Kwik Kian Gie, Suara yang Tak Dicatat Statistik
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ia lahir dari rahim sunyi sejarah, di Juwana, 11 Januari 1935, sebuah nama yang tak pernah menghuni daftar agung republik. Anak dari mereka yang kerap dilupakan negara, dibesarkan dalam zaman yang bahkan belum bersedia memberi nama bagi keberadaan minoritasnya. Keturunan Tionghoa, sebutan itu bagai stempel tak terundang dalam akta dan identitas, diam-diam mengukir seluruh cara ia mengeja keadilan. Ini bukan sekadar takdir kelahiran. Ini adalah titik tolak sebuah epistemologi perlawanan, serupa getar pertama pemberontakan dalam setiap jiwa yang terpinggirkan.
Kwik Kian Gie bukan hanya seorang ekonom. Ia adalah seorang filsuf angka, yang menolak dogma efisiensi buta. Baginya, grafik pertumbuhan tak pernah bisa berdiri sendiri tanpa dialektika distribusi yang adil. Dan negara, betapapun raksasanya, harus sujud pada bisikan mereka yang tak punya suara. Ia belajar ekonomi bukan untuk mengejar laba fatamorgana yang sering kali mengingatkan pada ilusi gajah putih yang membebani alih-alih memberdayakan. Ia mempelajari ekonomi untuk memahami mengapa begitu banyak yang tertinggal di balik istilah-istilah yang terlampau rapi. Seolah ia adalah seorang arkeolog yang menggali puing-puing kemanusiaan di balik reruntuhan teori ekonomi, mencari kearifan yang hilang dari pasar tak terlihat milik Adam Smith, yang kini lebih sering buta daripada melihat.
Baca Juga: Bisnis Pertambangan Emas Kian Menggiurkan, Emiten Ramai-Ramai Ekspansi dan Eksplorasi
