Krisis Kepercayaan Hantam IHSG, Intip Prediksi dan Rekomendasi Saham Hari Ini (19/5)

Selasa, 19 Mei 2026 | 05:00 WIB
Krisis Kepercayaan Hantam IHSG, Intip Prediksi dan Rekomendasi Saham Hari Ini (19/5)
[]
Reporter: Muhammad Alief Andri | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sempat terjun 4,83% ke 6.398,79, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 124,08 poin atau 1,85% menjadi 6.599,24 pada perdagangan Senin (18/5).

IHSG mengakumulasi penurunan 8,02% dalam lima hari perdagangan terakhir. Sedangkan sejak awal tahun, IHSG sudah terpangkas 23,68%.

Head of Retail Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengatakan, pelemahan IHSG dipengaruhi oleh meningkatnya ketidakpastian global, terutama dari sisi geopolitik dan kenaikan harga komoditas.

“Konflik geopolitik yang berlarut-larut kembali mendorong harga minyak mentah dunia ke atas US$100 per barel, sehingga meningkatkan kekhawatiran investor terhadap tekanan inflasi dan perlambatan ekonomi global,” ujar Herditya kepada Kontan, Senin (18/5/2026).

Ia menambahkan, pergerakan bursa global dan mayoritas bursa Asia yang melemah, serta nilai tukar rupiah yang masih tertekan di kisaran Rp17.681 per dolar AS turut membebani IHSG.

Baca Juga: Rotasi ke Altcoin Disebut Mulai Terlihat, Trader Tetap Harus Selektif Memilih Kripto

Senada, Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang mengungkapkan, pelemahan IHSG juga dipicu oleh tekanan eksternal dan kondisi domestik yang kurang kondusif.

“Melemahnya mayoritas indeks global dan berlanjutnya depresiasi rupiah menjadi faktor negatif bagi IHSG, di tengah minimnya sentimen positif,” jelas Alrich.

Ia menyoroti meningkatnya ketegangan geopolitik, khususnya antara Amerika Serikat dan Iran, yang turut mendorong kenaikan harga minyak mentah dan memicu kekhawatiran inflasi global.

Selain itu, nilai tukar rupiah yang melemah ke level Rp17.668 per dolar AS, atau terendah sepanjang sejarah, juga menambah tekanan terhadap pasar saham domestik.

“Tekanan terhadap rupiah ini mendorong munculnya perkiraan bahwa Bank Indonesia berpeluang menaikkan suku bunga acuan pada pertemuan pekan ini,” imbuhnya.

Dengan berbagai sentimen tersebut, pergerakan IHSG diperkirakan masih akan dibayangi volatilitas, meski berpeluang mengalami penguatan teknikal dalam jangka pendek.

Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menyebutkan, penurunan IHSG saat ini tidak lagi sekadar koreksi normal, melainkan mencerminkan krisis kepercayaan investor.

“Kejatuhan IHSG hingga ke level 6.599 bukan lagi sekadar koreksi biasa, melainkan cerminan bahwa pasar sedang memasuki fase krisis kepercayaan yang cukup serius,” kata Hendra kepada Kontan, Senin (18/5/2026).

Baca Juga: Emiten Emas Masih Berpeluang Cuan, Ini Pemicu Lonjakan Profitnya

Ia menjelaskan, tekanan terhadap IHSG berasal dari kombinasi faktor global dan domestik. Dari eksternal, konflik geopolitik di Timur Tengah, lonjakan harga minyak, penguatan dolar AS, serta kenaikan yield obligasi global menjadi pemicu utama.

Sementara dari dalam negeri, pelemahan nilai tukar rupiah yang telah menembus Rp17.600 per dolar AS serta derasnya aksi jual investor asing turut memperburuk sentimen pasar.

“Ketika rupiah melemah tajam, asing mencatatkan net sell besar, dan saham-saham big caps terus tertekan, maka pasar sedang mengirim pesan bahwa persepsi risiko terhadap Indonesia meningkat tajam,” jelasnya.

Secara teknikal, Hendra menyebut posisi IHSG saat ini sudah berada di area oversold. Namun, peluang penguatan dinilai masih rentan.

“Rebound jangka pendek memang sangat mungkin terjadi karena penurunan indeks sudah terlalu dalam, tetapi masih rawan menjadi dead cat bounce selama faktor utama tekanan belum selesai,” ungkapnya.

Ia menambahkan, sejumlah risiko masih membayangi pasar, mulai dari pelemahan rupiah, kenaikan harga minyak dunia, potensi kenaikan suku bunga global, hingga kekhawatiran perlambatan ekonomi domestik.

Selain itu, kenaikan yield obligasi Amerika Serikat ke kisaran 4,6% membuat aliran dana global cenderung kembali ke aset safe haven dibandingkan ke pasar negara berkembang seperti Indonesia.

Dari sisi domestik, investor juga mencermati penurunan kualitas likuiditas pasar, aksi jual pada saham-saham konglomerasi, serta ketidakpastian arah kebijakan ekonomi.

“Selama IHSG belum mampu kembali bertahan di atas area 6.800-6.900, maka risiko melanjutkan koreksi ke 6.400-6.500 masih terbuka,” tambahnya.

Meski demikian, ia melihat kondisi saat ini mulai membuka peluang bagi investor jangka panjang, seiring valuasi saham yang semakin menarik.

“Ketika pasar panik dan valuasi turun signifikan, biasanya peluang investasi justru mulai muncul. Namun, strategi masuk harus selektif dan bertahap,” kata Hendra.

Untuk perdagangan Selasa (19/5/2026), Hendra memproyeksikan IHSG bergerak di kisaran support 6.398 dan resistance 6.600.

Herditya memperkirakan IHSG berpotensi mengalami technical rebound dengan level support di 6.492 dan resistance di 6.705 untuk hari ini.

“Sentimen pergerakan IHSG masih akan dipengaruhi oleh nilai tukar rupiah dan harga minyak mentah, serta investor juga mencermati dampak dari rebalancing indeks MSCI dan FTSE,” tambahnya.

Untuk rekomendasi saham, Herditya menyarankan pelaku pasar mencermati ADMR di rentang Rp1.820-Rp2.010, ARCI di Rp1.385-Rp1.525, serta INKP di Rp8.925-Rp9.225.

 

Pasar Bergejolak, IHSG dan Rupiah Tumbang

 

Baca Juga: Investor Perlu Cermat, Sejumlah Emiten Ini Berganti Pengendali

 

Rekap Perdagangan 18 Mei 2026

Seluruh indeks sektoral merosot bersama dengan IHSG. Sektor transportasi terjun bebas 6,20%. Sektor barang baku tumbang 5,17%.

Sektor perindustrian merosot 3,24%. Sektor infrastruktur anjlok 2,98%. Sektor energi melorot 2,37%.

Sektor properti dan real estat tergerus 2,22%. Sektor teknologi terpangkas 2,21%. sektor barang konsumsi primer turun 1,81%.

Sektor keuangan melemah 1,79%. Sektor barang konsumsi nonprimer turun 1,58%. Sektor kesehatan melemah 1,24%.

Total volume transaksi bursa mencapai 32,02 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 20,72 triliun. Sebanyak 616 saham melemah. Ada 125 saham menguat dan 79 saham flat.

Net sell asing di pasar reguler sebesar Rp 460,34 miliar. Sedangkan net sell asing di pasar tunai dan pasar negosiasi sebesar Rp 3,65 miliar.

Saham-saham dengan net sell terbesar asing adalah PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) Rp 315 miliar, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) Rp 152,5 miliar, dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) Rp 6,76%.

Saham-saham dengan net buy atau beli bersih terbesar asing adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Rp 107,1 miliar, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Rp 84,9 miliar, dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Rp 62,3 miliar.

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Saham TLKM Turun 30,75% Sejak Awal 2026, Ini Katalis Pemulihan dan Rekomendasi Analis
| Selasa, 30 Juni 2026 | 08:28 WIB

Saham TLKM Turun 30,75% Sejak Awal 2026, Ini Katalis Pemulihan dan Rekomendasi Analis

Penurunan saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) bahkan lebih dalam dibandingkan dividend yield yang diterima investor.

Usai Membagikan Dividen Jumbo, Saham UNVR Lolos dari Dividend Trap dan Terus Melaju
| Selasa, 30 Juni 2026 | 07:52 WIB

Usai Membagikan Dividen Jumbo, Saham UNVR Lolos dari Dividend Trap dan Terus Melaju

Tekanan jual terhadap saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) usai dividen dinilai telah berhasil diredam sepenuhnya.

Strategi ERAA Mengantisipasi Dampak Depresiasi Rupiah
| Selasa, 30 Juni 2026 | 07:37 WIB

Strategi ERAA Mengantisipasi Dampak Depresiasi Rupiah

PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) mengatur strategi untuk menjaga kinerja di tengah pelemahan nilai tukar rupiah 

Demutualisasi BEI Masih Menunggu Aturan Turunan UU P2SK
| Selasa, 30 Juni 2026 | 07:34 WIB

Demutualisasi BEI Masih Menunggu Aturan Turunan UU P2SK

BEI kini masih menunggu aturan pelaksana sebagai turunan UU P2SK sebelum proses perubahan bentuk kelembagaan tersebut dapat dijalankan.

Investor Masih Wait and See, IHSG Selasa (30/6) Rawan Koreksi
| Selasa, 30 Juni 2026 | 07:32 WIB

Investor Masih Wait and See, IHSG Selasa (30/6) Rawan Koreksi

Pelemahan IHSG juga dipicu rendahnya aktivitas transaksi yang mencerminkan sikap wait and see investor.

Insentif Otomotif Diusulkan Diperluas
| Selasa, 30 Juni 2026 | 07:24 WIB

Insentif Otomotif Diusulkan Diperluas

Usulan itu muncul saat program insentif kendaraan listrik, baik motor maupun mobil, ditunda hingga Agustus 2026.

Industri Menanti Kepastian Suplai Gas HGBT
| Selasa, 30 Juni 2026 | 07:18 WIB

Industri Menanti Kepastian Suplai Gas HGBT

pemerintah pun mengevaluasinya dengan menurunkan harga LNG non-HGBT untuk industri menjadi US$ 13 per mmbtu.

ALDO Memperkuat Kemasan Daur Ulang
| Selasa, 30 Juni 2026 | 07:11 WIB

ALDO Memperkuat Kemasan Daur Ulang

Pertumbuhan kinerja keuangan ditopang oleh anak usaha, PT Eco Paper Indonesia, yang memproduksi kemasan kertas daur ulang ramah lingkungan.

Tahap Akhir Uji Tabung CNG
| Selasa, 30 Juni 2026 | 07:02 WIB

Tahap Akhir Uji Tabung CNG

Saat ini, pemerintah bersiap melakukan satu tahapan pengujian lagi terhadap prototipe tabung yang diimpor dari China

Strategi HRTA Jaga Pasokan Emas di Tengah Lonjakan Permintaan
| Selasa, 30 Juni 2026 | 07:00 WIB

Strategi HRTA Jaga Pasokan Emas di Tengah Lonjakan Permintaan

Meski laba HRTA melesat, pelemahan rupiah bisa mengancam margin. Ketahui mengapa beberapa analis menyarankan 'wait and see' sebelum berinvestasi.

INDEKS BERITA

Terpopuler