Jurang Digital Lansia

Rabu, 30 September 2026 | 06:10 WIB
Jurang Digital Lansia
[ILUSTRASI. TAJUK - Hendrika Yunapritta (KONTAN/Indra Surya)]
Hendrika Y | Managing Editor

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Struktur demografi Indonesia tengah berada di posisi rawan. Di satu sisi, bonus demografi menjanjikan kelimpahan tenaga kerja. Di lain pihak, dalam paparan pada sesi Demography & Silver Economy: Indonesia's Greatest Opportunity or Biggest Risk, Kepala Lembaga Demografi FEB UI, I Dewa Gede Karma Wisana, menyampaikan potret mengkhawatirkan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 dan National Transfer Accounts (NTA) 2024 menunjukkan tiga generasi terjebak dalam satu neraca ekonomi yang sangat timpang.

Ketimpangan struktural ini terlihat manakala kita membedah kondisi finansial lintas generasi saat ini. Pertama, Gen Z (usia 15–29 tahun) yang berjumlah masif sebagai penopang masa depan bangsa menghadapi tingkat pengangguran terbuka yang masih bertengger di angka 16,4% berdasarkan data Sakernas Februari 2026. 

Kedua, kelompok Milenial dan Gen X (usia 30–59 tahun) memikul beban ganda. Mereka mencatatkan surplus per kapita tertinggi (Rp 33,4 juta pada usia puncaknya di usia 42 tahun), namun harus menggelontorkan transfer masif hingga Rp 1.002 triliun per tahun untuk membiayai anggota keluarga lain. Mereka adalah sandwich generation.

Ketiga, kelompok Boomer berada dalam posisi paling rentan. Data menunjukkan hanya 8,8% lansia yang hidup dari uang pensiun, dan 1,1% ditopang oleh tabungan serta investasi mandiri. Sisanya? Bergantung pada uluran tangan keluarga. 

Kerentanan finansial ini diperparah oleh jurang digital (digital divide). Meski sekitar 49,5% lansia kini memegang gawai, kurang dari 20% mampu menggunakan internet secara mandiri. Hambatan fisik seperti penurunan fungsi penglihatan (presbiopi), ketakutan psikologis (technophobia terhadap penipuan siber), serta desain antarmuka aplikasi (UI/UX) publik maupun healthtech yang sama sekali tidak ramah lansia, membuat mereka seolah terisolasi. 

Pemerintah bersama industri teknologi harus segera mengambil langkah radikal. Misalnya melakukan reformasi sistem pensiun untuk memperluas cakupan jaring pengaman sosial, agar ketergantungan lansia  dapat ditekan secara sistemik. Lalu, mandat khusus bagi penyedia layanan publik digital dan sektor kesehatan untuk merancang antarmuka ramah lansia -- menyediakan fitur aksesibilitas fisik, pendampingan terstruktur, serta keamanan siber yang ketat. Jangan sampai neraca antar-generasi ini tetap dibiarkan pincang.

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terkait

Berita Terbaru

Indonesian Paradise (INPP) Bidik Porsi Pendapatan Berulang 75%
| Rabu, 30 September 2026 | 07:05 WIB

Indonesian Paradise (INPP) Bidik Porsi Pendapatan Berulang 75%

PT Indonesian Paradise Property Tbk (INPP) menargetkan porsi recurring income mencapai 70%-75% terhadap total pendapatan hingga akhir 2026.

Victoria Care (VICI) Masuk Pasar Premium
| Rabu, 30 September 2026 | 07:00 WIB

Victoria Care (VICI) Masuk Pasar Premium

Sejumlah brand akan dilluncurkan untuk mengisi segmen premium dari PT Victoria Care Indonesia Tbk (VICI).

Rupiah dan Aturan Baru Minimal Rp 1 Jadi Fokus Pasar, Cek Rekomendasi Saham Hari Ini
| Rabu, 30 September 2026 | 06:33 WIB

Rupiah dan Aturan Baru Minimal Rp 1 Jadi Fokus Pasar, Cek Rekomendasi Saham Hari Ini

Proses adaptasi terhadap kebijakan baru Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait batas minimum harga saham Rp 1 juga turut menjadi perhatian  investor.

Jurang Digital Lansia
| Rabu, 30 September 2026 | 06:10 WIB

Jurang Digital Lansia

Pemerintah bersama industri teknologi harus segera mengambil langkah radikal, misalnya melakukan reformasi sistem pensiun.

MAP Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA) Pacu Akuisisi dan Pasar Luar Negeri
| Rabu, 30 September 2026 | 06:00 WIB

MAP Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA) Pacu Akuisisi dan Pasar Luar Negeri

PT MAP Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA) masih menghadapi risiko daya beli dan nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dolar AS.

Neraca Dagang Agustus Diramal Kembali Defisit
| Rabu, 30 September 2026 | 06:00 WIB

Neraca Dagang Agustus Diramal Kembali Defisit

Neraca perdagangan Agustus 2026 diperkirakan mencatat defisit sekitar US$ 0,9 miliar, setelah surplus tipis US$ 0,12 miliar pada Juli 2026. 

Antren Jual GOTO Tembus 1 Miliar Lot, Tekanan Jual Diprediksi Berlanjut
| Rabu, 30 September 2026 | 05:50 WIB

Antren Jual GOTO Tembus 1 Miliar Lot, Tekanan Jual Diprediksi Berlanjut

Bagi pelaku pasar yang belum mempunyai saham GOTO, analis menyarankan untuk wait and see terlebih dahulu, karena kondisi saat ini berisiko tinggi.

Asuransi hingga Dapen Buka Peluang Rebalancing Portofolio Kala Imbal SRBI Loyo
| Rabu, 30 September 2026 | 05:50 WIB

Asuransi hingga Dapen Buka Peluang Rebalancing Portofolio Kala Imbal SRBI Loyo

Yield SRBI tenor 12 bulan saat ini telah turun ke kisaran 6,76%, dari level tertingginya yang sempat mencapai 7,74%. 

Asing Hengkang, Pasar Terpanggang
| Rabu, 30 September 2026 | 05:47 WIB

Asing Hengkang, Pasar Terpanggang

Investor asing berpeluang tinggalkan saham-saham di sektor perbankan, komoditas, konsumer, hingga telekomunikasi

TPIA Geber Kinerja dengan Proyek Baru
| Rabu, 30 September 2026 | 05:44 WIB

TPIA Geber Kinerja dengan Proyek Baru

Hingga September 2026, progres proyek chlor alkali dan ethylene dichloride (CA-EDC) telah mencapai sekitar 80% 

INDEKS BERITA

Terpopuler