Inflasi di Meja Makan

Senin, 03 Agustus 2026 | 06:10 WIB
Inflasi di Meja Makan
[ILUSTRASI. TAJUK - Syamsul Ashar (KONTAN/Indra Surya)]
Syamsul Ashar | Managing Editor

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pada hari -hari ini, Badan Pusat Statistik kembali merilis data-data ekonomi terbaru. Salah satu yang rutin adalah data perkembangan harga bahan pokok, inflasi. 

Inflasi Indonesia di atas kertas memang masih berada dalam kisaran sasaran Bank Indonesia. Ekonomi pun tampak masih tumbuh. 

Namun di balik angka-angka makro tersebut, semakin banyak keluarga kelas menengah merasakan dompet yang kian sesak. Bukan karena penghasilannya tiba-tiba turun, melainkan karena kebutuhan sehari-hari menyerap porsi pendapatan yang semakin besar.

Harga beberapa komoditas pangan seperti beras, telur, cabai rawit, bawang merah, bawang putih, kompak mengalami perubahan sepanjang Juli 2026. Kalau dirata-rata belanja yang sama dalam sebulan, misalnya beras 20 kilo, telur 6 kilo dan lain lain, akan ketemu angka Harga yang harus dibayar lebih mahal ketimbang bulan sebelumnya. 

Dengan asumsi pola konsumsi rumah tangga yang sama dari bulan sebelumnya, kenaikan harga beberapa komoditas pangan berpotensi menambah beban belanja bulanan keluarga. Bagi lapisan masyarakat yang rutin menerima bantuan sosial tentu masih punya bantalan bantuan sosial beras maupun duit tunai tetap mengalir deras pada saat ini.

Memang ada kelompok masyarakat kita yang terjepit? Gambaran kasar saja, survei konsumen Bank Indonesia bulan Mei 2026 terlihat fakta betapa anjloknya daya beli. Bukan melihat angka indeks yang masih di atas 100 poin, tapi yang diwaspadai adalah angka terendah dalam delapan bulan terakhir.

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat, hingga Juni 2026 nominal simpanan di bawah Rp 100 juta memang naik 2,1% dalam sebulan menjadi Rp 1.166,76 triliun. Dalam setahun, masih tumbuh 5,2%. Namun rata-rata per rekening berdasarkan survei Perbanas, justru merosot, dari Rp 3 jutaan menjadi hanya Rp 1,7 jutaan. Fantastis! 

Apalagi, demi efisiensi, sebagian besar pelaku usaha pilih menghapus tunjangan yang biasa diberikan seperti pendidikan. Tampaknya cuma pegawai pemerintah yang beruntung dapat gaji ke-14  meskipun kas negara sedang empot-empotan. 

Kelompok yang tak tersentuh bantuan pemerintah tentu tak bisa berharap seperti ASN. Perusahaan tidak mem-PHK karyawan saja sudah cukup bersyukur. Sehingga menggerogoti tabungan untuk bertahan jadi pilihan akhir.

Meskipun susah, toh rakyat terhibur omon-omonimic dari penguasa tentang janji manis kesejahteraan.

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Mengawali Bulan Agustus, Berikut Rekomendasi Saham Hari Ini, Senin (3/8)
| Senin, 03 Agustus 2026 | 08:05 WIB

Mengawali Bulan Agustus, Berikut Rekomendasi Saham Hari Ini, Senin (3/8)

Sentimen pasar awal pekan ini akan dipengaruhi oleh rilis sejumlah data makro, baik dari dalam negeri maupun global. 

ESG Triputra Agro (TAPG): Mengubah Limbah Sawit Menjadi Energi Terbarukan
| Senin, 03 Agustus 2026 | 07:47 WIB

ESG Triputra Agro (TAPG): Mengubah Limbah Sawit Menjadi Energi Terbarukan

PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) mulai merasakan manfaat dari energi terbarukan. Bukan hanya mengurangi emisi GRK, sekaligus efisiensi energi.

Sang Garda Terdepan di Hulu Migas
| Senin, 03 Agustus 2026 | 07:42 WIB

Sang Garda Terdepan di Hulu Migas

Di balik upaya menjaga pasokan energi tersebut, para pekerja pengeboran migas di sektor hulu menjadi garda terdepan.

Kinerja Ngebut, VKTR Mencetak Laba Rp 10 Miliar, Tumbuh 25%
| Senin, 03 Agustus 2026 | 07:35 WIB

Kinerja Ngebut, VKTR Mencetak Laba Rp 10 Miliar, Tumbuh 25%

Pemulihan industri otomotif nasional juga turut mendorong peningkatan permintaan terhadap produk komponen otomotif perusahaan. 

Rupiah Terpuruk 9 Bulan Beruntun, BI Mesti Waspadai Lonjakan Imbal Hasil US Treasury
| Senin, 03 Agustus 2026 | 07:34 WIB

Rupiah Terpuruk 9 Bulan Beruntun, BI Mesti Waspadai Lonjakan Imbal Hasil US Treasury

Apabila imbal hasil US Treasury masih terus tinggi, maka ada kemungkinan BI kembali menaikkan suku bunga acuan.

Kemenperin Perketat Pemantauan Industri
| Senin, 03 Agustus 2026 | 07:33 WIB

Kemenperin Perketat Pemantauan Industri

Kementerian Perindustrian memantau kondisi industri secara berkala guna mendeteksi potensi persoalan sejak dini.

Menjaga Nyala Minyak dan Gas Hutan Salawati dari Tanah Papua
| Senin, 03 Agustus 2026 | 07:31 WIB

Menjaga Nyala Minyak dan Gas Hutan Salawati dari Tanah Papua

Rig pengeboran minyak PDSI 11.2 menjulang kokoh ke langit. Rig milik Pertamina EP Papua Field itu berdiri sebagai simbol eksplorasi energi negeri.

Rally Saham BBCA Melambat: Konsolidasi Sehat atau Awal Pembalikan Arah?
| Senin, 03 Agustus 2026 | 07:21 WIB

Rally Saham BBCA Melambat: Konsolidasi Sehat atau Awal Pembalikan Arah?

Risiko domestik seperti arah kebijakan BI Rate, pergerakan rupiah, maupun sentimen eksternal, masih berpotensi menekan kinerja emiten perbankan.

History, bukan His Story
| Senin, 03 Agustus 2026 | 07:10 WIB

History, bukan His Story

Transformational leader menjadi relevan bilamana hadir tuntutan perbaikan yang begitu besar dan kebutuhan perubahan yang kuat. 

Nasib Gelas Kopi Berubah Usai Diseruput di Kopi Nako
| Senin, 03 Agustus 2026 | 07:10 WIB

Nasib Gelas Kopi Berubah Usai Diseruput di Kopi Nako

Kopi Nako mengolah gelas plastik bekas pakai dari konsumennya untuk dijadikan furnitur di kedai mereka. Apakah menjadi s

INDEKS BERITA

Terpopuler