Lelang SUN Perdana di Tahun Ini Diproyeksi Bakal Dibanjiri Peminat

Selasa, 04 Januari 2022 | 04:55 WIB
Lelang SUN Perdana di Tahun Ini Diproyeksi Bakal Dibanjiri Peminat
[]
Reporter: Hikma Dirgantara | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah kembali menggelar lelang surat utang negara (SUN). Lelang perdana tahun 2022 ini ditargetkan bisa meraih Rp 25 triliun-Rp 37,5 triliun. 

Senior Economist Samuel Sekuritas Fikri C. Permana memperkirakan, minat pasar terhadap lelang akan tinggi. Terlebih sudah dua bulan tidak ada pasokan SUN di pasar perdana. 

Salah satu investor yang membutuhkan adalah kelompok perbankan, karena likuiditas berlimpah. "Kelompok fund manager juga ada kebutuhan mengatur ulang aset investasi, terlebih pada awal tahun," ujar dia, Senin (3/1).

Baca Juga: Jumlah Penawaran pada Lelang SUN Selasa (4/1) Diperkirakan Capai Rp 75 Triliun

Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Ramdhan Ario Maruto juga sepakat menyebut awal tahun ini merupakan periode bagi para fund manager mengatur ulang portofolio. "Tingginya minat peserta lelang juga akan ditunjang masih tingginya likuiditas domestik," ujar dia. 

Fikri menilai, investor asing belum akan banyak masuk pada lelang kali ini. Sebab investor asing cenderung wait and see seiring sikap hawkish The Fed. Hitungan dia, jumlah penawaran yang masuk pada lelang perdana ini bisa mencapai Rp 75 triliun.

Selain itu, Ramdhan menambahkan, kekhawatiran terhadap penyebaran Covid-19 varian omicron akan jadi fokus pelaku pasar. 

Ramdhan memprediksi jumlah penawaran masuk dalam lelang perdana tahun ini setidaknya bisa menyentuh Rp 60 triliun. "Karena perbankan masih akan jadi investor terbesar, maka seri benchmark FR0091 yang jatuh tempo pada 15 April 2032 akan jadi incaran," kata dia. 

Seri ini paling likuid seiring dengan kondisi pasar yang relatif volatil. "Sementara yield seharusnya masih akan kompetitif jika melihat pergerakan belakangan ini yang cukup stabil, jadi tidak akan jauh berbeda dengan di pasar sekunder," kata Ramdhan.

Fikri juga memperkirakan investor akan memburu seri bertenor pendek. Alasannya, ada volatilitas akibat sentimen potensi kenaikan bunga serta yield US Treasury.

Seri tenor panjang seperti FR0092 yang jatuh tempo pada 15 Juni 2042 dan seri FR0089 jatuh tempo 15 Agustus 2051 juga akan jadi pilihan para investor. Pasalnya, tren pemulihan ekonomi bisa memulihkan minat investor. 

Baca Juga: Pemerintah Akan Melelang 7 Seri SUN Dengan Target Rp 37,5 Triliun pada Selasa (4/1)

"Tapi yield US Treasury yang juga mulai naik, maka SUN tenor jangka pendek seperti lima tahun akan bergerak naik. Kalau tenor menengah-panjang kenaikannya terbatas," kata Fikri.

Bagikan

Berita Terbaru

Ancaman Defisit APBN: Rupiah Tertekan, Harga Minyak Membara
| Rabu, 11 Maret 2026 | 04:30 WIB

Ancaman Defisit APBN: Rupiah Tertekan, Harga Minyak Membara

Rupiah ditutup melemah pada Senin (9/3) di Rp16.949 per dolar AS. Sentimen global dan harga minyak picu tekanan. Simak proyeksi terbarunya

Ekspansi Bisa Memacu Kinerja TBS Energi Utama (TOBA) Kembali Perkasa Pada 2026
| Rabu, 11 Maret 2026 | 04:22 WIB

Ekspansi Bisa Memacu Kinerja TBS Energi Utama (TOBA) Kembali Perkasa Pada 2026

Tahun 2025 jadi momentum penting bagi PT TBS Energi Utama Tbk untuk memperkuat fondasi bisnis hijau. Upaya ini bisa mendongkrak kinerja di 2026.

Investor Wajib Tahu! Ini Pilihan Aset Aman Saat Gejolak Ekonomi
| Rabu, 11 Maret 2026 | 04:15 WIB

Investor Wajib Tahu! Ini Pilihan Aset Aman Saat Gejolak Ekonomi

Harga emas melonjak 16,58% sejak awal 2026. Konflik Timur Tengah picu kenaikan safe haven, lindungi aset Anda dari ketidakpastian global

Nilai Tukar Rupiah Masih Berpotensi Menguat pada Rabu (11/3)
| Rabu, 11 Maret 2026 | 04:15 WIB

Nilai Tukar Rupiah Masih Berpotensi Menguat pada Rabu (11/3)

Nilai tukar rupiah naik 0,51% ke Rp 16.863 per dolar AS hari ini. Komunikasi Trump-Putin jadi kunci. Simak prediksi besok!

Musim Pembagian Dividen Memacu Laju Indeks BUMN
| Rabu, 11 Maret 2026 | 04:11 WIB

Musim Pembagian Dividen Memacu Laju Indeks BUMN

Mayoritas indeks utama di Bursa Efek Indonesia tergerus di atas 2% sejak awal tahun 2026 (YtD). Namun, indeks BUMN20 hanya terkoreksi tipis 0,91%.

Kinerja ADRO, ADMR, AADI Tahun Lalu Merana: Bagaimana Proyeksi 2026?
| Rabu, 11 Maret 2026 | 04:00 WIB

Kinerja ADRO, ADMR, AADI Tahun Lalu Merana: Bagaimana Proyeksi 2026?

Eluang perbaikan kinerja mereka tetap terbuka pada 2026, bergantung pada perkembangan harga komoditas batubara hingga agenda hilirisasi mineral.

Astra International: Strategi Mobil Hibrida Dongkrak Penjualan?
| Rabu, 11 Maret 2026 | 04:00 WIB

Astra International: Strategi Mobil Hibrida Dongkrak Penjualan?

Laba bersih ASII di 2026 diperkirakan lebih rendah dari 2025. Analis beberkan penyebab utama dan rekomendasinya. 

Transisi Energi Global Dorong Harga Logam Industri, Siap-siap Lonjakan Baru
| Rabu, 11 Maret 2026 | 04:00 WIB

Transisi Energi Global Dorong Harga Logam Industri, Siap-siap Lonjakan Baru

Harga aluminium, nikel, dan timah bergerak liar. Konflik Timur Tengah dan pasokan terbatas jadi pemicu utama. 

Pelayaran Nasional Ekalaya Purnamasari (ELPI) Incar Pendapatan Tumbuh hingga 30%
| Rabu, 11 Maret 2026 | 04:00 WIB

Pelayaran Nasional Ekalaya Purnamasari (ELPI) Incar Pendapatan Tumbuh hingga 30%

Target tersebut meningkat dibandingkan capaian pendapatan pada 2025 yang berada di kisaran Rp 1 triliun hingga Rp 1,01 triliun.

Pompanisasi untuk Antisipasi El Nino
| Rabu, 11 Maret 2026 | 03:35 WIB

Pompanisasi untuk Antisipasi El Nino

Ancaman penurunan produksi pangan mengintai setelah BMKG memproyeksikan sebagian besar wilayah Indonesia bakal masuk musim kemarau lebih awal.

INDEKS BERITA

Terpopuler