Lusinan Kota Lakukan Lockdown, Ekonomi China Lumpuh Sepanjang April

Senin, 16 Mei 2022 | 10:01 WIB
Lusinan Kota Lakukan Lockdown, Ekonomi China Lumpuh Sepanjang April
[ILUSTRASI. Jalan yang kosong saat lockdown Covid-19 di Shanghai, China, 16 April 2022. REUTERS/Aly Song]
Reporter: Sumber: Reuters | Editor: Thomas Hadiwinata

KONTAN.CO.ID - BEIJING. Mesin ekonomi China mendingin sepanjang April. Kegiatan penguncian Covid-19 yang luas berdampak besar terhadap konsumsi, produksi industri, dan lapangan kerja, menambah kekhawatiran ekonomi dapat menyusut pada kuartal kedua.

China memberlakukan lockdown di lusinan kota secara penuh atau sebagian selama Maret hingga April. Pusat komersial Shanghai termasuk kawasan yang mengalami penutupan yang berkepanjangan. Akibat lockdown, pekerja dan pembeli terkurung di rumah hingga rantai pasokan terganggu.

Penjualan ritel pada April menyusut 11,1% dibanding tahun sebelumnya, kontraksi terbesar sejak Maret 2020, data dari Biro Statistik Nasional menunjukkan pada hari Senin. Angka tersebut memburuk dari penurunan 3,5% di bulan Maret dan meleset dari perkiraan untuk penurunan 6,1%.

Baca Juga: Kematian Akibat Covid-19 Terus Bertambah, Kim Jong Un Tegur Pejabat hingga Apoteker

Layanan makan di luar dihentikan di beberapa provinsi dan penjualan mobil China pada April turun 47,6% dari tahun sebelumnya karena pembuat mobil memangkas produksi di tengah ruang pamer yang kosong dan kekurangan suku cadang.

Ketika langkah-langkah anti-virus mengganggu rantai pasokan dan melumpuhkan distribusi, produksi industri turun 2,9% dari tahun sebelumnya, terutama lebih buruk dari kenaikan 5,0% pada bulan Maret dan di bawah ekspektasi untuk pertumbuhan 0,4%. Angka tersebut merupakan penurunan terbesar sejak Februari 2020.

Kejutan juga membebani pasar kerja, yang diprioritaskan oleh para pemimpin China untuk stabilitas ekonomi dan sosial. Tingkat pengangguran berbasis survei nasional naik menjadi 6,1% pada April dari 5,8%, tertinggi sejak Februari 2020 ketika berada di 6,2%.

Baca Juga: Pasca Kunjungan Kerja di AS, Presiden Jokowi Tiba di Indonesia

Pemerintah bertujuan untuk menjaga tingkat pengangguran di bawah 5,5% pada tahun 2022.

China ingin menciptakan sekitar 11 juta pekerjaan hingga 13 juta pekerjaan di kawasan perkotaan tahun ini, Perdana Menteri Li Keqiang mengatakan pada bulan Maret. Namun dia baru-baru ini mengakui situasi pekerjaan negara itu "rumit dan suram" setelah wabah Covid-19 terburuk sejak 2020.

Investasi aset tetap, pendorong utama yang diandalkan Beijing untuk menopang perekonomian karena ekspor kehilangan momentum, meningkat 6,8% tahun-ke-tahun dalam empat bulan pertama, dibandingkan dengan perkiraan kenaikan 7,0%.

Bagikan

Berita Terbaru

Negosiasi WTO Alot di Kamerun, Nasib Pajak Digital E-Commerce Global Terancam
| Minggu, 29 Maret 2026 | 16:32 WIB

Negosiasi WTO Alot di Kamerun, Nasib Pajak Digital E-Commerce Global Terancam

Negosiasi WTO tentang bea masuk digital terancam buntu. Dunia usaha was-was tarif baru, AS ancam kredibilitas WTO. Akankah ada jalan tengah?

Kerugian Garuda Indonesia (GIAA) Membengkak Sepanjang 2025, Masih Layak Diselamatkan?
| Minggu, 29 Maret 2026 | 11:00 WIB

Kerugian Garuda Indonesia (GIAA) Membengkak Sepanjang 2025, Masih Layak Diselamatkan?

Manajemen Garuda menyebutkan bahwa momen keluarnya GIAA dari papan pemantauan khusus menjadi momen penting untuk memperbaiki persepsi pasar.

Harga Batubara Melonjak, Tapi Pengusaha Dalam Negeri Belum Bisa Pesta-Pora
| Minggu, 29 Maret 2026 | 09:00 WIB

Harga Batubara Melonjak, Tapi Pengusaha Dalam Negeri Belum Bisa Pesta-Pora

Kenaikan harga minyak membebani biaya operasional perusahaan karena biaya bahan bakar mencakup sekitar 25%-35% dari biaya operasional perusahaan.

Perluas 5G dan Perkuat Segmen Enterprise, Begini Rekomendasi Saham EXCL
| Minggu, 29 Maret 2026 | 08:00 WIB

Perluas 5G dan Perkuat Segmen Enterprise, Begini Rekomendasi Saham EXCL

Dari sisi memperluas layanan, nantinya seluruh infrastruktur BTS 4G milik EXCL juga akan dilengkapi dengan teknologi 5G.

Sahamnya Terus Koreksi, Portofolio Investor Institusi Asing di Saham BREN Merugi
| Minggu, 29 Maret 2026 | 07:00 WIB

Sahamnya Terus Koreksi, Portofolio Investor Institusi Asing di Saham BREN Merugi

Secara teknikal, posisi pergerakan BREN saat ini masih berada di fase down trend-nya dengan tekanan jual dan volume yang tidak begitu besar.

Mencari Jalan Agar Botol Yakult Bisa Kembali Pulang
| Minggu, 29 Maret 2026 | 06:51 WIB

Mencari Jalan Agar Botol Yakult Bisa Kembali Pulang

Untuk mengurangi emisi karbon, PT Yakult Indonesia Persada memasang PLTS atap di dua unit pabriknya. Perusahaan juga men

 
Juragan Bioskop Berburu Penonton ke Kota-Kota Kecil
| Minggu, 29 Maret 2026 | 06:48 WIB

Juragan Bioskop Berburu Penonton ke Kota-Kota Kecil

Pengelola bioskop semakin masif mengembangkan layar di kota tier dua dan tier tiga. Mereka melirik peluang pertumbuhan.

Mencuil Cuan dari Sepotong Roti Gandum
| Minggu, 29 Maret 2026 | 06:44 WIB

Mencuil Cuan dari Sepotong Roti Gandum

Tren gaya hidup sehat mendorong lonjakan permintaan roti gandum, yang membuka peluang bagi pelaku usaha meraup penjualan dari roti gandum.

 
APBN di Persimpangan
| Minggu, 29 Maret 2026 | 06:40 WIB

APBN di Persimpangan

​Tekanan global dan ketidakpastian geopolitik, fluktuasi harga energi, hingga perlambatan ekonomi membuat ruang gerak fiskal semakin terbatas.

Saatnya Investor Melakukan Diversifikasi Sektor Saham
| Minggu, 29 Maret 2026 | 04:50 WIB

Saatnya Investor Melakukan Diversifikasi Sektor Saham

Diversifikasi tidak hanya berlaku pada saham, bisa dikombinasikan dengan aset-aset lain, seperti surat utang dan deposito.

INDEKS BERITA

Terpopuler