Jarak IHSG dan Rupiah

Rabu, 21 Januari 2026 | 06:10 WIB
Jarak IHSG dan Rupiah
[ILUSTRASI. Wahyu Tri Rahmawati (KONTAN/Steve GA)]
Wahyu Tri Rahmawati | Senior Editor

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berkali-kali mencatat rekor tertinggi baru di awal 2026 ini. Padahal, nilai tukar rupiah melemah ke Rp 16.956 per dolar AS pada Selasa (20/1).

Ini adalah level paling lemah rupiah sepanjang masa. Kekhawatiran pasar yang muncul adalah defisit fiskal yang lebih tinggi tahun ini hingga potensi campur tangan pada bank sentral. 

Di tengah kekhawatiran tersebut, IHSG naik tanpa rem. IHSG tembus all time high baru kemarin di angka 9.174. Kenaikan ini memunculkan pertanyaan mendasar: apakah pasar saham masih mencerminkan kondisi ekonomi yang sebenarnya? 

Di atas kertas, indeks yang terus menanjak memberi kesan optimisme. Di sisi lain, rupiah yang tertekan dan kinerja emiten yang biasa-biasa saja justru menyiratkan kegelisahan. Fenomena ini beberapa kali terjadi dan patut dicermati. 

Pasar saham memang tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi hari ini, melainkan ekspektasi masa depan. Masalah muncul ketika ekspektasi tersebut semakin jauh dari realitas ekonomi dan kinerja perusahaan. Di titik inilah pasar berisiko terlalu optimistis terhadap cerita, bukan terhadap data.

Kenaikan indeks yang tidak diikuti lonjakan laba perusahaan menjadi sinyal awal adanya jarak antara pasar finansial dan ekonomi riil. Ketika pertumbuhan pendapatan stagnan tetapi harga saham tetap naik, maka yang terjadi adalah ekspansi valuasi, bukan pertumbuhan fundamental. 

Investor membayar lebih mahal untuk laba yang sama. Lebih jauh, kenaikan pasar saham yang hanya ditopang oleh segelintir saham membuat gambaran indeks menjadi menyesatkan. 

Di balik indeks yang hijau, banyak saham lain justru tidak bergerak atau bahkan turun. Pasar terlihat kuat tetapi secara struktural rapuh. 

Di sinilah pelemahan rupiah menjadi faktor penentu. Pasar valas umumnya lebih cepat dan lebih jujur dalam membaca risiko makro seperti tekanan global, arah suku bunga, defisit, hingga arus modal. 

Ketika rupiah melemah, pasar memberi sinyal bahwa ada risiko nyata. Pasar saham mungkin bisa mengabaikannya untuk sementara. Tetapi sejarah menunjukkan bahwa sinyal makro jarang bisa dihindari.

Bagi pembuat kebijakan, kondisi ini adalah peringatan dini. Stabilitas makro tetap menjadi fondasi utama kepercayaan pasar. Bagi publik, penting untuk menyadari bahwa indeks saham yang menguat tidak selalu berarti ekonomi sedang baik-baik saja.

Selanjutnya: Indofood CBP Sukses Makmur Masih Terseret Kelesuan Konsumsi

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terkait

Berita Terbaru

IHSG Anjlok: Net Sell Asing Terjadi 3 Pekan Beruntun, SOHO & UNVR Malah Naik
| Sabtu, 07 Februari 2026 | 16:47 WIB

IHSG Anjlok: Net Sell Asing Terjadi 3 Pekan Beruntun, SOHO & UNVR Malah Naik

Pada periode 2-6 Februari 2026, IHSG tumbang 4,73% dan ditutup pada level 7.935,26. Pekan sebelumnya, IHSG telah turun 6,94%.

Anomali Pergerakan Saham BRIS, Diprediksi Nafasnya Kuat Hingga Tembus 3.000
| Sabtu, 07 Februari 2026 | 13:00 WIB

Anomali Pergerakan Saham BRIS, Diprediksi Nafasnya Kuat Hingga Tembus 3.000

Saham Bank Syariah Indonesia (BRIS) naik 5,78% dalam sepekan melebihi kinerja IHSG yang turun -4,47%, efek euforia pasca spin off dari BMRI.

PTPP dan Anak Usaha WIKA Digugat PKPU, Begini Kata Manajemen
| Sabtu, 07 Februari 2026 | 11:00 WIB

PTPP dan Anak Usaha WIKA Digugat PKPU, Begini Kata Manajemen

WIKON diajukan PKPU oleh PT Pratama Widya Tbk (PTPW), sedangkan PTPP diajukan PKPU oleh PT Sinergi Karya Sejahtera.

 Penonaktifan PBI JK Merugikan Rakyat Miskin
| Sabtu, 07 Februari 2026 | 09:00 WIB

Penonaktifan PBI JK Merugikan Rakyat Miskin

BPJS Kesehatan tidak memiliki kewenangan menonaktifkan kepesertaan PBI JK karena menjadi kewenangan Kemensos

Danantara Hilirisasi US$ 7 Miliar, Duet Emiten Mind Id, ANTM dan PTBA Ketiban Berkah
| Sabtu, 07 Februari 2026 | 08:58 WIB

Danantara Hilirisasi US$ 7 Miliar, Duet Emiten Mind Id, ANTM dan PTBA Ketiban Berkah

Danantara melaksanakan groundbreaking enam proyek hilirisasi di 13 lokasi di Indonesia. Total nilai mencapai US$ 7 miliar. 

 Revolusi Melalui Teladan
| Sabtu, 07 Februari 2026 | 08:56 WIB

Revolusi Melalui Teladan

Perjalanan karier Joao Angelo De Sousa Mota dari dunia konstruksi ke pertanian, hingga menjadi Dirut Agrinas

Waspada Potensi Lonjakan Biaya Utang Jangka Pendek
| Sabtu, 07 Februari 2026 | 08:37 WIB

Waspada Potensi Lonjakan Biaya Utang Jangka Pendek

Jika pemangkasan outlook membuat tekanan terhadap pasar SBN berlanjut dan mempengaruhi nilai tukar rupiah, maka imbal hasil berisiko naik

Cadangan Devisa Amblas Terseret Depresiasi Rupiah
| Sabtu, 07 Februari 2026 | 08:28 WIB

Cadangan Devisa Amblas Terseret Depresiasi Rupiah

Penerbitan global bond oleh pemerintah belum mampu menyokong cadangan devisa Indonesia              

Prospek Industri Multifinance Diprediksi Lebih Cerah
| Sabtu, 07 Februari 2026 | 07:25 WIB

Prospek Industri Multifinance Diprediksi Lebih Cerah

Prospek industri multifinance diperkirakan akan lebih cerah tahun ini setelah tertekan pada 2025.​ Piutang pembiayaan diprediksi tumbuh 6%-8%

Mewaspadai Risiko Gugatan Iklim
| Sabtu, 07 Februari 2026 | 07:05 WIB

Mewaspadai Risiko Gugatan Iklim

Ilmu pengetahuan kini sudah bisa menjadi penghubung antara adanya emisi gas rumah kaca dan bencana alam.

INDEKS BERITA

Terpopuler