Indonesia Masih Kesulitan Memberantas Fintech Ilegal

Jumat, 22 Februari 2019 | 06:34 WIB
Indonesia Masih Kesulitan Memberantas Fintech Ilegal
[]
Reporter: Ferrika Sari | Editor: Yuwono Triatmodjo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Memberantas financial technology (fintech) peer to peer (P2P) lending ilegal ternyata bukan pekerjaan mudah bagi Satuan Tugas Waspada Investasi. Penyebabnya, fintech ilegal terus bertambah, kendati banyak juga yang sudah tutup.

Satgas Waspda Investasi telah memblokir tidak kurang dari 635 fintech ilegal sepanjang tahun 2018–2019. Ketua Satgas Waspada Investasi Tongam Lumban Tobing mengatakan, fintech tersebut bukan hanya berasal dari Indonesia, tetapi juga dari China, Rusia, Korea. Amerika Serikat, Kanada dan Singapura.

Tongam mengatakan tidak mudah membasmi fintech ilegal dari luar negeri, karena mereka bekerja secara virtual. Selain itu, fintech ilegal kerap beroperasi kembali dengan nama berbeda meski telah diblokir. Setelah diblokir, mereka buat baru dengan nama lain. Bahkan ada yang menggunakan nama yang mirip dengan fintech terdaftar di OJK. Misal membedakan dari segi spasi, kata Togam.

Kasubdit II Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Kombes Ryckynaldo Chairul mengatakan, fintech tersebut meng-hosting atau menampung data ke 107 jaringan server yang berlokasi di lima negara. Bahkan, ada satu fintech yang menampung data di sembilan server yang tersebar di tiga negara. Bayangkan, kalau satu atau dua fintech bermasalah dan melakukan berbagai tindakan pelanggaran, tentu kami kesulitan melacaknya," ujar dia.

Direktur Jenderal Aptika Kemenkominfo Sammy A Pangarepan membenarkan, bahwa fintech ilegal juga berasal dari luar negeri. Pihaknya belum mengecek server fintech dari luar, karena tugasnya hanya melakukan pemblokiran situs dan aplikasi fintech berdasarkan rekomendasi dari Satgas Investasi. Kami belum mengecek sampai ke sana (luar negeri). Tetapi kami mengimbau kepada masyarakat untuk menggunakan layanan fintech yang sudah terdaftar di OJK, kata dia.

Agak berbeda dengan Indonesia yang kesulitan, pemerintah China memberantas fintech ilegal dengan menangkap para pelakunya. Seperti diberitakan South china Morning Post, ada lebih dari 380 platform P2P yang dituding menggalang dana secara ilegal. Polisi pun membekukan aset senilai 10 miliar atau setara US$ 1,5 miliar.

Pemerintah China mengumumkan telah menangkap 62 tersangka operator platform P2P ilegal. Termasuk yang beroperasi di 16 negara semisal Thailand dan Kamboja. Kesulitan otoritas dalam negeri memberantas fintech ilegal maka membuka peluang korban akan bertambah.

Bagikan

Berita Terbaru

Jayamas Medica (OMED) Merawat Pertumbuhan Bisnis
| Senin, 20 April 2026 | 04:20 WIB

Jayamas Medica (OMED) Merawat Pertumbuhan Bisnis

Selain mendorong penjualan, perusahaan ini juga menargetkan peningkatan profitabilitas. Untuk laba bersih OMED membidik margin 18% pada 2026

Efek Geopolitik Menambah Tantangan Modal Ventura
| Senin, 20 April 2026 | 04:15 WIB

Efek Geopolitik Menambah Tantangan Modal Ventura

Data OJK menunjukkan angka pertumbuhan pembiayaan sebesar 0,73% secara tahunan menjadi Rp 16,46 triliun per Februari 2026.

Biaya Produksi Bikin Harga Elektronik Naik
| Senin, 20 April 2026 | 04:10 WIB

Biaya Produksi Bikin Harga Elektronik Naik

Harga plastik hingga tembaga sudah melonjak tinggi saat ini. Bahan-bahan tersebut menjadi komponen utama.

Pertumbuhan Ekonomi dan Daya Beli Masyarakat Terusik Kenaikan Harga Energi dan Barang
| Senin, 20 April 2026 | 03:54 WIB

Pertumbuhan Ekonomi dan Daya Beli Masyarakat Terusik Kenaikan Harga Energi dan Barang

Tanpa intervensi fiskal yang tepat, daya beli kelas menengah berisiko kian tergerus hingga akhir 2026.

Fakta Mengejutkan: De-dollarisasi BRICS Kuras US Treasury, Tapi Pasar Membengkak
| Senin, 20 April 2026 | 03:09 WIB

Fakta Mengejutkan: De-dollarisasi BRICS Kuras US Treasury, Tapi Pasar Membengkak

Data terbaru menunjukkan BRICS melepas obligasi AS, namun pasar global justru mencatatkan kenaikan. Pahami potensi keuntungan yang tersembunyi.

BREN dan DSSA Lanjut Rebound Usai Masuk Daftar HSC, Cek Investor Asing yang Akumulasi
| Minggu, 19 April 2026 | 22:58 WIB

BREN dan DSSA Lanjut Rebound Usai Masuk Daftar HSC, Cek Investor Asing yang Akumulasi

Analis berpendapat investor institusi asing tetap melakukan akumulasi karena fokus pada fundamental jangka panjang.

Pasar Emas Diliputi Ketidakpastian, Jangka Menengah Prospeknya Masih Menjanjikan
| Minggu, 19 April 2026 | 19:40 WIB

Pasar Emas Diliputi Ketidakpastian, Jangka Menengah Prospeknya Masih Menjanjikan

Analis menyebut bahwa harga emas saat ini memiliki beberapa level teknikal penting yang perlu diperhatikan

Darma Henwa (DEWA) Pertimbangkan Opsi IPO Anak Usaha, Gayo Mineral Resources
| Minggu, 19 April 2026 | 10:44 WIB

Darma Henwa (DEWA) Pertimbangkan Opsi IPO Anak Usaha, Gayo Mineral Resources

Ada kebutuhan investasi besar dan mempertimbangkan pendanaan eksternal, DEWA mengkaji sejumlah opsi sumber pendanaan, tidak terbatas pada IPO.

IHSG Sepekan Melaju, Ini Pemicu Kenaikannya
| Minggu, 19 April 2026 | 09:24 WIB

IHSG Sepekan Melaju, Ini Pemicu Kenaikannya

IHSG pekan lalu melesat 2,35%. Prediksi terbaru ungkap level krusial yang harus diperhatikan investor sebelum ambil keputusan.

Profil Emiten: WBSA Raih Rp 302 Miliar dari IPO, Akuisisi Jadi Kunci Pertumbuhan
| Minggu, 19 April 2026 | 09:12 WIB

Profil Emiten: WBSA Raih Rp 302 Miliar dari IPO, Akuisisi Jadi Kunci Pertumbuhan

PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA) sukses meraup Rp 302,4 miliar dari IPO. Mayoritas dana untuk akuisisi perusahaan afiliasi. 

INDEKS BERITA

Terpopuler