Imbal Hasil Mini, Pesaing Terus Bertambah, Reksadana Lesu

Kamis, 11 Juli 2024 | 06:56 WIB
Imbal Hasil Mini, Pesaing Terus Bertambah, Reksadana Lesu
[ILUSTRASI. Reksadana.]
Reporter: Nadya Zahira, Sugeng Adji Soenarso | Editor: Ahmad Febrian

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai aktiva bersih (NAB) reksadana melorot selama tiga tahun terakhr. Kecenderungan penurunan NAB terekam dalam data Otoritas Jasa Keuangan (OJK). 

Pada tahun 2022, NAB reksadana secara keseluruhan turun 12,40% menjadi  Rp 508,18 triliun. Kemudian di  tahun 2023 menyusut 0,63% menjadi Rp 504,94 triliun. Tren itu berlanjut di tahun 2024 ini dengan penurunan sebesar 0,96% sejak awal tahun. NAB reksadana tercatat sebesar Rp 490 triliun.

Begitu juga dengan dana kelolaan atau asset under management (AUM). Data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), pada tahun 2021 menyebut total AUM industri sebesar Rp 826,70 triliun.

Pada tahun 2022, nilai AUM turun 3,56% secara tahunan  alias year on year (yoy) menjadi Rp 797,31 triliun, dan pada tahun 2023, AUM kembali terkoreksi 0,44% yoy menjadi Rp 793,78 triliun. Sepanjang tahun berjalan ini, penurunan AUM sebesar 0,64% menjadi Rp 788,69 triliun hingga Mei 2024.

Namun kecenderungan berbeda terjadi pada jumlah investor reksadana, yang masih tumbuh secara konsisten. Hingga Mei 2024, jumlah investor reksadana sebesar 12,17 juta. Angka itu melesat dari posisi per 2021 yang hanya 6,84 juta.

Ada banyak faktor yang menjadi penyebab investor menjauh dari reksadana.Direktur Infovesta Utama, Parto Kawito menjelaskan, ada sejumlah faktor pemicu lesunya industri reksadana. 

Baca Juga: Pefindo Tunggu Aturan OJK Terkait Penilaian Reksadana dan Penilaian Manajer Investasi

Pertama, mayoritas investor yang masuk merupakan ritel. Kedua, return yang dihasilkan kurang maksimal. Ketiga,  banyak pilihan alternatif instrumen investasi.  Parto menyebutkan, penurunan return reksadana terjadi sejak enam-tujuh tahun terakhir. Salah satu penyebab,  fund inflow berkurang.

Lalu mengapa jumlah investor reksadana justru meningkat?  "Banyak investor kecil masuk ke reksadana. ni mungkin didorong platform APERD berbasis online, yang memudahkan akses bagi investor ritel dengan dana terbatas," ujar SVP Head of Business Development Division Henan Putihrai Asset Management (HPAM),  Reza Fahmi

Head of Fixed Income Schroders Indonesia, Soufat Hartawan melanjutkan, tahun ini banyak reksadana terproteksi yang mulai jatuh tempo. "Sehingga secara bertahap investor menarik dana," ujarnya, Senin (8/7). Ia juga melihat, terjadi peralihan ke obligasi pemerintah. Akses yang mudah menjadi pendorong peralihan investor. "Ini membuat perpindahan sebagian dana dari reksadana ke investasi obligasi pemerintah," kata Soufat.

Direktur Utama Surya Timur Alam Rayat Management (STAR AM), Hanif Mantiq menilai, sentimen lain adalah volatilitas di pasar saham masih besar. Jadi, investor mencari investasi yang lebih aman seperti emas dan obligasi.

Popularitas aset kripto dinilai tidak ikut andil dalam penurunan industri reksadana. Pasalnya, risiko dalam berinvestasi di aset kripto lebih tinggi dibandingkan dengan produk investasi reksadana.  Hanif meyakini, prospek kinerja reksadana di semester II 2024 akan bergerak positif. Sentimen penurunan bunga The Fed menjadi pendorong. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi kembali ke 7.800 di akhir tahun 2024.

Direktur Batavia Prosperindo Asset Management (BPAM), Eri Kusnadi menilai reksadana pendapatan tetap dan pasar uang akan menjadi jawara. Meski return lebih rendah dibanding reksadana saham, kelas aset ini tetap relevan untuk diversifikasi portofolio dan perlindungan nilai investasi. "Ditambah, pergeseran yield naik sudah selesai di awal tahun," sebutnya.          

Bagikan

Berita Terkait

Berita Terbaru

Saham Prajogo Pangestu Mayoritas Melempem di Awal 2026, Investor Lebih Selektif
| Jumat, 16 Januari 2026 | 11:00 WIB

Saham Prajogo Pangestu Mayoritas Melempem di Awal 2026, Investor Lebih Selektif

Saham afiliasi Prajogo Pangestu melemah di awal Januari 2026, Analisis menyebut kondisi ini dalam fase konsolidasi.

United Tractors (UNTR) Hentikan Periode Buyback Saham
| Jumat, 16 Januari 2026 | 09:13 WIB

United Tractors (UNTR) Hentikan Periode Buyback Saham

PT United Tractors Tbk (UNTR) menuntaskan pelaksanaan pembelian kembali saham alias buyback sejak 14 Januari 2026.

Bintang Cahaya Investment Resmi Jadi Pengendali Agro Yasa Lestari (AYLS)
| Jumat, 16 Januari 2026 | 08:56 WIB

Bintang Cahaya Investment Resmi Jadi Pengendali Agro Yasa Lestari (AYLS)

Setelah merampungkan proses akuisisi saham, PT Bintang Cahaya Investment resmi jadi pengendali baru PT Agro Yasa Lestari Tbk (AYLS). 

Menguat 1,55% Dalam Sepekan, Laju IHSG Ditopang Harga Komoditas
| Jumat, 16 Januari 2026 | 08:51 WIB

Menguat 1,55% Dalam Sepekan, Laju IHSG Ditopang Harga Komoditas

Dalam sepekan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah mengakumulasi penguatan 1,55%.​ Faktor domestik dan global, jadi sentimen pendorong IHSG.

Rencana Pemangkasan Komisi Aplikasi Bisa Menekan Kinerja GOTO
| Jumat, 16 Januari 2026 | 08:43 WIB

Rencana Pemangkasan Komisi Aplikasi Bisa Menekan Kinerja GOTO

Wacana penurunan komisi tersebut berpotensi menekan kinerja keuangan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO).

Saham Emiten Rokok Bersiap Mengepul Lagi
| Jumat, 16 Januari 2026 | 08:35 WIB

Saham Emiten Rokok Bersiap Mengepul Lagi

Saham-saham emiten rokok diprediksi bangkit pada tahun ini. Kepastian margin usaha akibat kebijakan tarif cukai jadi katalis utama.

ARCI Gencar Eksplorasi di Tengah Penguatan Harga Emas
| Jumat, 16 Januari 2026 | 07:00 WIB

ARCI Gencar Eksplorasi di Tengah Penguatan Harga Emas

ARCI gelontorkan US$ 10 juta (Rp168,53 M) eksplorasi 397 titik di tahun 2025, Analis menyebut tren bullish dengan target harga Rp 1.950.

Saham Emiten-Emiten Terafiliasi Boy Thohir Menghijau di Awal Tahun 2026
| Jumat, 16 Januari 2026 | 06:08 WIB

Saham Emiten-Emiten Terafiliasi Boy Thohir Menghijau di Awal Tahun 2026

Emiten afiliasi Boy Thohir (ADRO, ADMR, MBMA, AADI) menguat didorong komoditas. Proyeksi laba MBMA 2025 US$ 28,7 juta, dan target harga Rp 850.

Miliaran Saham Dilepas Investor Institusi Asing di BBCA, Sementara BMRI Diakumulasi
| Jumat, 16 Januari 2026 | 04:30 WIB

Miliaran Saham Dilepas Investor Institusi Asing di BBCA, Sementara BMRI Diakumulasi

Pemborong terbesar saham BBCA adalah Blackrock Inc yang membeli 12,10 juta saham dan tertcatat pada 14 Januari 2026.

Peluang Rebound Terbuka, Saham BUKA Harus Bertahan di Level Segini
| Jumat, 16 Januari 2026 | 03:30 WIB

Peluang Rebound Terbuka, Saham BUKA Harus Bertahan di Level Segini

Ketahanan harga saham BUKA jangka pendek, jadi kunci utama untuk mengonfirmasi apakah penguatan ini bersifat sementara atau awal tren yang solid.

INDEKS BERITA

Terpopuler