Manajer Salah Kelas

Selasa, 30 Juni 2026 | 06:10 WIB
Manajer Salah Kelas
[ILUSTRASI. Asnil Bambani Amri (KONTAN/Indra Surya)]
Asnil Bambani | Senior Editor

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lima orang calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih telah meninggal dunia pada 10 hari pertama pelaksanaan latihan dasar militer (latsarmil). Mereka gugur sebelum sempat menyandang gelar manajer koperasi yang telah mereka idam-idamkan. 

Peristiwa duka ini tentu menuai sorotan publik. Banyak yang bertanya, kenapa calon manajer koperasi itu mendapatkan latihan layaknya prajurit tempur yang butuh kekuatan fisik? Namun pihak pelaksana beralasan bahwa latihan itu untuk menempa disiplin dan integritas. 

Namun inilah sumber masalahnya. Disiplin dan integritas ala militer itu memang cocok untuk prajurit yang membutuhkan komando. Namun untuk manajer koperasi, tentu kebutuhan kompetensinya akan berbeda. Sebagai institusi ekonomi, kebutuhannya adalah kemampuan untuk mengelola usaha, melayani anggota, membaca peluang pasar, mengelola keuangan serta membangun jaringan pemasaran.

Karena koperasi tersebut menggunakan anggaran negara, tentu kemampuan menyusun laporan yang transparan juga penting. Jika belajar dari sejarah koperasi, tak ada satu pun prinsip dasar koperasi yang mensyaratkan kemampuan baris-berbaris, ketahanan fisik ekstrem, atau kedisiplinan ala militer.

Yang ada justru tantangan sebaliknya. Ada banyak temuan lemahnya tata kelola koperasi, rendahnya kualitas manajemen, minimnya inovasi usaha, dan terbatasnya kapasitas sumber daya manusia. 

Berbagai studi tentang kegagalan koperasi telah menunjukkan akar masalahnya hampir selalu berada pada aspek manajerial, bukan pada kurangnya ketahanan fisik para pengurusnya. Maka itu, mewajibkan calon manajer Koperasi Merah Putih ikut kelas latihan dasar militer tak sesuai dengan kebutuhan. 

Jika tujuannya untuk mencetak pengelola koperasi yang profesional, maka kelas pelatihan yang diberikan seharusnya berkaitan dengan kompetensi yang dibutuhkan. Seorang calon manajer koperasi membutuhkan pelatihan kepemimpinan, tetapi kepemimpinan yang relevan dengan organisasi ekonomi bukan organisasi komando seperti di institusi militer. 

Manajer koperasi juga butuh keahlian membaca laporan keuangan, memahami manajemen risiko, mengembangkan model bisnis, mengelola rantai pasok, memanfaatkan teknologi digital, dan melayani anggota. Keterampilan-keterampilan itulah yang akan menentukan apakah koperasi tersebut tumbuh atau justru gagal.

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terkait

Berita Terbaru

UMKM Merasa Dua Tahun Terakhir Situasi Lebih Sulit dibandingkan Saat Pandemi
| Selasa, 20 Oktober 2026 | 10:00 WIB

UMKM Merasa Dua Tahun Terakhir Situasi Lebih Sulit dibandingkan Saat Pandemi

Keterbatasan modal, UMKM sulit mengikuti lelang/tender proyek-proyek pemerintah karena secara kapasitas produksi dan modal tidak akan mencukupi.

Pasar Saham Anjlok, Asing Lari ke SBN: Intip Strategi dan Tenor Obligasi Paling Cuan
| Selasa, 20 Oktober 2026 | 10:00 WIB

Pasar Saham Anjlok, Asing Lari ke SBN: Intip Strategi dan Tenor Obligasi Paling Cuan

Peningkatan realisasi belanja dan kebutuhan pembiayaan pada kuartal IV berpotensi menambah tekanan pasokan SBN.

SCMA Membagikan Dividen Interim Rp 533,43 Miliar
| Selasa, 20 Oktober 2026 | 09:49 WIB

SCMA Membagikan Dividen Interim Rp 533,43 Miliar

PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) mengumumkan akan membagikan dividen interim kepada pemegang saham sebesar Rp 533,43 miliar.​

Manajemen DSSA Buka Suara Soal Sanksi OJK
| Selasa, 20 Oktober 2026 | 09:44 WIB

Manajemen DSSA Buka Suara Soal Sanksi OJK

Manajemen PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) buka suara perihal sanksi yang diberikan OJK terkait dugaan manipulasi perdagangan saham.

Tiga Emiten Tersangkut Pemeriksaan OJK, Buyback Rp 2,5 Triliun Usai Saham Anjlok
| Selasa, 20 Oktober 2026 | 09:43 WIB

Tiga Emiten Tersangkut Pemeriksaan OJK, Buyback Rp 2,5 Triliun Usai Saham Anjlok

Aksi buyback dengan total anggaran Rp 2,5 triliun berpotensi membantu meredam tekanan jual dan menjaga stabilitas harga.

Emiten Big Caps Buyback Saham Saat Pasar Tertekan
| Selasa, 20 Oktober 2026 | 09:38 WIB

Emiten Big Caps Buyback Saham Saat Pasar Tertekan

Emiten berkapitalisasi besar di BEI, dari BREN hingga BBCA menyisihkan anggaran jumbo untuk buyback saham.

Bursa Butuh Dana Institusi Domestik Saat Tekanan Jual Asing Semakin Mencekik
| Selasa, 20 Oktober 2026 | 09:26 WIB

Bursa Butuh Dana Institusi Domestik Saat Tekanan Jual Asing Semakin Mencekik

Investor institusi domestik bisa jadi penyangga Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di tengah tekanan jual investor asing​.

Aturan ARB 7% Berlaku, Penurunan Saham Big Cap Bisa Diredam Sementara Waktu
| Selasa, 20 Oktober 2026 | 09:00 WIB

Aturan ARB 7% Berlaku, Penurunan Saham Big Cap Bisa Diredam Sementara Waktu

Saham big caps dengan likuiditas tinggi dan fundamental kuat lebih mampu menyerap tekanan jual, meski tak otomatis kebal terhadap outflow asing.

El Nino Jadi Pisau Bermata Dua Bagi Produksi Sawit, 6 Saham Ini bisa Cuan Maksimal
| Selasa, 20 Oktober 2026 | 08:38 WIB

El Nino Jadi Pisau Bermata Dua Bagi Produksi Sawit, 6 Saham Ini bisa Cuan Maksimal

Bagi emiten CPO yang punya eksposur besar pada bisnis upstream, kenaikan harga dapat memberikan leverage yang signifikan terhadap profitabilitas.

Dua Inisiatif Lagi Demi Merayu MSCI
| Selasa, 20 Oktober 2026 | 07:49 WIB

Dua Inisiatif Lagi Demi Merayu MSCI

Inisiatif tersebut ialah menambah informasi status afiliasi pemegang saham dengan kepemilikan 1% dan mengeluarkan saham HSC dari perhitungan IHSG.

INDEKS BERITA

Terpopuler