Berita Bisnis

KINO Genjot Produk Kesehatan

Rabu, 21 Juli 2021 | 06:00 WIB
KINO Genjot Produk Kesehatan

Reporter: Dimas Andi | Editor: Azis Husaini

KONTAN.CO.ID -JAKARTA. PT Kino Indonesia Tbk (KINO) memaparkan bahwa kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat mempengaruhi prospek kinerja pada tahun ini. Untuk menyiasati dinamika pasar, manajemen KINO aktif menjual produk kesehatan dan kebersihan serta memperkuat pasar ekspor.

Direktur KINO Budi Muljono bilang, sebagaimana industri secara umum, prospek kinerja KINO akan bergantung pada laju penularan kasus Covid-19 di Indonesia, termasuk kebijakan penanganan pandemi di dalam negeri.
 
Meskipun tak menyebut secara gamblang, penerapan PPKM Darurat bisa mempengaruhi penjualan di beberapa segmen bisnis KINO yang bergantung pada aktivitas dan daya beli masyarakat. "Kami akan tetap fokus pada produk yang masih dibutuhkan di masa pandemi ini yang berhubungan dengan kesehatan dan kebersihan," ungkap Budi, Senin (19/7).
 
Meski dikenal sebagai produsen minuman anti panas dalam bermerek Cap Kaki Tiga, KINO juga punya produk obat-obatan seperti sirup herbal Lola Remedios, plester kompres Q-Life, Kapsul Dua Dewi Samurat, Balsem Cap Kaki Tiga.
 
KINO juga memiliki produk sabun cuci tangan merek Sleek dan hand sanitizer dengan merek Instance. Budi mengaku, beberapa produk yang berhubungan dengan kesehatan terbukti mampu bertahan dan tumbuh lebih baik dibandingkan produk lain.
 
Dengan kondisi saat ini, KINO masih menargetkan pertumbuhan penjualan dan laba bersih tahun ini masing-masing 10% dan 50%. Di sisi lain, KINO masih berhati-hati meluncurkan varian produk baru. Kelangsungan agenda itu sangat bergantung pada perkembangan situasi pasar. KINO juga terus memantau perkembangan pandemi Covid-19 baik di Indonesia maupun negara lain, termasuk efeknya terhadap bisnis perusahaan.
 
Manajemen KINO tetap menjajaki peluang ekspor. Dalam beberapa tahun terakhir, kontribusi penjualan ekspor KINO di kisaran 5%-10%. Level ini kemungkinan tetap berlaku pada tahun ini.
 
Menurut Budi, permintaan ekspor relatif mirip dengan kondisi di dalam negeri. Dalam hal ini, ketika terjadi lonjakan kasus di suatu negara tujuan ekspor, maka permintaan dari negeri itu akan berkurang. Permintaan baru pulih seiring meredanya kasus Covid-19 di negara tersebut.
 
KINO selalu mengevaluasi produk yang dapat diterima dengan baik di luar negeri. "Dari situ, kami berupaya agar dapat meningkatkan penjualan produk di negara tersebut serta memperluas ke wilayah lain yang memiliki karakteristik pasar sama," terang Budi.
 
Kontributor utama ekspor KINO berasal dari Asia Tenggara dan Asia Timur. Tahun ini, KINO menyediakan belanja modal Rp 200 miliar-Rp 250 miliar untuk keperluan efisiensi dan penyegaran mesin produksi. Dana capex tersebut berasal dari kas internal dan pinjaman perbankan.    


Baca juga