KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan tidak akan bergerak banyak pada perdagangan Senin (23/8). Sekadar mengingatkan, Jumat lalu (20/8), IHSG ditutup menguat sebesar 0,64% ke level 6.030,77. Tapi dalam sepekan, indeks saham minus 1,77%.
Namun, pada sepekan terakhir juga, investor asing jutru masih mencatatkan aksi beli. Nilai beli bersih atau net buy investor asing tercatat mencapai Rp 2,3 triliun.
Analis Artha Sekuritas Dennies Christoper Jordan memprediksi IHSG berpotensi melemah. Secara teknikal, penguatan indeks saham dalam jangka pendek akan tertahan di resistance moving average 50.
"Pergerakan indeks masih akan dipengaruhi oleh kekhawatiran akan tapering serta perkembangan terkait kasus Covid-19, terutama kasus harian di Amerika Serikat yang kembali naik signifkan," papar Dennies.
Bank sentral Amerika Serikat (AS) The Fed juga memberi sinyal akan melakukan pengetatan moneter di akhir 2021 atau awal 2022. Hari ini, Dennies memperkirakan, IHSG akan bergerak di rentang support 5.907-5.968 dan resitsance 6.060-6.091.
Analis Panin Sekuritas William Hartanto punya prediksi berbeda. Setelah selesai menyentuh support dan membentuk pola hammer, ia menilai IHSG berpotensi melanjutkan rebound. "IHSG berpotensi bergerak menguat dalam rentang 5.944 sampai dengan 6.114," kata dia, Minggu (22/8).
Tapi, dalam sepekan ke depan, dia menilai sentimen taper tantrum akan menjadi faktor penggerak IHSG. Dia khawatir, rencana bank sentral AS melakukan pengetatan moneter lebih cepat akan memicu panic selling. Ini bisa menekan IHSG.
Analis Phintraco Sekuritas Valdy Kurniawan dalam risetnya menulis, IHSG akan bergerak terbatas hari ini. Hitungan dia, support ada di kisaran 5.975 dan resistance di 6.130. "IHSG masih dibayangi oleh potensi pelemahan nilai tukar rupiah," sebut dia.
Pelemahan rupiah ini bisa terjadi karena spekulasi pelaku pasar terhadap pengurangan stimulus moneter oleh The Fed di akhir tahun ini. Pelaku pasar juga akan mencermati sejumlah data ekonomi eksternal. Antara lain indeks manufaktur Jepang, Jerman, Inggris, dan AS.
