Memperluas Jejaring Bisnis, BUAH Siap Menambah Cabang di Sulawesi dan Sumatra
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Segar Kumala Indonesia Tbk (BUAH) ingin melanjutkan pertumbuhan kinerja pada tahun ini. Manajemen BUAH menyiapkan sejumlah strategi agar kinerja keuangan tetap bertumbuh pada 2026 di tengah ketidakpastian geopolitik global.
Berdasarkan laporan keuangan yang dirilis pekan lalu, Segar Kumala Indonesia membukukan penjualan neto senilai Rp 3,27 triliun pada 2025. Jumlah ini meningkat 47,30% secara tahunan atau year-on-year (yoy) dibandingkan penjualan neto 2024 yang sebesar Rp 2,22 triliun.
Seiring dengan kenaikan kinerja top line, BUAH mencatatkan peningkatan beban pokok penjualan sebesar 49,51% dari Rp 2,04 triliun pada 2024 menjadi Rp 3,05 triliun di tahun 2025.
Dari sisi bottom line, BUAH meraih laba tahun berjalan atau laba bersih senilai Rp 50 miliar pada tahun lalu. Angka ini tumbuh 42,9% ketimbang laba bersih 2024 yang senilai Rp 35 miliar.
Baca Juga: Kondisi Geopolitik Ubah Hasrat Investasi & Restrukturisasi Pengusaha Energi dan SDA
Direktur Utama Segar Kumala Indonesia, Renny Lauren mengatakan, pihaknya pada tahun ini akan menambah cabang di dua lokasi untuk memperluas jangkauan distribusi, tepatnya di Sulawesi bagian Utara dan Sumatra. "Dengan rencana ini, kami menargetkan kapasitas cold storage atau fasilitas penyimpanan bertambah 500.000 kilogram atau 500 ton," ungkap dia kepada KONTAN, Selasa (24/3).
Efek krisis Timur Tengah
Di tengah ketidakpastian geopolitik global imbas perang di kawasan Timur Tengah, Renny menyebutkan, prospek perdagangan buah-buahan ke depan masih dibayangi sejumlah tantangan. Pasalnya, volatilitas harga bahan bakar minyak (BBM) dapat mengerek biaya produksi perusahaan secara signifikan. "Hal ini tentu menjadi tantangan berat dalam menjaga stabilitas harga di pasar," imbuh dia.
Untuk mengatasi problem tersebut, menurut Renny, Sugar Kumala Indonesia akan terus memantau pergerakan daya beli masyarakat sambil merumuskan skema mitigasi harga yang paling tepat.
Baca Juga: Pasokan Gas Hambat Utilisasi Industri Keramik
Ihwal ekspansi memperluas jejaring bisnis di dua wilayah pada tahun ini, menurut Renny, juga merupakan langkah strategis perusahaan untuk menjaga momentum pertumbuhan di tengah situasi yang masih dinamis. "Kami memang membatasi pada dua lokasi baru tahun ini, tapi itu adalah langkah strategis yang telah direncanakan dengan matang," imbuh Renny.
Pada 2025, pasar Pulau Jawa masih mendominasi penjualan BUAH, yakni mencapai Rp 2,14 triliun, disusul Sumatra Rp 330,21 miliar, Sulawesi 329,91 miliar, Kalimantan Rp 186,34 miliar dan kota lainnya Rp 282,08 miliar.
Manajemen Segar Kumala Indonesia juga fokus memperkuat penetrasi pada produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar saat ini, sambil memaksimalkan potensi di daerah.
Baca Juga: Ada Efisiensi Anggaran, Setoran Pajak Bakal Ikut Tertekan
Meskipun demikian, Renny bilang, BUAH melirik dan memanfaatkan peluang dari meningkatnya gaya hidup belanja dengan bijak alias smart spending. Fenomena tersebut membuka peluang bagi komoditas pangan berkualitas seperti buah-buahan. Oleh karena itu, Segar Kumala Indonesia berupaya untuk tetap bertumbuh dan melanjutkan ekspansi sesuai rencana.
Di tengah perang Timur Tengah yang belum tentu berakhir dalam waktu dekat, BUAH juga mengutamakan kualitas pertumbuhan bisnis di atas kuantitas. Dengan risiko pasar yang cukup tinggi, mereka menetapkan target pertumbuhan penjualan tahun ini dengan lebih moderat, yakni single digit di kisaran 3%–4% dibandingkan realisasi tahun lalu. "Sebab, prioritas perusahaan saat ini adalah profitabilitas," ujar Renny.
Segar Kumala Indonesia juga berupaya memperbaiki struktur biaya secara internal agar mampu mendorong kenaikan margin laba bersih atau net profit margin hingga mencapai target 8%–10%. Manajemen BUAH optimistis dapat mencapai target kinerja guna memastikan perusahaan tetap sehat dan kompetitif.
