Mahalnya BBM Murah untuk Negeri
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menjelang subuh, Mas Ari menepi di pinggir jalan. Motor masih menyala, tetapi kepalanya sudah lebih dulu bekerja. Order belum tentu ramai, bensin tinggal sedikit, dan dari rumah datang kabar gas hampir habis. Di seberang jalan, Bu Rina menata dagangan lontong sayurnya. Ia tidak mengerti apapun tentang Selat Hormuz, harga minyak Brent, atau anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN). Ia hanya tahu, kalau harga gas naik, plastik naik, lalu pembeli menawar, yang hilang lebih dulu bukan laba, melainkan napas usahanya.
Di situlah polemik harga bahan bakar minyak (BBM) selalu berakhir. Semuanya dimulai di ruang rapat dengan istilah fiskal, subsidi, kompensasi dan harga keekonomian. Tetapi ujungnya tetap sama: dapur rumah tangga, jok motor pengemudi ojol, trayek angkot, perahu nelayan kecil, gerobak gorengan dan warung makan yang hidup dari margin setipis kulit bawang.
