Ingin Pangkas Emisi dari Penerbangan, Shell Bersiap Terbangkan Produksi Avtur Hijau

Senin, 20 September 2021 | 14:47 WIB
Ingin Pangkas Emisi dari Penerbangan, Shell Bersiap Terbangkan Produksi Avtur Hijau
[ILUSTRASI. FILE PHOTO: Ilustrasi logo Shell, 29 Januari 2015. REUTERS/Toby Melville/File Photo]
Reporter: Sumber: Reuters | Editor: Thomas Hadiwinata

KONTAN.CO.ID - LONDON. Royal Dutch Shell berencana untuk mulai memproduksi bahan bakar jet rendah karbon dalam skala besar pada tahun 2025. Ini bagian dari upaya membantu industri penerbangan dunia memangkas emisi gas rumah kaca.

Penerbangan yang menyumbang 3% dari emisi karbon dunia, dianggap sebagai salah satu sektor yang kesulitan mengurangi emisi karena terbatasnya teknologi alternatif untuk mesin berbahan bakar jet.

Raksasa minyak dan gas dunia, Shell, mengatakan, ingin memproduksi dua juta ton bahan bakar penerbangan yang ramah lingkungan (SAF) pada tahun 2025. Target itu meningkat sepuluh kali lipat daripada total output global saat ini.

Baca Juga: Pengusaha keramik menolak usulan tarif pajak karbon

Diproduksi dari minyak goreng bekas, lemak tumbuhan dan hewan, SAF dapat mengurangi hingga 80% emisi penerbangan, kata Shell. Saat ini, Shell hanya menjadi pemasok dari SAF, yang diproduksi pihak lain, termasuk penyulingan Finlandia Neste. 

Shell, Senin (20/9), menyatakan, menginginkan 10% dari produksi globalnya di tahun 2030 adalah bahan bakar jet hijau yang dapat dicampur dengan bahan bakar penerbangan biasa, hingga tidak membutuhkan perubahan mesin pesawat. 

SAF menyumbang kurang dari 0,1% dari permintaan bahan bakar penerbangan global saat ini, yang volumenya mencapai sekitar 330 juta ton pada 2019, kata bank investasi Jefferies.

Baca Juga: SKK Migas: Realisasi investasi hulu migas di semester I 2021 masih jauh dari target

Pertumbuhan pasar menghadapi beberapa rintangan, terutama karena biaya SAF, yang saat ini mencapai 8 kali lebih tinggi dari bahan bakar jet biasa, dan ketersediaan bahan baku yang terbatas.

Shell mengatakan ingin orang lain mengikuti jejaknya. “Kami juga mengharapkan perusahaan lain untuk menambahkannya dengan pabrik produksi mereka sendiri,” tutur Anna Mascolo, kepala Shell Aviation, mengatakan kepada Reuters.

Pemerintah Amerika Serikat (AS), pekan lalu, mengatakan rencana pengurangan emisi gas rumah kaca pesawat sebesar 20% pada akhir dekade dengan secara signifikan meningkatkan penggunaan SAF.

Dengan memasang target pengurangan emisi dari bahan bakar yang dijualnya menjadi nol pada tahun 2050, Shell tengah melakukan perombakan besar-besaran yang bertujuan untuk menghasilkan lebih banyak bahan bakar rendah karbon seperti biodiesel dan SAF, serta hidrogen.

Shell berencana untuk membangun pabrik pengolahan biofuel di kilang Rotterdam dengan kapasitas tahunan sebesar 820.000 ton. Separuh dari output di fasilitas tersebut direncanakan SAF. Pabrik tersebut diharapkan mulai berproduksi pada 2024.

Dalam laporan terbaru tentang dekarbonisasi penerbangan yang diterbitkan bersama dengan Deloitte, Shell menyerukan sektor tersebut untuk mengurangi emisinya menjadi nol bersih pada tahun 2050.

Baca Juga: Honda targetkan penjualan kendaraan listrik Prolouge di AS 70.000 unit pada 2024

Asosiasi Transportasi Udara Internasional, yang mewakili sebagian besar maskapai penerbangan dunia, bertujuan untuk mengurangi separuh emisi pada saat itu.

Mengurangi emisi hingga nol bersih dapat dicapai dengan menggunakan lebih banyak bahan bakar rendah karbon dan mengimbangi emisi yang tersisa melalui kredit karbon.

Shell juga mengembangkan bahan bakar penerbangan sintetis yang terbuat dari hidrogen dan karbon daur ulang.

“Avtur yang berkelanjutan, baik bio SAF maupun SAF sintetis, tetap menjadi satu-satunya solusi terbesar,” kata Mascolo.

Selanjutnya: Tantang Dollar AS, Bank Sentral China (PBOC) Mempromosikan Internasionalisasi Yuan

 

Bagikan

Berita Terbaru

Ekspektasi Bunga AS Mekar Bikin Pamor Emas Pudar
| Kamis, 25 Juni 2026 | 22:00 WIB

Ekspektasi Bunga AS Mekar Bikin Pamor Emas Pudar

Setelah sempat mencetak rekor tertinggi pada awal tahun ini, harga emas terkoreksi hingga jatuh ke bawah level psikologis US$ 4.000 per ons troi.

MDKA Siap Membagikan Dividen Rp 300 Miliar
| Kamis, 25 Juni 2026 | 11:16 WIB

MDKA Siap Membagikan Dividen Rp 300 Miliar

Dividen tunai tersebut akan dibagikan dari sebagian saldo laba MDKA dari tahun buku 2025 yang belum ditentukan penggunaannya.​

Terbitkan Obligasi Jumbo Rp 2,25 Triliun, TPIA Tingkatkan Modal Kerja
| Kamis, 25 Juni 2026 | 11:03 WIB

Terbitkan Obligasi Jumbo Rp 2,25 Triliun, TPIA Tingkatkan Modal Kerja

Dana hasil penerbitan obligasi akan digunakan untuk kebutuhan modal kerja TPIA. Terutama, mendukung pengadaan bahan baku produksi.​

Enam Emiten Antre IPO, Sinyal Kebangkitan Pasar Saham atau Sekadar Cari Pendanaan?
| Kamis, 25 Juni 2026 | 09:20 WIB

Enam Emiten Antre IPO, Sinyal Kebangkitan Pasar Saham atau Sekadar Cari Pendanaan?

Saat sentimen positif mendominasi pasar, minat investor terhadap aset berisiko meningkat sehingga penyerapan saham baru menjadi lebih baik.

Enam Perusahaan Calon IPO, Ada  Afiliasi Djarum dan Emtek, Perhatikan Fundamental
| Kamis, 25 Juni 2026 | 09:10 WIB

Enam Perusahaan Calon IPO, Ada Afiliasi Djarum dan Emtek, Perhatikan Fundamental

Enam perusahaan siap IPO. Namun analis sepakat dua emiten ini paling prospektif. Cek fundamental dan potensi untungnya.

Masih Ada  Peringatan dari MSCI, IHSG Masih Terancam Lesu
| Kamis, 25 Juni 2026 | 08:58 WIB

Masih Ada Peringatan dari MSCI, IHSG Masih Terancam Lesu

Indonesia dipertahankan emerging market, tapi IHSG malah terjun bebas di bawah 6.000. Ada kekhawatiran besar di balik keputusan MSCI.

Transaksi Afiliasi Rp 18,27 Triliun, Rajawali Kapital Emas Jadi Pengendali ARCI
| Kamis, 25 Juni 2026 | 08:44 WIB

Transaksi Afiliasi Rp 18,27 Triliun, Rajawali Kapital Emas Jadi Pengendali ARCI

Rajawali Corpora lepas seluruh saham ARCI ke afiliasi senilai Rp 18,27 T. Perubahan ini bisa pengaruhi valuasi saham ARCI.

Indeks Sudah Jebol ke 5.800, Net Sell Rp 6 Triliun, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini
| Kamis, 25 Juni 2026 | 08:06 WIB

Indeks Sudah Jebol ke 5.800, Net Sell Rp 6 Triliun, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

Jika hingga November 2026 tidak ada perubahan signifikan, ada peluang penurunan status menjadi frontier market. 

ARPU TLKM, EXCL, dan ISAT Naik, tapi Ruang Kenaikan Tarif Mulai Menyempit
| Kamis, 25 Juni 2026 | 07:55 WIB

ARPU TLKM, EXCL, dan ISAT Naik, tapi Ruang Kenaikan Tarif Mulai Menyempit

Prospek sektor telekomunikasi dalam jangka menengah masih dinilai positif, amun narasi pertumbuhannya mulai mengalami pergeseran.

Saham DSSA Mulai Bangkit Usai Keluar dari MSCI dan FTSE, Masih Layak Dibeli?
| Kamis, 25 Juni 2026 | 07:34 WIB

Saham DSSA Mulai Bangkit Usai Keluar dari MSCI dan FTSE, Masih Layak Dibeli?

DSSA memiliki eksposur yang kuat di sektor energi, pembangkit listrik, serta mulai memperluas bisnis ke sektor transisi energi dan EBT.

INDEKS BERITA