Manajer Salah Kelas
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lima orang calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih telah meninggal dunia pada 10 hari pertama pelaksanaan latihan dasar militer (latsarmil). Mereka gugur sebelum sempat menyandang gelar manajer koperasi yang telah mereka idam-idamkan.
Peristiwa duka ini tentu menuai sorotan publik. Banyak yang bertanya, kenapa calon manajer koperasi itu mendapatkan latihan layaknya prajurit tempur yang butuh kekuatan fisik? Namun pihak pelaksana beralasan bahwa latihan itu untuk menempa disiplin dan integritas.
Namun inilah sumber masalahnya. Disiplin dan integritas ala militer itu memang cocok untuk prajurit yang membutuhkan komando. Namun untuk manajer koperasi, tentu kebutuhan kompetensinya akan berbeda. Sebagai institusi ekonomi, kebutuhannya adalah kemampuan untuk mengelola usaha, melayani anggota, membaca peluang pasar, mengelola keuangan serta membangun jaringan pemasaran.
Karena koperasi tersebut menggunakan anggaran negara, tentu kemampuan menyusun laporan yang transparan juga penting. Jika belajar dari sejarah koperasi, tak ada satu pun prinsip dasar koperasi yang mensyaratkan kemampuan baris-berbaris, ketahanan fisik ekstrem, atau kedisiplinan ala militer.
Yang ada justru tantangan sebaliknya. Ada banyak temuan lemahnya tata kelola koperasi, rendahnya kualitas manajemen, minimnya inovasi usaha, dan terbatasnya kapasitas sumber daya manusia.
Berbagai studi tentang kegagalan koperasi telah menunjukkan akar masalahnya hampir selalu berada pada aspek manajerial, bukan pada kurangnya ketahanan fisik para pengurusnya. Maka itu, mewajibkan calon manajer Koperasi Merah Putih ikut kelas latihan dasar militer tak sesuai dengan kebutuhan.
Jika tujuannya untuk mencetak pengelola koperasi yang profesional, maka kelas pelatihan yang diberikan seharusnya berkaitan dengan kompetensi yang dibutuhkan. Seorang calon manajer koperasi membutuhkan pelatihan kepemimpinan, tetapi kepemimpinan yang relevan dengan organisasi ekonomi bukan organisasi komando seperti di institusi militer.
Manajer koperasi juga butuh keahlian membaca laporan keuangan, memahami manajemen risiko, mengembangkan model bisnis, mengelola rantai pasok, memanfaatkan teknologi digital, dan melayani anggota. Keterampilan-keterampilan itulah yang akan menentukan apakah koperasi tersebut tumbuh atau justru gagal.
