Fiskal Bertaruh

Senin, 21 September 2026 | 06:17 WIB
Fiskal Bertaruh
[ILUSTRASI. TAJUK - Havid Febri (KONTAN/Steve GA)]
Havid Vebri | Redaktur Pelaksana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergantian Menteri Keuangan bukan tombol reset bagi APBN. Ketika Suahasil Nazara menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa, persoalan fiskal Indonesia tidak ikut berganti. Ujian sebenarnya: apakah pergantian figur mampu mengembalikan kepastian kebijakan ketika kebutuhan belanja membesar, penerimaan harus digenjot, dan kepercayaan pasar perlu dijaga?

RAPBN 2027 memberi gambaran besarnya pekerjaan rumah. Pemerintah mematok pendapatan negara Rp3.426 triliun, sementara belanja mencapai Rp4.097,2 triliun. Defisit dijaga 2,4% PDB atau sekitar Rp671,2 triliun. Di atas kertas, angka ini masih di bawah batas 3%. Namun, ruang fiskal tidak boleh dibaca hanya dari jarak terhadap batas tersebut.

Kebutuhan pembiayaan tetap besar. Beban bunga utang juga meningkat, sementara pemerintah ingin mempertahankan belanja untuk program prioritas dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Artinya, tantangan Suahasil bukan hanya menjaga defisit, tapi memastikan APBN menghasilkan dampak ekonomi yang jelas.

Di sisi penerimaan, pemerintah menargetkan perpajakan Rp 2.908 triliun dan PNBP Rp 517,4 triliun. Target itu menuntut perluasan basis pajak, kepatuhan yang kuat, serta optimalisasi aset dan sumber daya alam. Jalan pintas berupa penerimaan temporer hanya akan menunda persoalan jika tak dibarengi penguatan fondasi pendapatan negara.

Rencana setoran keuntungan Danantara Rp 120 triliun menjadi contoh penting. Angka itu besar bagi APBN, tapi yang penting adalah bagaimana mekanisme, keberlanjutannya, dan bagaimana kepentingan penerimaan negara diseimbangkan dengan kebutuhan investasi BUMN. Saat ini, nasib setoran itu masih menunggu pembahasan antara Danantara dan Menteri Keuangan.

Sementara itu, pemerintah mempertahankan penempatan dana Rp200 triliun di bank BUMN hingga Juli 2027. Hal ini menunjukkan dukungan fiskal terhadap likuiditas masih menjadi bagian dari strategi ekonomi. Karena itu, ukuran keberhasilan pergantian Menkeu bukan seberapa cepat kebijakan berubah, tapi seberapa jelas arah fiskal dibangun. Dunia usaha membutuhkan kepastian, pasar butuh kredibilitas, dan publik membutuhkan APBN yang transparan serta produktif.

Pergantian wajah harus berakhir pada satu hal: bukan APBN yang sekadar lebih besar, tapi yang lebih sehat dan mampu menjawab kebutuhan ekonomi tanpa mewariskan beban yang lebih berat kepada generasi berikutnya.

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Menakar Prospek PTRO saat Pendapatan dan Laba Meningkat
| Senin, 21 September 2026 | 08:22 WIB

Menakar Prospek PTRO saat Pendapatan dan Laba Meningkat

PT Petrosea Tbk (PTRO) membukukan kenaikan pendapatan dan laba bersih signifikan pada semester I-2026

Menkeu Perlu Evaluasi Restitusi Pajak
| Senin, 21 September 2026 | 08:21 WIB

Menkeu Perlu Evaluasi Restitusi Pajak

Penahanan restitusi perlu direvisi karena menekan arus kas perusahaan dan berimbas pada aktivitas ekonomi

Ambisi Kuliah Gratis di Kampus Negeri
| Senin, 21 September 2026 | 08:18 WIB

Ambisi Kuliah Gratis di Kampus Negeri

Presiden Prabowo menyebut dana sitaan hasil korupsi bisa untuk mendanai pendidikan gratis d perguruan tinggi

Ujian APBN di Penghujung Tahun
| Senin, 21 September 2026 | 08:12 WIB

Ujian APBN di Penghujung Tahun

Kinerja fiskal hingga Agustus masih positif, tetapi percepatan belanja dan dampaknya terhadap ekonomi menjadi tantangan​

Pelaksanaan E50 Butuh Ekosistem Bioetanol yang Matang
| Senin, 21 September 2026 | 07:58 WIB

Pelaksanaan E50 Butuh Ekosistem Bioetanol yang Matang

Target bioetanol 50% atau E50 yang terkait dengan bahan baku pangan, masih terbentur kesiapan infrastruktur yang belum matang.

Garuda Maintenance (GMFI) Memperbaiki Laba dan Ekuitas
| Senin, 21 September 2026 | 07:42 WIB

Garuda Maintenance (GMFI) Memperbaiki Laba dan Ekuitas

PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMFI) mencatatkan pertumbuhan kinerja hingga semester I-2026.

Hartadinata (HRTA) Incar Pertumbuhan Pendapatan 60%
| Senin, 21 September 2026 | 07:34 WIB

Hartadinata (HRTA) Incar Pertumbuhan Pendapatan 60%

Bergini jurus  PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) untuk mencapai pertumbuhan dua digit, bahkan sampai 60% di tahun 2026.

MoraRepublic (MORA) Ekspansi Jaringan Kabel Laut
| Senin, 21 September 2026 | 07:27 WIB

MoraRepublic (MORA) Ekspansi Jaringan Kabel Laut

PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) mendapatkan permintaan cukup kuat terutama dari ritel untuk kiiabel laut.

Ketidakpastian Masih Tinggi, Harga Emas Bergerak Volatil
| Senin, 21 September 2026 | 07:27 WIB

Ketidakpastian Masih Tinggi, Harga Emas Bergerak Volatil

Sentimen geopolitik, arah kebijakan bank sentral AS dan imbal hasil US Treasury menjadi faktor utama yang akan menentukan arah logam mulia.

Nilai Aset Saham Haji Isam Menggemuk Lebih dari Dua Kali Lipat, BYAN Jadi Penentu
| Senin, 21 September 2026 | 07:26 WIB

Nilai Aset Saham Haji Isam Menggemuk Lebih dari Dua Kali Lipat, BYAN Jadi Penentu

Dengan harga Rp 13.825 per saham, 30% saham BYAN yang akan dibeli Jhonlin Baratama memiliki nilai pasar sekitar Rp 138,25 triliun.

INDEKS BERITA

Terpopuler