Jurang Digital Lansia
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Struktur demografi Indonesia tengah berada di posisi rawan. Di satu sisi, bonus demografi menjanjikan kelimpahan tenaga kerja. Di lain pihak, dalam paparan pada sesi Demography & Silver Economy: Indonesia's Greatest Opportunity or Biggest Risk, Kepala Lembaga Demografi FEB UI, I Dewa Gede Karma Wisana, menyampaikan potret mengkhawatirkan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 dan National Transfer Accounts (NTA) 2024 menunjukkan tiga generasi terjebak dalam satu neraca ekonomi yang sangat timpang.
Ketimpangan struktural ini terlihat manakala kita membedah kondisi finansial lintas generasi saat ini. Pertama, Gen Z (usia 15–29 tahun) yang berjumlah masif sebagai penopang masa depan bangsa menghadapi tingkat pengangguran terbuka yang masih bertengger di angka 16,4% berdasarkan data Sakernas Februari 2026.
Kedua, kelompok Milenial dan Gen X (usia 30–59 tahun) memikul beban ganda. Mereka mencatatkan surplus per kapita tertinggi (Rp 33,4 juta pada usia puncaknya di usia 42 tahun), namun harus menggelontorkan transfer masif hingga Rp 1.002 triliun per tahun untuk membiayai anggota keluarga lain. Mereka adalah sandwich generation.
Ketiga, kelompok Boomer berada dalam posisi paling rentan. Data menunjukkan hanya 8,8% lansia yang hidup dari uang pensiun, dan 1,1% ditopang oleh tabungan serta investasi mandiri. Sisanya? Bergantung pada uluran tangan keluarga.
Kerentanan finansial ini diperparah oleh jurang digital (digital divide). Meski sekitar 49,5% lansia kini memegang gawai, kurang dari 20% mampu menggunakan internet secara mandiri. Hambatan fisik seperti penurunan fungsi penglihatan (presbiopi), ketakutan psikologis (technophobia terhadap penipuan siber), serta desain antarmuka aplikasi (UI/UX) publik maupun healthtech yang sama sekali tidak ramah lansia, membuat mereka seolah terisolasi.
Pemerintah bersama industri teknologi harus segera mengambil langkah radikal. Misalnya melakukan reformasi sistem pensiun untuk memperluas cakupan jaring pengaman sosial, agar ketergantungan lansia dapat ditekan secara sistemik. Lalu, mandat khusus bagi penyedia layanan publik digital dan sektor kesehatan untuk merancang antarmuka ramah lansia -- menyediakan fitur aksesibilitas fisik, pendampingan terstruktur, serta keamanan siber yang ketat. Jangan sampai neraca antar-generasi ini tetap dibiarkan pincang.
