Harga Livebird dan Bahan Baku Bakal Jadi Batu Sandungan Kinerja Emiten Poultry?

Jumat, 10 April 2026 | 17:10 WIB
Harga Livebird dan Bahan Baku Bakal Jadi Batu Sandungan Kinerja Emiten Poultry?
[ILUSTRASI. Permintaan ayam petelur merah melonjak jelang Lebaran (ANTARA FOTO/AJI STYAWAN)]
Reporter: Andy Dwijayanto | Editor: Yuwono Triatmodjo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga ayam hidup atau livebird pasca Lebaran mengalami penurunan tajam, penurunan terjadi hingga mencapai Rp 18.000 hingga Rp 18.500 per kilogram, padahal di bulan Maret harga livebird masih bertengger pada kisaran Rp 26.000 per kg. Tentu ini menjadi kabar buruk bagi emiten poultry yang bakal berimbas pada margin laba.

Pemerintah sendiri telah mengalokasikan dana Rp 20 triliun untuk pembangunan pabrik pakan dan day old chick untuk mengendalikan pasokan dan harga ayam ke depannya, sayangnya, implementasi program ini masih belum berjalan. Apalagi ke depan ayam menjadi salah satu sumber protein hewani untuk program makan bergizi gratis (MBG) pemerintah. 

Muhammad Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas menyebut bahwa penurunan harga ayam hidup yang terjadi pasca lebaran memang wajar dan biasa terjadi pada periode setelah festive. Hal ini karena permintaan tidak sekencang pada masa Ramadan dan idul fitri yang mana permintaan melonjak dan harga otomatis terkerek naik.

Baca Juga: Poultry Bersinar di Awal Tahun, Akankah Bertahan Hingga Akhir 2026?

Nah, imbasnya harga live bird yang terkoreksi ini akan menekan margin laba emiten poultry dalam jangka pendek. Sedangkan untuk jangka panjang, Nafan melihat harga ayam akan stabil, salah satunya didorong oleh tingginya permintaan untuk program MBG.

Oleh karena itu, Ia menyampaikan bahwa kinerja emiten-emiten poultry masih cukup menarik untuk dicermati. Berkaca pada pencapaian pada tahun lalu, PT JAPFA Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) yang mencatat penjualan neto Rp 60,71 triliun atau naik 8,81% dari sebelumnya Rp 55,8 triliun.

Hal yang sama juga dicatat PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) yang mencatat penjualan neto Rp 70,7 triliun atau naik 4,78% dibandingkan sebelumnya Rp 67,48 triliun dan PT Malindo Feedmill Tbk (MAIN) yang mencatat penjualan neto Rp 12,69 triliun atau naik 1,52% dibandingkan tahun sebelumnya Rp 12,5 triliun.

Ia menilai tahun ini kinerja emiten poultry juga masih cukup solid. Katalis positif  berupa program MBG bakal menjadikan sektor poultry menarik dalam jangka panjang. Hanya, masih ada tantangan dari kebijakan pengadaan bahan baku impor soybean meal. Per April, kebutuhan pakan itu wajib didatangkan dari PT Berdikari atau dikontrol oleh pemerintah.

 

Ini Artikel Spesial
Agar bisa lanjut membaca sampai tuntas artikel ini, pastikan Anda sudah berlangganan.
Sudah Berlangganan?
Berlangganan dengan Google
Gratis uji coba 7 hari pertama dan gunakan akun Google sebagai metode pembayaran.
Business Insight
Artikel pilihan editor Kontan yang menyajikan analisis mendalam, didukung data dan investigasi.
Kontan Digital Premium Access
Paket bundling Kontan berisi Business Insight, e-paper harian dan tabloid serta arsip e-paper selama 30 hari.
Masuk untuk Melanjutkan Proses Berlangganan
Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Harga Livebird dan Bahan Baku Bakal Jadi Batu Sandungan Kinerja Emiten Poultry?
| Jumat, 10 April 2026 | 17:10 WIB

Harga Livebird dan Bahan Baku Bakal Jadi Batu Sandungan Kinerja Emiten Poultry?

Harga ayam hidup atau livebird pasca Lebaran mengalami penurunan tajam, penurunan terjadi hingga mencapai Rp 18.000 hingga Rp 18.500 per kilogram.

Emiten Sawit Menadah Berkah Pemberlakuan Program B50 Juli Mendatang
| Jumat, 10 April 2026 | 14:30 WIB

Emiten Sawit Menadah Berkah Pemberlakuan Program B50 Juli Mendatang

Kandungan biodiesel yang lebih tinggi memiliki sifat detergensi yang lebih kuat, sehingga memerlukan perawatan mesin yang lebih intensif.

Saat Turun Bertahan, Saat Naik Melesat: Peta Saham Bank Agresif vs Defensif
| Jumat, 10 April 2026 | 14:01 WIB

Saat Turun Bertahan, Saat Naik Melesat: Peta Saham Bank Agresif vs Defensif

Wafi melihat BBRI dan BMRI berpotensi menjadi motor rebound, didukung valuasi yang sudah jauh di bawah rata-rata historis.

Matahari Putra Prima (MPPA) Divestasi Anak Usaha Senilai Rp 61,64 Miliar
| Jumat, 10 April 2026 | 09:26 WIB

Matahari Putra Prima (MPPA) Divestasi Anak Usaha Senilai Rp 61,64 Miliar

PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) Melepas seluruh kepemilikannya di PT Super Ekonomi Ritelindo (SER) kepada PT Fortuna Optima Distribusi (FOD). 

Perintis Triniti (TRIN) Bersiap Akuisisi Prima Pembangunan Propertindo
| Jumat, 10 April 2026 | 09:22 WIB

Perintis Triniti (TRIN) Bersiap Akuisisi Prima Pembangunan Propertindo

Kedua pihak sepakat untuk menjajaki kerja sama strategis melalui aksi akuisisi mayoritas saham Prima Pembangunan Propertindo oleh TRIN. ​

Pembangkit Listrik Beroperasi, Kinerja Emiten EBT Bervariasi
| Jumat, 10 April 2026 | 09:12 WIB

Pembangkit Listrik Beroperasi, Kinerja Emiten EBT Bervariasi

Prospek kinerja emiten EBT pada 2026 berpotensi melesat lebih tinggi, sejalan dengan mulai beroperasinya deretan proyek pembangkit listrik hijau.​

Efisiensi Biaya Memacu Laba Emiten Rokok Mengepul di 2025
| Jumat, 10 April 2026 | 09:06 WIB

Efisiensi Biaya Memacu Laba Emiten Rokok Mengepul di 2025

Kinerja laba emiten rokok pada 2025 terutama dipengaruhi faktor efisiensi biaya dan beban non operasional. ​

Laju Saham Bahan Baku Masih Menderu
| Jumat, 10 April 2026 | 09:01 WIB

Laju Saham Bahan Baku Masih Menderu

Dari 11 indeks sektoral di BEI, IDX Basic Materials jadi satu-satunya indeks yang mencatat kinerja positif sejak awal 2026. ​

ABMM Menggenjot  Aset Tambang Baru
| Jumat, 10 April 2026 | 09:00 WIB

ABMM Menggenjot Aset Tambang Baru

ABMM mengandalkan kontribusi dari aset pertambangan baru, serta penguatan sinergi antar lini bisnis guna menjaga daya saing

Minyak Naik, Hitung Harga BBM Non Subsidi
| Jumat, 10 April 2026 | 08:50 WIB

Minyak Naik, Hitung Harga BBM Non Subsidi

Pemerintah perlu mencermati potensi peralihan konsumsi dari BBM nonsubsidi ke subsidi sebelum menaikkan harga

INDEKS BERITA

Terpopuler