Kejutan Bunga BI

Jumat, 23 September 2022 | 08:00 WIB
Kejutan Bunga BI
[]
Reporter: Harian Kontan | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Secara mengejutkan, Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan BI 7 DRRR sebesar 50 basis points (bps) ke 4,25%.

Hanya 7 dari 37 ekonom dalam survei Bloomberg yang memperkirakan kenaikan suku bunga 50 bps. Sedangkan sisanya memperkirakan kenaikan 25 bps. 

BI menyebut, kenaikan bunga ini menjadi langkah pendahuluan untuk memastikan inflasi inti kembali ke sasaran di semester kedua 2023. Kenaikan suku bunga yang lebih tinggi ketimbang prediksi mayoritas pasar ini menjadi pertanyaan saat inflasi Indonesia dianggap lebih jinak daripada negara-negara lain.

Inflasi menjadi musuh hampir seluruh negara di dunia. Penyebab utamanya adalah kenaikan harga energi yang berpangkal dari invasi Rusia ke Ukraina.

Setelah satu semester, harga minyak mulai turun. Artinya, potensi kenaikan inflasi lebih tinggi lagi akibat harga minyak bisa tertahan.

Lalu mengapa BI mengatrol suku bunga lebih tinggi daripada kenaikan bulan lalu? Salah satu penyebabnya adalah pelemahan nilai tukar rupiah, terutama terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Bank sentral AS Federal Reserve menaikkan suku bunga acuan 75 bps pada Rabu (21/9) malam. Kini, bunga acuan AS berada di 3%-3,25%, hanya selisih 1% setelah BI mengerek suku bunga.

Suku bunga AS yang lebih tinggi menyebabkan pengelola dana asing bisa lebih memilih menempatkan dana di Negeri Paman Sam yang statusnya safe haven dengan risiko lebih rendah ketimbang Indonesia. Alhasil, ada potensi capital outflow dari Indonesia.

Menurut data Kementerian Keuangan, kepemilikan asing pada Surat Utang Negara (SUN) sudah turun 16,81%, setara lebih dari Rp 150 triliun sejak awal tahun hingga kemarin.

Pada periode yang sama, harga SUN acuan cuma turun 5,67%. Dana asing yang terus keluar dari Indonesia menyebabkan nilai tukar rupiah tertekan.

Kemarin, nilai tukar rupiah kembali tembus Rp 15.000 per dolar AS. Penguatan dolar AS terhadap hampir semua mata uang utama dunia menjadi salah satu penyebab tekanan pada rupiah.

Pelemahan nilai tukar rupiah bisa membawa potensi inflasi baru dari kenaikan harga barang impor.

Jadi, kenaikan suku bunga mengejutkan BI saat The Fed jor-joran mengerek bunga menjadi masuk akal.

Tapi jangan lupa, daya beli konsumen belum pulih benar di tengah kenaikan harga barang. Semoga tidak ada kejutan susulan dari BI di bulan-bulan selanjutnya. 

Bagikan

Berita Terbaru

Mengurai Dosa Ekologis di Konsesi Batubara Eks KPC untuk NU, Potensi Konflik Menganga
| Kamis, 12 Februari 2026 | 10:30 WIB

Mengurai Dosa Ekologis di Konsesi Batubara Eks KPC untuk NU, Potensi Konflik Menganga

Konsesi batubara eks KPC yang diserahkan ke Nahdlatul Ulama (NU) berada di lahan yang sudah menjadi pemukiman dan 17.000 ha hutan sekunder. 

Pemangkasan RKAB Berdampak Instan pada Pergerakan Saham Emiten Nikel
| Kamis, 12 Februari 2026 | 10:00 WIB

Pemangkasan RKAB Berdampak Instan pada Pergerakan Saham Emiten Nikel

Industri sudah mengantisipasi penurunan RKAB hingga 250 juta ton, sehingga penetapan RKAB oleh pemerintah masih sedikit di atas ekspektasi awal.

Transparansi Cuma Sampai Pemilik di Atas 1%, Peluang Goreng Saham Masih Terbuka
| Kamis, 12 Februari 2026 | 09:12 WIB

Transparansi Cuma Sampai Pemilik di Atas 1%, Peluang Goreng Saham Masih Terbuka

Gorengan saham masih mungkin melalui pemegang saham di bawah 1%. Nominees account  dibuat sekecil mungkin, saya pernah bikin sampai 30 account.

Peta Emiten Batubara Bergeser Seiring Kebijakan Pemangkasan RKAB 2026 & Kenaikan DMO
| Kamis, 12 Februari 2026 | 09:00 WIB

Peta Emiten Batubara Bergeser Seiring Kebijakan Pemangkasan RKAB 2026 & Kenaikan DMO

Kebijakan DMO dan RKAB menggeser narasi sektor batubara, dari yang sebelumnya bertumpu pada volatilitas harga global yang liar.

Berharap Bisa Melanjutkan Penguatan, Simak Proyeksi IHSG Hari Ini, Kamis (12/2)
| Kamis, 12 Februari 2026 | 08:49 WIB

Berharap Bisa Melanjutkan Penguatan, Simak Proyeksi IHSG Hari Ini, Kamis (12/2)

Investor disarankan akumulasi pada saham-saham berfundamental solid. Khususnya undervalued  dengan tetap menerapkan manajemen risiko.

Menghapus Piutang Iuran Peserta BPJS Kesehatan
| Kamis, 12 Februari 2026 | 08:00 WIB

Menghapus Piutang Iuran Peserta BPJS Kesehatan

BPJS Kesehatan mendukung rencana tersebut, mengingat banyaknya peserta yang saat ini berstatus non-aktif akibat kendala pembayaran.

Aliran Minyak dari Satu Sumur Rakyat
| Kamis, 12 Februari 2026 | 07:50 WIB

Aliran Minyak dari Satu Sumur Rakyat

Legalisasi sumur rakyat merupakan implementasi dari Permen ESDM No. 14/2025 tentang Kerja Sama Pengelolaan Bagian WK untuk Peningkatan Produksi

Smelter Nikel Terdampak Pemangkasan Produksi
| Kamis, 12 Februari 2026 | 07:43 WIB

Smelter Nikel Terdampak Pemangkasan Produksi

Utilitas produksi smelter di Indonesia berpotensi menyusut 25%-30% pada tahun ini seiring pemangkasan produksi

Tugas Berat Pacu Ekonomi & Buka Lapangan Kerja
| Kamis, 12 Februari 2026 | 07:38 WIB

Tugas Berat Pacu Ekonomi & Buka Lapangan Kerja

Presiden Prabowo menekankan pentingnya kerja sama antara pemerintah dan dunia usaha untuk memperkuat daya saing nasional dan percepat pembangunan.

Prospek Bisnis Mal Masih Stabil
| Kamis, 12 Februari 2026 | 07:11 WIB

Prospek Bisnis Mal Masih Stabil

Keterbatasan suplai mal baru di Jakarta menjadi sinyal yang cukup baik bagi potensi permintaan sewa, khususnya mal dengan pengunjung yang kuat.

INDEKS BERITA

Terpopuler