Ladang Basah Bernilai Triliunan
KONTAN.CO.ID - Bisnis parkir bukan sekadar urusan tempat mobil dan waktu semata. Parkir adalah ladang ekonomi bercuan besar. Namun, Azas Tigor Nainggolan, pengamat transportasi kota menceritakan, pemanfaatan bisnis parkir ini belum optimal dilakukan operator parkir maupun oleh pemerintah daerah.
Dalam hitungan Tigor, potensi retribusi parkir di Jakarta saja bisa mencapai Rp 8 triliun. Ini baru dari retribusi saja, belum dari pajaknya. Potensi itu tak hanya parkir di gedung perkantoran, rumahsakit, pusat belanja saja.
Parkir yang merupakan bagian dari sistem transportasi kota, seharusnya juga tersedia di area yang terkoneksi dengan transportasi umum. "Kantong parkir yang terhubung dengan transportasi umum, ini yang belum digarap serius," ungkap Tigor.
Baca Juga: Bukan Sebatas Parkir Dana, Ada Pula Potensi Cuannya
Memang ada kantong parkir yang di dekat sarana transportasi umum, namun belumlah memadai. Sementara akses transportasi publik di Jakarta sudah beragam, baik kereta api, Transjakarta, LRT dan juga MRT. Jika area parkir yang terhubung dengan sarana transportasi publik, Tigor bilang, perlahan warga akan menitipkan kendaraannya dan naik angkutan umum.
Maka itu, Tigor menyarankan operator parkir berinvestasi areal parkir di wilayah yang bisa dikoneksikan dengan angkutan umum. Saran itu disampaikan karena Tigor melihat, banyak operator parkir lebih suka mengelola parkir di gedung yang sudah jadi sehingga minim investasi. Padahal parkir bukan sekadar cari duit. Dia bagian dari sistem transportasi kota," ujarnya.
Alih-alih mendorong penggunaan transportasi publik, keberadaan lokasi parkir di gedung perkantoran di dalam kota justru memperkuat ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan pribadi. Jika area parkir di tengah kota, warga terkesan mendapat fasilitas membawa kendaraan bukan transportasi umum.
Melihat kondisi itu, Tigor menyarankan adanya reformasi regulasi, termasuk penghapusan kewajiban penyediaan lahan parkir di gedung-gedung di pusat kota. Menurut dia, kebijakan tersebut justru kontraproduktif terhadap upaya mengurangi kemacetan. "Yang untung perusahaan parkir saja, apalagi ada ganjil genap, mobil bayar parkir sampai malam," tegasnya.
