Harga Saham Tertekan Jadi Alasan BBCA Lebih Sering Bagikan Dividen?
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Salah satu perbankan terbesar di pasar saham dalam negeri, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) terlihat lebih sering membagikan dividen di tahun ini. Bila dirunut kembali, sebelumnya dividen interim dibagikan satu kali dan disusul dividen final, tetapi BBCA meningkatkan frekuensi pembayaran dividen interimnya.
Sepanjang tahun 2026 ini, BBCA telah membagikan dividen tiga kali dari yang sebelumnya hanya dua kali setahun. Adapun yang terbaru, BBCA akan membagikan dividen pada 28 Agustus ini. Secara total dividen, nilai yang dibagikan sama seperti tahun-tahun sebelumnya, hanya perbedaannya tahun sebelumnya misalnya total Rp 100 per saham dibagi dua kali, tahun ini juga masih Rp 100 saham juga tetapi dibagi dalam empat kali.
Aksi BBCA ini dianggap menjadi salah satu strategi BBCA mempertahankan minat investor di tengah tekanan yang dihadapi. Sebagaimana diketahui, sepanjang tahun berjalan atau year to date (YtD), saham BBCA terkoreksi 20,12% ke Rp 6.450 per Jumat (21/8). Sementara setahun belakangan, harga saham BBCA sudah terjun 24,34% di periode yang sama.
Baca Juga: Saham BBCA Tertahan di Bawah Rp 6.400, Investor Belum Ketinggalan Kereta?
Head of Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi menilai bahwa perubahan ini lebih tepat dipandang sebagai sentiment management tool, bukan penciptaan nilai fundamental baru bagi pemegang saham.
Dia melanjutkan, jika total dividen yang diterima investor relatif sama, maka perubahan frekuensi pembayaran secara matematis tidak menambah nilai ekonomi bagi shareholder. Yang mengalami perubahan, utamanya adalah waktu investor yang menerima distribusi kas.
"Efektivitasnya lebih ke behavioral finance, lebih banyak 'positive news event' sepanjang tahun sehingga bisa menjaga engagement dan mengurangi (reduced) persepsi volatilitas (perceived volatility)," kata Wafi kepada KONTAN, Jumat (21/8).
Dia mengatakan aksi ini bisa membuat lebih banyak agenda pembagian dividen yang menjadi perhatian pasar, tapi manfaat ini bukanlah peningkatan dividen yield. Dalam kata lain, pemegang saham tidak memperoleh imbal hasil yang lebih besar hanya karena dividen dibagikan lebih sering.
