Harga Batubara Masih Akan Bertahan di Atas Level US$ 300 per Ton

Rabu, 08 Juni 2022 | 04:20 WIB
Harga Batubara Masih Akan Bertahan di Atas Level US$ 300 per Ton
[]
Reporter: Hikma Dirgantara | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lonjakan permintaan batubara dari India sempat membuat harga batubara meningkat. Namun kemarin (7/6), harga batubara Newcastle kontrak pengiriman Juli 2022 anjlok 6,17% ke US$ 370 per ton. Padahal pekan lalu (31/5), harga batubara sempat berada di US$ 410 per ton. 

Founder Traderindo.com Wahyu Laksono mengungkapkan, kenaikan harga batubara tidak terlepas dari adanya krisis energi yang terjadi di India. Krisis energi ini lantas mendorong permintaan impor batubara dari India untuk memenuhi kebutuhan pembangkit listrik, seiring dengan gelombang panas yang terjadi sejak April lalu.

Di satu sisi, India juga harus mengamankan pasokan batubara untuk kebutuhan di musim penghujan pada Juli hingga September 2022. 

Baca Juga: Kenaikan Harga Batubara Akibat Krisis Energi di India Dinilai Hanya Sesaat

Wahyu menilai, kenaikan harga batubara tidak semata-mata dipicu India, tapi juga dari komoditas energi lainnya. "Banyak negara yang semula bergantung pada gas alam beralih ke batubara saat ini," jelas Wahyu, Selasa (7/6). 

Ini karena larangan perdagangan dari Rusia yang merupakan produsen terbesar gas alam. Sementara itu Wahyu menilai, pasokan batubara saat ini masih terbatas. 

CEO Edvisor.id Praska Putrantyo menilai, tren reli harga batubara akan bersifat sesaat saja. Pasalnya, India adalah salah satu negara produsen batubara terbesar di dunia, selain China dan Indonesia. 

Oleh sebab itu, ketika produksi batubara di India kembali naik dan gelombang panas berakhir, akan terjadi normalisasi harga batubara. 

"Saat ini, India mengalami gelombang panas yang membutuhkan batubara untuk pembangkit listrik guna memenuhi kebutuhan pendingin. Permintaan tersebut dalam jangka pendek mendorong naiknya harga batubara, di mana dalam sepekan terakhir naik hampir 5%," kata Praska, Selasa (7/6). 

Berdasarkan hitungan Praska, dalam jangka pendek, harga batubara akan bergerak pada rentang US$ 375-US$ 415 per ton. Sementara Wahyu memperkirakan, pada tahun ini harga batubara akan bergerak di atas US$ 300 dan bisa ke US$ 500 per ton. 

Baca Juga: Krisis Energi di India Mengangkat Harga Batubara Kembali

Bagikan

Berita Terbaru

Saham Japfa Comfeed Indonesia (JPFA) Masih Menarik Berkat MBG
| Senin, 27 April 2026 | 08:00 WIB

Saham Japfa Comfeed Indonesia (JPFA) Masih Menarik Berkat MBG

Implementasi program MBG masih menopang kinerja JPFA, program ini menambah konsumsi ayam nasional secara signifikan di 2026.

Menyisir Tekanan Jual di Balik Mitos Sell in May
| Senin, 27 April 2026 | 07:41 WIB

Menyisir Tekanan Jual di Balik Mitos Sell in May

Bursa saham Indonesia tertatih-tatih berjalan. Apakah fenomena Sell in May berpeluang memperparah IHSG?

Prospek  Tahun 2026, Saat Harga Emas Stabil, HRTA Tetap Optimistis
| Senin, 27 April 2026 | 07:22 WIB

Prospek Tahun 2026, Saat Harga Emas Stabil, HRTA Tetap Optimistis

PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) mencetak laba fantastis 2025. Prediksi pertumbuhan 2026 tidak lagi tiga digit, simak proyeksi terbarunya!

IHSG Anjlok, Net Sell Hampir Rp 3 T, Rupiah Ambruk, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini
| Senin, 27 April 2026 | 06:57 WIB

IHSG Anjlok, Net Sell Hampir Rp 3 T, Rupiah Ambruk, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

Badai menerjang IHSG, investor asing lepas saham besar-besaran. Jangan sampai salah langkah, pahami risikonya sebelum Anda bertindak.

Daya Beli Loyo, Kredit Konsumer Semakin Lesu
| Senin, 27 April 2026 | 06:55 WIB

Daya Beli Loyo, Kredit Konsumer Semakin Lesu

​Kredit konsumer perbankan melambat seiring daya beli masyarakat melemah, mendorong bank semakin ketat menyalurkan pembiayaan.

Dolar AS Melemah Tapi Bakal Bangkit: Kejutan di Tengah Ketegangan Global?
| Senin, 27 April 2026 | 06:45 WIB

Dolar AS Melemah Tapi Bakal Bangkit: Kejutan di Tengah Ketegangan Global?

Dolar AS sempat melemah di akhir pekan, namun kini berpotensi kembali menguat. Ketegangan geopolitik AS-Iran jadi pemicu. 

Hasil Stress Test, Perbankan Tanah Air Masih Kuat Hadapi Gejolak Ekonomi
| Senin, 27 April 2026 | 06:35 WIB

Hasil Stress Test, Perbankan Tanah Air Masih Kuat Hadapi Gejolak Ekonomi

​Stress test menunjukkan perbankan Indonesia tetap kuat menghadapi gejolak global, namun ekspansi kini dibuat lebih hati-hati 

Emiten Sawit: Siap Panen Cuan Berkat Mandatori B50
| Senin, 27 April 2026 | 06:30 WIB

Emiten Sawit: Siap Panen Cuan Berkat Mandatori B50

Mandatori B50 mulai 1 Juli 2026 berpotensi dongkrak permintaan CPO domestik. Temukan emiten sawit yang paling diuntungkan.

 Strategi Mengerek Pangsa Pasar Perbankan Syariah
| Senin, 27 April 2026 | 06:30 WIB

Strategi Mengerek Pangsa Pasar Perbankan Syariah

Perbankan syariah tumbuh, tapi pangsa pasar masih di bawah 10%, dengan strategi antara konsolidasi atau ekspansi organik.

Melihat Efek Domino di Balik Pelemahan Rupiah dan Defisit APBN
| Senin, 27 April 2026 | 06:22 WIB

Melihat Efek Domino di Balik Pelemahan Rupiah dan Defisit APBN

Foreign outflow yang terkonsentrasi pada saham-saham big banks, menandai memburuknya sentimen investor asing dari pelemahan nilai tukar rupiah.

INDEKS BERITA

Terpopuler