Berita

GAPMMI Menolak Bea Masuk Impor Susu

Rabu, 21 Agustus 2019 | 06:46 WIB

ILUSTRASI. Produsen Susu Sapi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah berencana menerapkan tarif bea masuk impor produk susu dan olahan susu dari Uni Eropa sebesar 20%-25%. Gabungan Asosiasi Pengusaha Makanan dan Minuman (GAPMMI) menolak rencana itu.

Pengenaan tarif bea masuk berpotensi menaikkan harga karena membatasi alternatif produk di pasar. "Sebaiknya pemerintah mencari alternatif lain yang lebih baik," kata Adhi S. Lukman, Ketua Umum GAPMMI, kepada KONTAN, Senin (19/8).

Sementara susu memiliki peran penting dalam industri makanan dan minuman dalam negeri. Selain itu, susu juga berkontribusi dalam pemenuhan kebutuhan protein untuk bayi hingga orang dewasa. Alhasil, pemberlakuan tarif bea masuk bakal kontradiktif dengan upaya pemerintah meningkatkan gizi masyarakat.

Sementara pada praktiknya, produksi susu dalam negeri hanya mampu menyuplai sekitar sekitar 0,85 juta ton atau 22,97% terhadap total kebutuhan bahan baku susu sebesar 3,7 juta ton. Kebutuhan susu selebihnya menjadi ceruk produk impor.

Baca Juga: Tidak mudah bagi Indonesia alihkan impor susu dari Uni Eropa

Abdul Rochim, Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustian (Kemperin) menjelaskan, impor produk susu dan olahan susu berasal dari Uni Eropa, Australia, Selandia Baru, Amerika Serikat dan negara lain. Uni Eropa mendominasi importasi hingga 34%. Porsi importasi selebihnya terdiri dari 30% Selandia Baru, 18% Amerika Serikat, 12% Australia dan 6% negara lain.

Jenis produk impor tersebut beragam. Sebut saja, susu bubuk berkadar lemak kurang dari 1,5%, susu bubuk berkadar lemak lebih dari 1,5%, mentega susu dalam bentuk bubuk, whey dalam bentuk bubuk dan lemak mentega anhidrat susu.

Adapun pasokan bahan baku susu segar dalam negeri rendah karena jumlah sapi perah produktif dalam negeri terbatas. Tahun lalu, jumlah sapi perah mencapai 550.000 ekor. Namun hanya sekitar 272.000 ekor yang masuk kategorikan produktif laksasi atau dapat diperah.

Produktivitas sapi di Indonesia juga masih terbilang rendah, yakni hanya sekitar 12 liter-15 liter per hari. "Produktivitas sapi yang baik adalah yang dapat menghasilkan 20 liter-25 liter susu per hari," terang Rochim.

Reporter: Muhammad Julian
Editor: Yuwono triatmojo

IHSG
6.219,44
1.82%
-115,41
LQ45
983,25
0.91%
-9,00
USD/IDR
14.020
0,50
EMAS
753.000
0,00%

Baca juga