Kendati Impor Tergerus, Ancaman Pelebaran Defisit Belum Hilang

Selasa, 19 Februari 2019 | 07:30 WIB
Kendati Impor Tergerus, Ancaman Pelebaran Defisit Belum Hilang
[]
Reporter: Grace Olivia | Editor: Thomas Hadiwinata

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Pemerintah berniat memperkuat kebijakan untuk menahan pelebaran defisit neraca perdagangan. Niat itu muncul karena defisit neraca perdagangan terancam melebar akibat pertumbuhan ekspor yang lesu, seiring dengan suramnya prospek pasar global di saat Amerika Serikat mengobarkan perang dagang dengan China.

Upaya semacam itu dinilai perlu untuk melapis kebijakan pengendalian impor yang sudah ada, dan diklaim pemerintah berhasil menahan laju impor. Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai impor Januari 2019 mencapai US$ 15,03 miliar atau turun 2,19% secara month on month (mom). Jika dibandingkan dalam basis tahunan, impor per Januari 2019 turun 1,83%.

Kebijakan itu mengakibatkan impor non-migas turun 0,004% menjadi US$ 13,34 miliar. Sedang kewajiban mencampur solar dengan bahan bakar nabati sebesar  20% atau kebijakan biodiesel 20% (B20) turut menurunkan impor migas menjadi US$ 1,69 miliar atau turun 16,58% mom. Angka itu merupakan nilai impor migas terkecil Indonesia selama 13 bulan terakhir.

Penurunan impor migas dipicu oleh penurunan seluruh komponen migas, yaitu minyak mentah turun 3,27% menjadi US$15,4 juta, hasil minyak turun 20,98% menjadi US$280,5 juta, dan gas turun 18,34% menjadi US$39,9 juta.

Secara volume, impor migas dan non-migas juga kompak turun, masing-masing 11,68% menjadi 454.900 ton dan 2,88% menjadi 312.100 ton.
Penurunan volume impor migas berasal dari turunnya volume impor hasil minyak 18,53% menjadi 453.400 ton dan gas 16,35% menjadi 82.300 ribu ton. Hanya saja, volume impor minyak mentah masih naik 8,55% atau 80.800 ton.

Sementara menurut penggunaan barang, impor terhadap barang konsumsi dan barang modal mengalami penurunan, secara bulanan maupun tahunan. Impor barang konsumsi US$ 1,22 miliar, turun 16,75% dibandingkan bulan sebelumnya atau 10,39% dibandingkan periode yang sama 2018. Sementara, impor barang modal US$ 2,36 miliar, secara bulanan turun 12,1% atau dan turun 5,1% y-o-y.

Hanya impor barang baku/penolong yang mengalami kenaikan 2,08% secara bulanan, menjadi US$ 11,45 miliar. Namun, secara tahunan, masih turun tipis yakni 0,11%. "Kebijakan-kebijakan pengendalian impor seperti B20, PPh impor sudah berpengaruh (menekan impor). Kami sedang menyusun kebijakan yang lebih lagi, untuk jangka pendek agar neraca perdagangan membaik," ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution. Namun Darmin enggan membeberkan rencana tersebut. Sejauh ini pemerintah baru mengeluarkan strategi pendongkrak ekspor. Salah satunya kemudahan ekspor kendaraan utuh (CBU).

Direktur Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan Heru Pambudi menambahkan, efektivitas pengendalian impor terlihat dari berkurangnya kebutuhan devisa impor. Periode 1 Januari - 11 Februari 2019, devisa impor rata-rata harian untuk 1.147 barang konsumsi turun 7,11% dibandingkan periode yang sama 2018. Pada periode itu, nilai devisa impor rata-rata harian turun dari dari US$ 30,3 juta, menjadi US$ 28,1 juta.

"Jadi kebijakannya sudah bagus devisa rata-rata hariannya menurun. Nanti kebijakan lanjutannya, kami akan keluarkan yang untuk eksportir," ujar Heru, Senin (18/2).
Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual menilai, menurunnya impor di Januari 2019 lebih disebabkan oleh faktor musiman awal tahun. Menurutnya, wajar jika awal tahun pengusaha dan pelaku industri masih dalam mode mengelola persediaan barang, ketimbang menambah.

"Kecuali kita lihat satu atau dua bulan lagi seperti apa kondisi impor. Kelihatannya justru berpotensi naik lagi di Februari dan Maret karena importir memanfaatkan momentum penguatan rupiah," terang David. David mengatakan, penurunan impor juga tak selalu berarti baik bagi perekonomian Indonesia. Jika impor barang modal dan bahan baku terus turun, hal tersebut bisa menjadi sinyal pembangunan yang melambat. Lantas, laju pertumbuhan ekonomi pun bisa terancam ke depan.

Bagikan

Berita Terbaru

Jangan Serakah Serok Beli Saham dan Panic Sell Berlebihan
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 12:53 WIB

Jangan Serakah Serok Beli Saham dan Panic Sell Berlebihan

Dengan kondisi pasar saham yang memerah, bagaimana saran keputusan investasi saat ini?              

Bencana dan Relevansi Instrumen Pembayaran
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 10:54 WIB

Bencana dan Relevansi Instrumen Pembayaran

Preferensi masyarakat terhadap pembayaran tunai banyak dipengaruhi oleh kenyamanan dan kemudahan yang dirasakan.

Meredam Inflasi
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 10:34 WIB

Meredam Inflasi

Masalahnya, lonjakan harga pangan semakin menjadi persoalan, karena terjadi saat daya beli masyarakat masih melemah.

BPJS Disuntik Dana Rp 20 Triliun: Efek ke Kinerja MIKA, SILO, dan HEAL Tak Serupa
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 09:57 WIB

BPJS Disuntik Dana Rp 20 Triliun: Efek ke Kinerja MIKA, SILO, dan HEAL Tak Serupa

Perbedaan porsi pasien jadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan investor dalam menilai potensi dampak tambahan dana BPJS Kesehatan.

Analisis Kinerja & Saham PWON: Marketing Sales Turun namun Tertolong Recurring Income
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 09:21 WIB

Analisis Kinerja & Saham PWON: Marketing Sales Turun namun Tertolong Recurring Income

Keberlanjutan insentif PPN DTP dan stabilitas suku bunga sebagai faktor yang dapat mendorong pemulihan permintaan properti.

Mengukur Efek Volatilitas Harga Minyak Dunia ke Saham MEDC, ENRG, dan RATU
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 08:58 WIB

Mengukur Efek Volatilitas Harga Minyak Dunia ke Saham MEDC, ENRG, dan RATU

PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) menjadi emiten yang paling langsung terpapar pergerakan harga minyak.

Peluang dan Risiko Saham Valuasi Rendah
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 08:20 WIB

Peluang dan Risiko Saham Valuasi Rendah

Tekanan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membuat sejumlah saham kini diperdagangkan dengan price to earnings ratio (PER) di bawah rata-rata. 

Paradoks Saham DSSA: Saat Minat Asing Bertabrakan dengan Tipisnya Order Book di Pasar
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 08:14 WIB

Paradoks Saham DSSA: Saat Minat Asing Bertabrakan dengan Tipisnya Order Book di Pasar

Volatilitas DSSA cenderung lebih tinggi dibandingkan saham berkapitalisasi besar lain yang punya basis pemegang saham lebih luas.

Efek Kredit Rakyat Rp 400 Triliun Diramal Terbatas
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 08:03 WIB

Efek Kredit Rakyat Rp 400 Triliun Diramal Terbatas

Secara nominal, kredit Rp 400 triliun setara sekitar 1,5% dari produk domestik bruto (PDB)          

Kinerja Bukalapak Kembali Keok, Penurunan Investasi Menjadi Biang Kerok
| Selasa, 27 Oktober 2026 | 08:02 WIB

Kinerja Bukalapak Kembali Keok, Penurunan Investasi Menjadi Biang Kerok

Kerugian investasi menekan kinerja PT Bukalapak.com (BUKA), hingga berbalik mencatatkan rugi bersih.

INDEKS BERITA

Terpopuler