Berita Bisnis

Investor Asing Tertarik Berbisnis Bank di Tanah Air

Kamis, 14 Oktober 2021 | 07:05 WIB
Investor Asing Tertarik Berbisnis Bank di Tanah Air

Reporter: Maizal Walfajri | Editor: Rizki Caturini

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Investor asing makin gemar mengempit saham perbankan lokal. Sentimen bank digital hingga potensi keuntungan dari net interest income (NIM) menaikkan gairah investor asing.

Keinginan investor asing memiliki bank di Indoensia sah-saha saja di mata Otoritas Jasa Keungan (OJK).  POJK No 12/POJK.03/2021 tentang Bank Umum, pasal 13 Ayat 2 menjelaskan kepemilikan bank berbadan hukum Indonesia oleh warga negara asing atau badan hukum asing, paling banyak 99% dari modal disetor.
 
Investor asing lebih memilih bank kecil hingga menengah dibandingkan bank kelas kakap. Maklum, Bank Rakyat Indonesia dan Bank Mandiri sebagai bank beraset paling besar dimiliki oleh negara. 
 
Sementara bank menengah, KB Bukopin resmi menjadi dimiliki KB Kookmin dari Korea Selatan. Bank Permata juga telah diakuisisi oleh Bangkok Bank dari Thailand. Di kelas bank kecil, Bank Kesejahteraan Ekonomi (BKE) sudah berubah menjadi Seabank Indonesia, pasca diakuisisi oleh induk e-commerce Shopee. 
 
Asing juga gemar masuk lewat upaya bank memperkuat modal melalui rights issue. Asing semakin mendominasi di Bank Woori Saudara. Woori semakin mendominasi dengan kepemilikan 84% dari sebelumnya 79% sehingga Arifin Panigoro terdilusi dari 9,6% menjadi 7,5%. Allo Bank menjelang rights issue Jumat mendatang juga terjadi crossing asing pada Selasa (12/10).
 
Kepincut NIM tebal
 
Ekonom dan Direktur Riset CORE Indonesia Piter Abdullah bilang maklum industri perbankan Indonesia diminati asing. Lantaran paling menguntungkan didukung oleh NIM yang tinggi. 
 
“Apalagi mereka tahu kesempatan memiliki bank di Indonesia sangat sulit karena regulator cenderung mengurangi jumlah bank dan tidak memberikan izin bank baru. Satu-satunya nya jalan adalah melakukan akuisisi,” ujar Piter kepada KONTAN, Rabu (13/10). 
 
Bank digital juga dinilai sebagai masa depan perbankan di Indonesia. Bank nantinya akan ditransformasi menjadi bank digital sebagai mesin keuntungan di masa depan.
“Bukan kejar jadi bank terbesar tetapi bank yang menguntungkan. Sekarang ini awal dari persaingan baru perbankan di era digital. Semua bank bisa muncul sebagai pemenang persaingan bank diera digital,” paparnya.
 
Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira melihat beberapa tahun terakhir investor dari Jepang dan Korea Selatan memang agresif masuk ke Indonesia. Lantaran kedua negara itu memiliki pangsa pasar yang stagnan sehingga mencari pasar baru di negara berkambang. 
 
“Faktor NIM yang tinggi, demografi, prospek perekonomian Indonesia yang menjanjikan. Banyak proyek infrastruktur pemerintah butuh pembiayaan sindikasi. Itu yang membuat mereka menarik,” papar Bhima.
 
Selain transformasi menjadi bank digital, memiliki bank sendiri di Indonesia bisa mendukung ekosistem bisnis yang dimiliki di Indonesia seperti lewat layanan remitansi. Sehingga masuk ke bank yang sudah ada lebih murah dan cepat dibandingkan mendirikan bank baru butuh dana Rp 10 triliun dan aturan yang lebih rumit. 
 
 
 


Baca juga