Inflasi di Meja Makan
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pada hari -hari ini, Badan Pusat Statistik kembali merilis data-data ekonomi terbaru. Salah satu yang rutin adalah data perkembangan harga bahan pokok, inflasi.
Inflasi Indonesia di atas kertas memang masih berada dalam kisaran sasaran Bank Indonesia. Ekonomi pun tampak masih tumbuh.
Namun di balik angka-angka makro tersebut, semakin banyak keluarga kelas menengah merasakan dompet yang kian sesak. Bukan karena penghasilannya tiba-tiba turun, melainkan karena kebutuhan sehari-hari menyerap porsi pendapatan yang semakin besar.
Harga beberapa komoditas pangan seperti beras, telur, cabai rawit, bawang merah, bawang putih, kompak mengalami perubahan sepanjang Juli 2026. Kalau dirata-rata belanja yang sama dalam sebulan, misalnya beras 20 kilo, telur 6 kilo dan lain lain, akan ketemu angka Harga yang harus dibayar lebih mahal ketimbang bulan sebelumnya.
Dengan asumsi pola konsumsi rumah tangga yang sama dari bulan sebelumnya, kenaikan harga beberapa komoditas pangan berpotensi menambah beban belanja bulanan keluarga. Bagi lapisan masyarakat yang rutin menerima bantuan sosial tentu masih punya bantalan bantuan sosial beras maupun duit tunai tetap mengalir deras pada saat ini.
Memang ada kelompok masyarakat kita yang terjepit? Gambaran kasar saja, survei konsumen Bank Indonesia bulan Mei 2026 terlihat fakta betapa anjloknya daya beli. Bukan melihat angka indeks yang masih di atas 100 poin, tapi yang diwaspadai adalah angka terendah dalam delapan bulan terakhir.
Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat, hingga Juni 2026 nominal simpanan di bawah Rp 100 juta memang naik 2,1% dalam sebulan menjadi Rp 1.166,76 triliun. Dalam setahun, masih tumbuh 5,2%. Namun rata-rata per rekening berdasarkan survei Perbanas, justru merosot, dari Rp 3 jutaan menjadi hanya Rp 1,7 jutaan. Fantastis!
Apalagi, demi efisiensi, sebagian besar pelaku usaha pilih menghapus tunjangan yang biasa diberikan seperti pendidikan. Tampaknya cuma pegawai pemerintah yang beruntung dapat gaji ke-14 meskipun kas negara sedang empot-empotan.
Kelompok yang tak tersentuh bantuan pemerintah tentu tak bisa berharap seperti ASN. Perusahaan tidak mem-PHK karyawan saja sudah cukup bersyukur. Sehingga menggerogoti tabungan untuk bertahan jadi pilihan akhir.
Meskipun susah, toh rakyat terhibur omon-omonimic dari penguasa tentang janji manis kesejahteraan.
