Krisis Kepercayaan Hantam IHSG, Intip Prediksi dan Rekomendasi Saham Hari Ini (19/5)
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sempat terjun 4,83% ke 6.398,79, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 124,08 poin atau 1,85% menjadi 6.599,24 pada perdagangan Senin (18/5).
IHSG mengakumulasi penurunan 8,02% dalam lima hari perdagangan terakhir. Sedangkan sejak awal tahun, IHSG sudah terpangkas 23,68%.
Head of Retail Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengatakan, pelemahan IHSG dipengaruhi oleh meningkatnya ketidakpastian global, terutama dari sisi geopolitik dan kenaikan harga komoditas.
“Konflik geopolitik yang berlarut-larut kembali mendorong harga minyak mentah dunia ke atas US$100 per barel, sehingga meningkatkan kekhawatiran investor terhadap tekanan inflasi dan perlambatan ekonomi global,” ujar Herditya kepada Kontan, Senin (18/5/2026).
Ia menambahkan, pergerakan bursa global dan mayoritas bursa Asia yang melemah, serta nilai tukar rupiah yang masih tertekan di kisaran Rp17.681 per dolar AS turut membebani IHSG.
Baca Juga: Rotasi ke Altcoin Disebut Mulai Terlihat, Trader Tetap Harus Selektif Memilih Kripto
Senada, Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang mengungkapkan, pelemahan IHSG juga dipicu oleh tekanan eksternal dan kondisi domestik yang kurang kondusif.
“Melemahnya mayoritas indeks global dan berlanjutnya depresiasi rupiah menjadi faktor negatif bagi IHSG, di tengah minimnya sentimen positif,” jelas Alrich.
Ia menyoroti meningkatnya ketegangan geopolitik, khususnya antara Amerika Serikat dan Iran, yang turut mendorong kenaikan harga minyak mentah dan memicu kekhawatiran inflasi global.
Selain itu, nilai tukar rupiah yang melemah ke level Rp17.668 per dolar AS, atau terendah sepanjang sejarah, juga menambah tekanan terhadap pasar saham domestik.
“Tekanan terhadap rupiah ini mendorong munculnya perkiraan bahwa Bank Indonesia berpeluang menaikkan suku bunga acuan pada pertemuan pekan ini,” imbuhnya.
Dengan berbagai sentimen tersebut, pergerakan IHSG diperkirakan masih akan dibayangi volatilitas, meski berpeluang mengalami penguatan teknikal dalam jangka pendek.
Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menyebutkan, penurunan IHSG saat ini tidak lagi sekadar koreksi normal, melainkan mencerminkan krisis kepercayaan investor.
“Kejatuhan IHSG hingga ke level 6.599 bukan lagi sekadar koreksi biasa, melainkan cerminan bahwa pasar sedang memasuki fase krisis kepercayaan yang cukup serius,” kata Hendra kepada Kontan, Senin (18/5/2026).
Baca Juga: Emiten Emas Masih Berpeluang Cuan, Ini Pemicu Lonjakan Profitnya
Ia menjelaskan, tekanan terhadap IHSG berasal dari kombinasi faktor global dan domestik. Dari eksternal, konflik geopolitik di Timur Tengah, lonjakan harga minyak, penguatan dolar AS, serta kenaikan yield obligasi global menjadi pemicu utama.
Sementara dari dalam negeri, pelemahan nilai tukar rupiah yang telah menembus Rp17.600 per dolar AS serta derasnya aksi jual investor asing turut memperburuk sentimen pasar.
“Ketika rupiah melemah tajam, asing mencatatkan net sell besar, dan saham-saham big caps terus tertekan, maka pasar sedang mengirim pesan bahwa persepsi risiko terhadap Indonesia meningkat tajam,” jelasnya.
Secara teknikal, Hendra menyebut posisi IHSG saat ini sudah berada di area oversold. Namun, peluang penguatan dinilai masih rentan.
“Rebound jangka pendek memang sangat mungkin terjadi karena penurunan indeks sudah terlalu dalam, tetapi masih rawan menjadi dead cat bounce selama faktor utama tekanan belum selesai,” ungkapnya.
Ia menambahkan, sejumlah risiko masih membayangi pasar, mulai dari pelemahan rupiah, kenaikan harga minyak dunia, potensi kenaikan suku bunga global, hingga kekhawatiran perlambatan ekonomi domestik.
Selain itu, kenaikan yield obligasi Amerika Serikat ke kisaran 4,6% membuat aliran dana global cenderung kembali ke aset safe haven dibandingkan ke pasar negara berkembang seperti Indonesia.
Dari sisi domestik, investor juga mencermati penurunan kualitas likuiditas pasar, aksi jual pada saham-saham konglomerasi, serta ketidakpastian arah kebijakan ekonomi.
“Selama IHSG belum mampu kembali bertahan di atas area 6.800-6.900, maka risiko melanjutkan koreksi ke 6.400-6.500 masih terbuka,” tambahnya.
Meski demikian, ia melihat kondisi saat ini mulai membuka peluang bagi investor jangka panjang, seiring valuasi saham yang semakin menarik.
“Ketika pasar panik dan valuasi turun signifikan, biasanya peluang investasi justru mulai muncul. Namun, strategi masuk harus selektif dan bertahap,” kata Hendra.
Untuk perdagangan Selasa (19/5/2026), Hendra memproyeksikan IHSG bergerak di kisaran support 6.398 dan resistance 6.600.
Herditya memperkirakan IHSG berpotensi mengalami technical rebound dengan level support di 6.492 dan resistance di 6.705 untuk hari ini.
“Sentimen pergerakan IHSG masih akan dipengaruhi oleh nilai tukar rupiah dan harga minyak mentah, serta investor juga mencermati dampak dari rebalancing indeks MSCI dan FTSE,” tambahnya.
Untuk rekomendasi saham, Herditya menyarankan pelaku pasar mencermati ADMR di rentang Rp1.820-Rp2.010, ARCI di Rp1.385-Rp1.525, serta INKP di Rp8.925-Rp9.225.

Baca Juga: Investor Perlu Cermat, Sejumlah Emiten Ini Berganti Pengendali
Rekap Perdagangan 18 Mei 2026
Seluruh indeks sektoral merosot bersama dengan IHSG. Sektor transportasi terjun bebas 6,20%. Sektor barang baku tumbang 5,17%.
Sektor perindustrian merosot 3,24%. Sektor infrastruktur anjlok 2,98%. Sektor energi melorot 2,37%.
Sektor properti dan real estat tergerus 2,22%. Sektor teknologi terpangkas 2,21%. sektor barang konsumsi primer turun 1,81%.
Sektor keuangan melemah 1,79%. Sektor barang konsumsi nonprimer turun 1,58%. Sektor kesehatan melemah 1,24%.
Total volume transaksi bursa mencapai 32,02 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 20,72 triliun. Sebanyak 616 saham melemah. Ada 125 saham menguat dan 79 saham flat.
Net sell asing di pasar reguler sebesar Rp 460,34 miliar. Sedangkan net sell asing di pasar tunai dan pasar negosiasi sebesar Rp 3,65 miliar.
Saham-saham dengan net sell terbesar asing adalah PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) Rp 315 miliar, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) Rp 152,5 miliar, dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) Rp 6,76%.
Saham-saham dengan net buy atau beli bersih terbesar asing adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Rp 107,1 miliar, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Rp 84,9 miliar, dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Rp 62,3 miliar.
