Kinerja Keuangan Emiten LQ45 Melambat, Ini Pilihan Saham Yang Layak Dicermati

Rabu, 07 Agustus 2019 | 05:10 WIB
Kinerja Keuangan Emiten LQ45 Melambat, Ini Pilihan Saham Yang Layak Dicermati
[]
Reporter: Dityasa H Forddanta | Editor: Narita Indrastiti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Mayoritas emiten anggota indeks LQ45 mencatatkan kinerja positif hingga paruh waktu tahun ini. Namun, masih ada perlambatan di balik positifnya kinerja tersebut.

Positifnya kinerja tercermin dari total pendapatan dan laba bersih masing-masing emiten di setiap sektor. Jika dipisahkan per sektor, mayoritas kinerja keuangan setiap sektor dalam indeks LQ45 minimal sejalan (in line) atau bahkan melebihi (above) perkiraan konsensus analis.

Hanya sebagian kecil yang mencatat kinerja di bawah (below) konsensus (lihat tabel).

Sektor Pendapatan Laba Bersih
Konsensus Realisasi Status Konsensus Realisasi Status
Keuangan Rp 226,96 triliun 45,80% Below Rp 76,21 triliun 46,40% In line
Konsumer Rp 404,39 triliun 48,70% In line Rp 43,88 triliun 48,10% In line
Infrastruktur Rp 177,79 triliun 48,80% In line Rp 24,26 triliun 51,20% Below
Industri dasar & kimia Rp 172,14 triliun 50,70% Above Rp 12,61 triliun 47,70% In line
Aneka industri Rp 263,18 triliun 47,60% In line Rp 24,76 triliun 43,20% Below
Perdagangan, jasa, investasi Rp 170,87 triliun 47,70% In line Rp 18,6 triliun 48,90% Below
Pertambangan Rp 64,87 triliun 49,70% Above Rp 2,39 triliun 30,50% In line
Properti Rp 143,78 triliun 42,90% Below Rp 10,74 triliun 35,70% Below
Sumber: Mirae Asset Sekuritas, diolah KONTAN

Namun, jika dijabarkan lebih lanjut, performa kinerja emiten di kuartal kedua sejatinya tidak lebih baik dibanding kuartal pertama. Sebesar 60% emiten LQ45 menorehkan kinerja sejalan dan di atas prediksi konsensus di kuartal II. Persentase ini lebih kecil dibanding di kuartal I, yang mencapai 70%.

Baca Juga: Kinclongnya kinerja Elnusa ditopang oleh peningkatan seluruh lini bisnis

"Ada perlambatan di kuartal kedua," ujar Hariyanto Wijaya, analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia dalam riset 6 Agustus. Catatan saja, persentase ini berdasarkan kinerja 35 emiten LQ45 yang telah menyampaikan laporan keuangan hingga pekan pertama bulan ini.

Secara keseluruhan, laba bersih emiten LQ45...

Hariyanto menambahkan, secara keseluruhan, laba bersih emiten LQ45 di kuartal kedua turun 2,4% secara tahunan menjadi Rp 48,31 triliun. Padahal, total laba bersih di kuartal pertama masih naik 2,6% secara tahunan.

Ini terjadi karena total pendapatan emiten LQ45 yang juga melambat. Pertumbuhan total pendapatan di kuartal kedua hanya 3,6% menjadi Rp 380,44 triliun secara tahunan. Bandingkan dengan pertumbuhan kuartal pertama yang mencapai 6,3% secara tahunan.

Lebaran dan pemilu

Penurunan performa kinerja keuangan ini juga terjadi pada emiten-emiten yang memiliki kapitalisasi pasar besar. Salah satunya adalah PT Astra International Tbk (ASII). "ASII menjadi kontributor penurunan kinerja paling besar, karena pada kuartal kedua laba bersih ASII turun 15% menjadi sebesar Rp 4,59 triliun," jelas Hariyanto.

Baca Juga: BEI akan evaluasi secara berkala kedua indeks barunya, simak aturan mainnya

Senior Manager Research Analyst Kresna Sekuritas Robertus Yanuar Hardy tak menampik ada perlambatan pada kinerja emiten. Tapi, hal ini bukan sinyal mutlak ada yang salah dengan kondisi makro dalam negeri.

Robertus menjelaskan, lebaran tahun ini jatuh di kuartal kedua, sehingga hari libur di kuartal ini lebih banyak. Alhasil, hampir semua operasional bisnis, terutama pertambangan, mulai dari produksi hingga distribusi, melambat. Kondisi tersebut diperparah oleh sikap wait and see emiten dalam menggelar ekspansi akibat tahun politik.

Untuk kuartal ketiga, Robertus menyarankan untuk cermati saham sektor infrastruktur. Alasannya, pembangunan infrastruktur masih menjadi prioritas untuk lima tahun ke depan. Jalur distribusi berupa jalan tol dan jalan raya juga sudah terlihat naik.

Ia juga menilai saham konsumer menarik...

Ia juga menilai saham konsumer menarik. Tol laut, udara mempermudah logistik dan menguntungkan perusahaan barang konsumer. Selain itu ada sentimen renovasi dan pembangunan beberapa pasar tradisional baru di beberapa daerah.

Semua hal tersebut berpotensi membuat belanja konsumen akan tetap tinggi. "Memang ada sentimen perang dagang dan devaluasi yuan, yang merupakan risiko sistematis. Namun, tidak akan mengubah fundamental sektor konsumer domestik," tutur Robertus.

Sebaliknya, dia tidak merekomendasikan sektor pertambangan seperti batubara. Pasalnya, harga komoditas emas hitam ini masih tertekan dan harganya tak setinggi tahun lalu. Akibatnya, pendapatan emiten di sektor batubara berpotensi melambat dibanding tahun lalu.

Baca Juga: Yuan melemah, Analis: Semua emiten terkena imbasnya

Setali tiga uang, Hariyanto juga menjagokan saham sektor barang konsumer. Tren perolehan kinerja moncer yang terjadi di sektor ini pada kuartal kedua diperkirakan bakal terulang di sisa tahun ini. Hariyanto meyakini emiten bukan cuma bisa mengerek volume penjualan, namun juga meningkatkan kualitas mencetak laba, seiring dengan naiknya margin emiten.

Tren tersebut juga sudah terlihat sejak kuartal kedua. Bahkan, mayoritas emiten di sektor konsumer mampu mencetak pertumbuhan laba bersih mencapai dua digit.

Hariyanto merekomendasikan sejumlah saham "Saham pilihan utama kami adalah saham ICBP dan INDF, KINO, KLBF, MAPI, lalu saham UNVR serta tak ketinggalan juga saham BBRI," jelas dia.

Bagikan

Berita Terbaru

Sentuh Tertinggi 4 Tahun di Rp 635, ERAA Terkoreksi Tipis Usai Reli 4 Hari Beruntun
| Minggu, 06 September 2026 | 13:00 WIB

Sentuh Tertinggi 4 Tahun di Rp 635, ERAA Terkoreksi Tipis Usai Reli 4 Hari Beruntun

Sepanjang semester I-2026, ERAA menambah 173 gerai sehingga total jaringan ritelnya mencapai 2.506 toko per Juni 2026.

Faktor Dividen Membayangi Saham Bank Himbara
| Minggu, 06 September 2026 | 12:43 WIB

Faktor Dividen Membayangi Saham Bank Himbara

Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dikabarkan akan menurunkan rasio pembayaran dividen ke kisaran 70% untuk tahun buku 2026. 

RAJA dan RATU Bersolek Lewat Aksi Korporasi, Bagaimana Dampaknya Secara Fundamental?
| Minggu, 06 September 2026 | 10:00 WIB

RAJA dan RATU Bersolek Lewat Aksi Korporasi, Bagaimana Dampaknya Secara Fundamental?

Analis melihat potensi perubahan skala bisnis RATU lebih besar daripada RAJA dalam jangka menengah, karena RATU masih bisa menambah aset upstream.

Melabuhkan Hati di Dunia Finansial
| Minggu, 06 September 2026 | 09:09 WIB

Melabuhkan Hati di Dunia Finansial

Malang melintang di dunia pasar modal dan investment banking, antarkan Nelwin Aldriansyah jadi Direktur Keuangan PT Elnusa Tbk

Melemah di Pekan Ex-Devidend, Saham CMRY Masih Menarik Dikoleksi
| Minggu, 06 September 2026 | 09:00 WIB

Melemah di Pekan Ex-Devidend, Saham CMRY Masih Menarik Dikoleksi

Pertumbuhan upah riil yang masih terbatas, pelemahan rupiah, serta kenaikan harga pangan berpotensi menekan daya beli.

BUMN Karya Terjepit Utang: PTPP Ditolak, WSKT Berhasil, ADHI Disuspensi
| Minggu, 06 September 2026 | 08:00 WIB

BUMN Karya Terjepit Utang: PTPP Ditolak, WSKT Berhasil, ADHI Disuspensi

Rudiyanto juga menyoroti akar masalah BUMN Karya ada pada tata kelola, bukan hanya sekadar posisi keuangan yang lemah.

Mengintip Kejelasan Terkait Satu Pintu Ekspor Komoditas
| Minggu, 06 September 2026 | 07:15 WIB

Mengintip Kejelasan Terkait Satu Pintu Ekspor Komoditas

Masa transisi ekspor satu pintu komoditas strategis tahap satu sudah kelar. Hasil pelaksanaan kebijakan ini?

Sinis Membawa Bencana
| Minggu, 06 September 2026 | 07:10 WIB

Sinis Membawa Bencana

​Kita menyaksikan ada beberapa tenaga kesehatan yang harus menelan pil pahit karena memberikan komentar di utas seorang pasien pengguna BPJS.

Suntikan Bahagia Murah Meriah saat Ekonomi Muram
| Minggu, 06 September 2026 | 07:10 WIB

Suntikan Bahagia Murah Meriah saat Ekonomi Muram

Memahami mekanisme fenomena lipstick effect dari kacamata perencanaan keuangan. Seperti apa perilaku ini?

 
Kemarau Menguji Ketahanan Kopi
| Minggu, 06 September 2026 | 06:50 WIB

Kemarau Menguji Ketahanan Kopi

Kemarau panjang tidak hanya meningkatkan biaya pemeliharaan tanaman, tetapi juga mulai membayangi produksi kopi.

INDEKS BERITA

Terpopuler