Gempuran Mobil China Makin Ngeri, Pangsa Pasar Astra (ASII) Anjlok di Bawah 50%

Jumat, 20 Maret 2026 | 13:30 WIB
Gempuran Mobil China Makin Ngeri, Pangsa Pasar Astra (ASII) Anjlok di Bawah 50%
[]
Reporter: Amalia Nur Fitri | Editor: Tedy Gumilar

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rapor penjualan mobil PT Astra International Tbk (ASII) terpantau jalan di tempat pada awal tahun ini. Ironisnya, stagnasi tersebut terjadi tepat di saat penjualan mobil nasional secara wholesales (dari pabrik ke diler) tengah menanjak pada Februari 2026. Alhasil, pangsa pasar (market share) ASII harus rela tergerus ke posisi 49,4%, turun tajam dari posisi 54,4% pada periode yang sama tahun lalu.

Merujuk data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO), penjualan wholesales mobil nasional menyentuh angka sekitar 81.200 unit pada Februari 2026. Angka ini melonjak 12% secara tahunan atau year on year (YoY), dan melesat 22% secara bulanan (month on month).

Secara kumulatif, laju penjualan selama dua bulan pertama di 2026 telah menembus 147.600 unit, atau naik 10%. GAIKINDO mengklaim bahwa raihan ini setara dengan 17,4% dari total target penjualan tahun ini, sedikit lebih tinggi dibandingkan performa pada periode yang sama tahun lalu.

Sayangnya, manisnya kue pertumbuhan otomotif nasional ini rupanya tidak terdistribusi merata. ASII menjadi salah satu pemain raksasa yang lajunya tertahan.


Baca Juga: Mudik Lebaran Dongkrak Penjualan Astra Otoparts (AUTO)

Ditekan Pemain Jepang dan China

Laporan riset Stockbit Sekuritas yang dirilis Senin (16/3) membedah bahwa mesin pertumbuhan penjualan mobil di awal tahun ini justru dipacu keras oleh merek-merek di luar bendera Astra. Terbukti, penjualan mobil keluaran non-ASII sukses melesat 22% selama dua bulan pertama 2026.

Di internal ASII sendiri, dinamikanya cukup timpang. Daihatsu memang masih bertaji dengan mencetak pertumbuhan positif 18% YoY, namun sang kakak, Toyota dan Lexus, justru loyo dengan pelemahan sebesar 8%.

Akibatnya, pangsa pasar ASII tergelincir dari 54,4% menjadi 49,4% per Februari 2026. Padahal, perseroan mematok target ambisius untuk terus mempertahankan dominasi pangsa pasar di atas level 50% sepanjang tahun ini.

Stockbit Sekuritas menyoroti bahwa para pesaing ASII kini bergerak sangat agresif. Jika menengok pemain lama asal Jepang seperti Suzuki dan Mitsubishi sukses mencetak pertumbuhan masing-masing sebesar 28% YoY dan 18% YoY pada periode yang sama.

Ancaman paling mengerikan datang dari pabrikan China yang kian menancapkan kukunya sebagai primadona baru masyarakat. Merek-merek seperti BYD dan Denza mencetak lonjakan penjualan yang fantastis, terbang hingga 195% YoY. Performa ini makin mengokohkan dominasi mobil keluaran China, khususnya di segmen kendaraan listrik (electric vehicle/EV).

Meski begitu, Stockbit Sekuritas menilai bahwa lonjakan penjualan mobil di awal tahun ini masih banyak dipengaruhi oleh faktor musiman, yakni efek menyambut Hari Raya Lebaran.

Tingginya permintaan jelang Lebaran membuat konsentrasi penjualan terpusat di bulan Februari 2026. Berbeda dengan tahun sebelumnya, di mana lonjakan penjualan terkonsentrasi pada periode Februari-Maret.

"Sebagian pertumbuhan penjualan mobil ini berpotensi bersifat temporer atau sementara. Jadi bukan mencerminkan peningkatan permintaan mobil yang sepenuhnya organik," papar Stockbit Sekuritas.

Baca Juga: Harga Minyak Memanas, Konsumen Melirik Kendaraan Listrik

Mencari Celah Strategi Penyelamatan

Sebagai penguasa pasar otomotif domestik, kompetisi yang dihadapi ASII memang kian sengit. Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Nafan Adji Gusta, menilai bahwa stagnasi penjualan yang mendera ASII saat ini sejatinya masih tergolong wajar.

Merek-merek asal China, diakui Nafan, tampil lebih superior dari sisi inovasi produk. Tak hanya itu, konsumen kini bisa mendapatkan kendaraan berfitur canggih nan futuristik dengan harga jual yang sangat kompetitif.

"Produk-produk keluaran China ini menawarkan value for money yang lebih tinggi, baik dari sisi teknologi dan fitur," papar Nafan kepada KONTAN, Selasa (17/3).

Faktor inilah yang memicu pergeseran preferensi konsumen secara nyata, terutama di segmen kendaraan listrik yang selalu mengedepankan teknologi mutakhir dan fitur modern.

Nada serupa disampaikan oleh Head of Research Korea Investment Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi. Ia menyoroti penetrasi masif pabrikan China di segmen kendaraan listrik sebagai biang keladi tergerusnya pangsa pasar ASII.

Produk China ini tak hanya unggul dari sisi harga yang terjangkau dan fitur melimpah, tetapi juga punya positioning yang teramat agresif di pasar.

"Persaingan juga datang dari merk Jepang non-ASII yang agresif memberikan promo serta diskon," imbuh Wafi.

Nafan menyarankan, jika ASII ingin merebut kembali takhta pangsa pasarnya di level 50%, perseroan mutlak harus memoles ulang strateginya. Perusahaan harus tetap kompetitif dari sisi harga, sembari terus melakukan ekspansi produk yang selaras dengan selera pasar terkini.

Baca Juga: Laju Pertumbuhan Kredit Mulai Melambat

Di sisi internal, Astra International sendiri tak tinggal diam. Perseroan mulai agresif membangun ekosistem kendaraan listrik, salah satunya lewat penyediaan infrastruktur pengisian daya (charging station) bernama Astra Auto Power di jaringan Shop & Drive. Langkah ini menjadi sinyal kuat keseriusan ASII menantang pasar EV.

Meski demikian, kendaraan hybrid dinilai masih memiliki daya tawar dan pangsa pasar yang sangat kuat. Hal ini mengingat infrastruktur stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) yang belum merata di seluruh pelosok Indonesia.

Nafan turut menggarisbawahi bahwa ASII perlu melahirkan model kendaraan baru dengan fitur yang lebih segar dan maksimal. Produk tersebut wajib memberikan nilai tambah bagi konsumen—baik dari sisi teknologi maupun kenyamanan—tanpa harus mengorbankan daya saing harga.

"Dengan kombinasi strategi tersebut, Astra diharapkan dapat kembali meningkatkan pangsa pasarnya di tengah persaingan industri otomotif yang semakin ketat," ucapnya.

Di sisi lain, Wafi memandang sudah saatnya ASII turun gunung dengan memproduksi kendaraan khusus untuk segmen kelas menengah ke bawah. Strategi ini bisa dieksekusi melalui peluncuran varian mobil hybrid yang lebih ekonomis, yang dibarengi dengan keberanian menebar diskon agresif demi membendung tsunami mobil China.

Bersamaan dengan itu, ASII bisa memeras habis keunggulan absolutnya yang belum tertandingi oleh kompetitor mana pun: kekuatan jaringan diler dan layanan purnajual (after-sales) berskala nasional.

"Melalui upaya itu, berpotensi mempercepat peluncuran BEV (battery electric vehicle) di segmen menengah ke bawah untuk membendung dominasi merek China," tutup Wafi.

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Transaksi QRIS Melonjak Saat Lebaran, Makin Favorit Dalam Dua Tahun Terakhir
| Jumat, 20 Maret 2026 | 15:00 WIB

Transaksi QRIS Melonjak Saat Lebaran, Makin Favorit Dalam Dua Tahun Terakhir

Jelang Lebaran 2026, transaksi QRIS diprediksi melonjak drastis. GoPay, AstraPay, dan LinkAja ungkap pertumbuhan fantastis. Simak pemicu utamanya!

Kinerja Portofolio Investasi Moncer di Awal Tahun, Saham SRTG Bakal Ikut Naik?
| Jumat, 20 Maret 2026 | 14:25 WIB

Kinerja Portofolio Investasi Moncer di Awal Tahun, Saham SRTG Bakal Ikut Naik?

Saratoga membukukan lonjakan keuntungan neto dari investasi saham dan efek lainnya hingga 180,04% menjadi Rp 4,14 triliun.

Terbesar Dalam Sejarah: IEA Gelontorkan 426 Juta Barel Minyak Cadangan Darurat
| Jumat, 20 Maret 2026 | 13:44 WIB

Terbesar Dalam Sejarah: IEA Gelontorkan 426 Juta Barel Minyak Cadangan Darurat

IEA mengucurkan 426 juta barel cadangan minyak darurat. Ini langkah kolektif terbesar, menekan harga WTI dan Brent.

Gempuran Mobil China Makin Ngeri, Pangsa Pasar Astra (ASII) Anjlok di Bawah 50%
| Jumat, 20 Maret 2026 | 13:30 WIB

Gempuran Mobil China Makin Ngeri, Pangsa Pasar Astra (ASII) Anjlok di Bawah 50%

Selain digencet merek China, Astra juga digempur pabrikan Jepang lainnya yang agresif memasarkan kendaraannya. 

Tak Dibebani Saham Big Banks, Investor di Reksadana Campuran Syariah Menang Banyak
| Jumat, 20 Maret 2026 | 12:10 WIB

Tak Dibebani Saham Big Banks, Investor di Reksadana Campuran Syariah Menang Banyak

Kue pasar produk investasi berbasis syariah di Indonesia masih sangat besar seiring membeludaknya animo masyarakat.

Banding-Banding Layanan Cicil Emas di Bank BSI, Muamalat, dan BCA Syariah
| Jumat, 20 Maret 2026 | 11:15 WIB

Banding-Banding Layanan Cicil Emas di Bank BSI, Muamalat, dan BCA Syariah

Cicil emas berbasis syariah mengikuti prinsip akad murabahah: harganya disepakati oleh kedua pihak di awal transaksi.

Tak Hanya Suku Bunga, Pasar Saham Ditentukan Kredibilitas BI Jaga Stabilitas Rupiah
| Jumat, 20 Maret 2026 | 10:34 WIB

Tak Hanya Suku Bunga, Pasar Saham Ditentukan Kredibilitas BI Jaga Stabilitas Rupiah

Keputusan BI menahan suku bunga dinilai akan membuat pasar saham cenderung sideways dengan bias defensif.

Kucurkan Dana Triliunan, Emiten Blue Chip Gelar Buyback Saham
| Jumat, 20 Maret 2026 | 10:06 WIB

Kucurkan Dana Triliunan, Emiten Blue Chip Gelar Buyback Saham

Hingga pertengahan Maret tahun ini, sudah ada beberapa emiten yang sedang dan berencana melaksanakan aksi buyback saham.​

Wajah Baru Ritel 2026: Peritel Asing Ekspansif, Merek Lokal Makin Unjuk Gigi di Mal
| Jumat, 20 Maret 2026 | 10:05 WIB

Wajah Baru Ritel 2026: Peritel Asing Ekspansif, Merek Lokal Makin Unjuk Gigi di Mal

Semakin banyak perusahaan raksasa Asia banting setir dan memprioritaskan keran ekspansinya ke wilayah Asia Tenggara.

Permintaan Masih Tinggi, Harga CPO Global Terus Mendaki
| Jumat, 20 Maret 2026 | 09:45 WIB

Permintaan Masih Tinggi, Harga CPO Global Terus Mendaki

Hingga Rabu (18/3), harga CPO global sudah berada di level MYR 4.564 per ton sudah naik sekitar 11,43% dalam sebulan.

INDEKS BERITA

Terpopuler