Jarak IHSG dan Rupiah
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berkali-kali mencatat rekor tertinggi baru di awal 2026 ini. Padahal, nilai tukar rupiah melemah ke Rp 16.956 per dolar AS pada Selasa (20/1).
Ini adalah level paling lemah rupiah sepanjang masa. Kekhawatiran pasar yang muncul adalah defisit fiskal yang lebih tinggi tahun ini hingga potensi campur tangan pada bank sentral.
Di tengah kekhawatiran tersebut, IHSG naik tanpa rem. IHSG tembus all time high baru kemarin di angka 9.174. Kenaikan ini memunculkan pertanyaan mendasar: apakah pasar saham masih mencerminkan kondisi ekonomi yang sebenarnya?
Di atas kertas, indeks yang terus menanjak memberi kesan optimisme. Di sisi lain, rupiah yang tertekan dan kinerja emiten yang biasa-biasa saja justru menyiratkan kegelisahan. Fenomena ini beberapa kali terjadi dan patut dicermati.
Pasar saham memang tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi hari ini, melainkan ekspektasi masa depan. Masalah muncul ketika ekspektasi tersebut semakin jauh dari realitas ekonomi dan kinerja perusahaan. Di titik inilah pasar berisiko terlalu optimistis terhadap cerita, bukan terhadap data.
Kenaikan indeks yang tidak diikuti lonjakan laba perusahaan menjadi sinyal awal adanya jarak antara pasar finansial dan ekonomi riil. Ketika pertumbuhan pendapatan stagnan tetapi harga saham tetap naik, maka yang terjadi adalah ekspansi valuasi, bukan pertumbuhan fundamental.
Investor membayar lebih mahal untuk laba yang sama. Lebih jauh, kenaikan pasar saham yang hanya ditopang oleh segelintir saham membuat gambaran indeks menjadi menyesatkan.
Di balik indeks yang hijau, banyak saham lain justru tidak bergerak atau bahkan turun. Pasar terlihat kuat tetapi secara struktural rapuh.
Di sinilah pelemahan rupiah menjadi faktor penentu. Pasar valas umumnya lebih cepat dan lebih jujur dalam membaca risiko makro seperti tekanan global, arah suku bunga, defisit, hingga arus modal.
Ketika rupiah melemah, pasar memberi sinyal bahwa ada risiko nyata. Pasar saham mungkin bisa mengabaikannya untuk sementara. Tetapi sejarah menunjukkan bahwa sinyal makro jarang bisa dihindari.
Bagi pembuat kebijakan, kondisi ini adalah peringatan dini. Stabilitas makro tetap menjadi fondasi utama kepercayaan pasar. Bagi publik, penting untuk menyadari bahwa indeks saham yang menguat tidak selalu berarti ekonomi sedang baik-baik saja.
