi pembicaraan khalayak. Muasalnya, berbagai tunjangan yang diterima wakil rakyat, fasilitas yang disalahgunakan pejabat, dan perilaku hedon para public figure panggung politik, menunjukkan kalau mereka itu minim empati. Ironisnya, mereka dibayar dengan uang pajak yang disetor rakyat.
Ini Artikel Spesial
Agar bisa lanjut membaca sampai tuntas artikel ini, pastikan Anda sudah berlangganan.
Sudah berlangganan? MasukBerlangganan dengan Google
Gratis uji coba 7 hari pertama. Anda dapat menggunakan akun Google sebagai metode pembayaran.
Kontan Digital Premium Access
Business Insight, Epaper Harian + Tabloid, Arsip Epaper 30 Hari
Rp 120.000
Business Insight
Hanya dengan 20rb/bulan Anda bisa mendapatkan berita serta analisis ekonomi bisnis dan investasi pilihan