Harga Saham Tertekan Jadi Alasan BBCA Lebih Sering Bagikan Dividen?

Minggu, 23 Agustus 2026 | 11:17 WIB
Harga Saham Tertekan Jadi Alasan BBCA Lebih Sering Bagikan Dividen?
[ILUSTRASI. Nasabah melakukan transaksi di kantor Cabang BCA (KONTAN/Baihaki)]
Reporter: Amalia Nur Fitri | Editor: Yuwono Triatmodjo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Salah satu perbankan terbesar di pasar saham dalam negeri, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) terlihat lebih sering membagikan dividen di tahun ini. Bila dirunut kembali, sebelumnya dividen interim dibagikan satu kali dan disusul dividen final, tetapi BBCA meningkatkan frekuensi pembayaran dividen interimnya.

Sepanjang tahun 2026 ini, BBCA telah membagikan dividen tiga kali dari yang sebelumnya hanya dua kali setahun. Adapun yang terbaru, BBCA akan membagikan dividen pada 28 Agustus ini. Secara total dividen, nilai yang dibagikan sama seperti tahun-tahun sebelumnya, hanya perbedaannya tahun sebelumnya misalnya total Rp 100 per saham dibagi dua kali, tahun ini juga masih Rp 100 saham juga tetapi dibagi dalam empat kali.

Aksi BBCA ini dianggap menjadi salah satu strategi BBCA mempertahankan minat investor di tengah tekanan yang dihadapi. Sebagaimana diketahui, sepanjang tahun berjalan atau year to date (YtD), saham BBCA terkoreksi 20,12% ke Rp 6.450 per Jumat (21/8). Sementara setahun belakangan, harga saham BBCA sudah terjun 24,34% di periode yang sama.

Baca Juga: Saham BBCA Tertahan di Bawah Rp 6.400, Investor Belum Ketinggalan Kereta?

Head of Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi menilai bahwa perubahan ini lebih tepat dipandang sebagai sentiment management tool, bukan penciptaan nilai fundamental baru bagi pemegang saham.

Dia melanjutkan, jika total dividen yang diterima investor relatif sama, maka perubahan frekuensi pembayaran secara matematis tidak menambah nilai ekonomi bagi shareholder. Yang mengalami perubahan, utamanya adalah waktu investor yang menerima distribusi kas.

"Efektivitasnya lebih ke behavioral finance, lebih banyak 'positive news event' sepanjang tahun sehingga bisa menjaga engagement dan mengurangi (reduced) persepsi volatilitas (perceived volatility)," kata Wafi kepada KONTAN, Jumat (21/8).

Dia mengatakan aksi ini bisa membuat lebih banyak agenda pembagian dividen yang menjadi perhatian pasar, tapi manfaat ini bukanlah peningkatan dividen yield. Dalam kata lain, pemegang saham tidak memperoleh imbal hasil yang lebih besar hanya karena dividen dibagikan lebih sering.

Ini Artikel Spesial
Agar bisa lanjut membaca sampai tuntas artikel ini, pastikan Anda sudah berlangganan.
Sudah Berlangganan?
Berlangganan dengan Google
Gratis uji coba 7 hari pertama dan gunakan akun Google sebagai metode pembayaran.
Business Insight
Artikel pilihan editor Kontan yang menyajikan analisis mendalam, didukung data dan investigasi.
Kontan Digital Premium Access
Paket bundling Kontan berisi Business Insight, e-paper harian dan tabloid serta arsip e-paper selama 30 hari.
Masuk untuk Melanjutkan Proses Berlangganan
Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

UU Pelindungan Ketenagakerjaan Disahkan, Bagaimana Dampaknya ke Pengusaha dan Buruh?
| Rabu, 07 Oktober 2026 | 15:37 WIB

UU Pelindungan Ketenagakerjaan Disahkan, Bagaimana Dampaknya ke Pengusaha dan Buruh?

Serikat Pekerja menilai adanya aturan dana cadangan pesangon terbilang sangat baik karena hak pesangon pekerja yang terkena PHK terjamin aman.

AALI Buyback Rp 400 miliar, Murni Undervalued atau Cuma Pemanis?
| Rabu, 07 Oktober 2026 | 14:19 WIB

AALI Buyback Rp 400 miliar, Murni Undervalued atau Cuma Pemanis?

Secara matematis penyusutan jumlah saham AALI dapat meningkatkan EPS sekitar 2,5% jika seluruh saham buyback jadi treasuri dan laba bersih tetap

Biar Anak Tidak Kaget saat Mengelola Uang Sendiri
| Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:00 WIB

Biar Anak Tidak Kaget saat Mengelola Uang Sendiri

Pemerintah berencana membuka rekening tabungan perdana bagi masyarakat usia 17 tahun. Simak tahapan memberi tanggungjawab finansial ke anak!

Ada Transaksi Jumbo BYAN Rp 26,1 Triliun di Pasar Nego, Haji Isam Resmi Masuk?
| Rabu, 07 Oktober 2026 | 10:36 WIB

Ada Transaksi Jumbo BYAN Rp 26,1 Triliun di Pasar Nego, Haji Isam Resmi Masuk?

Haji Isam lewat PT Jhonlin Baratama sudah bersepakat untuk membeli 10.084.088.370 saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN).

Investasi Transisi Energi Butuh Kepastian Regulasi dan Dukungan Danantara
| Rabu, 07 Oktober 2026 | 10:10 WIB

Investasi Transisi Energi Butuh Kepastian Regulasi dan Dukungan Danantara

Berbagai kajian memperkirakan ada peluang investasi dengan nilai signifikan untuk menggarap berbagai jenis proyek transisi energi di Indonesia.

GOTO Mau Pangkas 32,18 Miliar Saham Treasuri, Bagaimana Efeknya?
| Rabu, 07 Oktober 2026 | 10:00 WIB

GOTO Mau Pangkas 32,18 Miliar Saham Treasuri, Bagaimana Efeknya?

Penarikan 32,18 miliar saham treasuri GOTO akan mengurangi jumlah saham beredar. Alhasil, dengan asumsi laba tetap, EPS akan meningkat.

Lengkap Sudah, Seluruh Saham BUMN Karya Kena Suspensi Setelah PTPP Ikut Disetop Bursa
| Rabu, 07 Oktober 2026 | 09:35 WIB

Lengkap Sudah, Seluruh Saham BUMN Karya Kena Suspensi Setelah PTPP Ikut Disetop Bursa

Sederet investor institusi asing dan lokal hingga investor individu nyangkut di saham PTPP akibat suspensi. 

Harga Batubara Di Atas US$ 150, Cek Saham Pilihan Analis untuk Kuartal IV
| Rabu, 07 Oktober 2026 | 09:18 WIB

Harga Batubara Di Atas US$ 150, Cek Saham Pilihan Analis untuk Kuartal IV

Dampaknya harga batubara terhadap ASP dan laba emiten bergantung pada kalori, porsi ekspor, serta waktu penyesuaian harga jual.

Manuver ULTJ Akuisisi FFI: Ujian Valuasi Premium dan Dilusi Saham
| Rabu, 07 Oktober 2026 | 09:04 WIB

Manuver ULTJ Akuisisi FFI: Ujian Valuasi Premium dan Dilusi Saham

Jika Frisian Flag Indonesia dikonsolidasikan, pendapatan ULTJ berpotensi meningkat lebih dari dua kali lipat. 

Menakar Prospek Saham Saham Sektor Properti Seiring Stimulus Perumahan 2027
| Rabu, 07 Oktober 2026 | 09:00 WIB

Menakar Prospek Saham Saham Sektor Properti Seiring Stimulus Perumahan 2027

Analis merekomendasikan netral bagi sektor properti, karena tekanan daya beli masyarakat dan suku bunga kredit KPR yang masih relatif tinggi.

INDEKS BERITA

Terpopuler