Menaguk Cuan Dividen Emiten Bank, Yield Dividen Terbesar Masih dari Bank Pelat Merah

Sabtu, 29 Maret 2025 | 03:50 WIB
Menaguk Cuan Dividen Emiten Bank, Yield Dividen Terbesar Masih dari Bank Pelat Merah
[ILUSTRASI. BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), salah satu perusahaan sekuritas terkemuka di Indonesia dan anak usaha dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (IDX: BBRI) mencatatkan pertumbuhan signifikan dalam layanan Investment Banking-nya, terutama untuk layanan penjaminan emisi surat utang sepanjang 2024]
Reporter: Avanty Nurdiana | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kabar baik bagi investor pemburu dividen. Pasalnya, sejumlah emiten perbankan membagi dividen dengan imbal hasil cukup gede. Berdasarkan riset KONTAN, ada tujuh emiten perbankan yang cum dividen-nya belum jatuh tempo.

Tujuh emiten bank tersebut di antaranya adalah PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN), PT Bank Danamon Tbk (BDMN), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT OCBC NISP Tbk (NISP) dan PT Bank Mega Tbk (MEGA). Anda bisa melihat rincian pembagian dividen dalam tabel di bawah.

Selain tujuh emiten bank tersebut, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) juga menjadi emiten pembagi dividen. Tapi cum dividen dari BBCA sudah berakhir di 24 Maret 2025 dan akan dibayar pada 11 April 2025.

Baca Juga: Bank Mandiri (BMRI) Akan Bagikan Dividen Rp 466 Per Saham, Ini Jadwalnya

Dari tujuh emiten perbankan, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk menjadi emiten yang membagi dividen paling besar. Emiten berkode saham BBRI ini telah diizinkan untuk membagi dividen sebesar 85,32% laba bersih menjadi Rp 51,74 triliun. Ini artinya Bank BRI akan membagi dividen sebesar Rp 343,4 per saham.

Namun, jumlah tersebut sudah termasuk dengan dividen interim yang telah dibagikan kepada pemegang saham pada tanggal 15 Januari 2025 sebesar Rp 20,34 triliun atau sebesar Rp 135 per saham. Bank BRI masih memiliki sisa pembagian dividen tunai yang akan dibayarkan kepada pemegang saham sebesar Rp 31,39 triliun setara dengan Rp 208,4 per saham.

Sehingga jika menggunakan acuan harga penutupan saham BBRI pada 27 Maret 2025, di Rp 4.050 per saham, maka dividen yield yang akan diterima pemegang saham sebesar 5,15%.

Pembagian dividen Bank BRI akan mulai dibayarkan pada 23 April 2025. Pemegang saham yang berhak atas dividen harus tercatat sebelum tanggal 14 April 2025.

Baca Juga: Bank Mega (MEGA) Bakal Tebar Dividen Tunai Rp1,05 Triliun

BBRI memang bukan menjadi emiten bank dengan pembagi dividen terbesar karena sudah membagi sebagian dividen di awal tahun. Berdasarkan hitungan KONTAN, dari tujuh emiten bank peluang dividen masih bisa diraup, emiten yang memberi dividen yield terbesar adalah BMRI.

BMRI dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang dilaksanakan pada Selasa, 25 Maret 2025 telah mendapat izin untuk menggunakan 78% laba bersih yang diatribusi sebesar Rp 55,78 triliun menjadi dividen. Bank Mandiri akan membagi dividen sebesar Rp 43,51 triliun setara dengan Rp 466,18 per saham.

Jika menggunakan harga penutupan pada 27 Maret 2025, saham BMRI ditutup di Rp 5.200 per saham. Maka pemegang saham yang memegang saham BMRI hingga 15 April 2025 akan menuai imbal hasil dividen sebesar 8,97%.

Imbal hasil ini paling tinggi di antara bank lain. Berdasarkan hitungan KONTAN atas tujuh bank yang berencana membagi dividen rata-rata memberi imbal hasil dividen sebesar 6,29%. Total dividen yang dibagi oleh Bank Mandiri juga paling tinggi kedua setelah Bank BRI.

Baca Juga: Dividen Bank Danamon (BDMN) Rp 113,85 per saham, Potensi Yield 4,6%

Di antara tujuh emiten bank yang cum dividen masih belum jatuh tempo, hanya ada tiga bank swasta yang telah mengumumkan rencana pembagian dividen sebelum libur Lebaran. Mereka adalah BDMN, NISP dan MEGA.

Dari sisi nilai pembagian dividen yang diberikan NISP menjadi bank swasta yang membagi dividen paling gede yakni sebesar Rp 2,43 triliun. Nilai tersebut setara dengan 49,98% dari laba bersih yang dikantongi NISP di sepanjang tahun lalu.

Di mana NISP akan membagi dividen sebesar Rp 106 per saham. Jika menggunakan harga penutupan 27 Maret 2025 di Rp 1.345, maka yield dividen NISP sebesar 7,88%. Peluang dividen NISP ini masih bisa Anda rasakan jika memiliki saham sebelum 10 April 2025.

Yield dividen yang dibagi NISP lebih tinggi dibanding BDMN yang hanya sebesar 4,67% dengan acuan harga di Rp 2.440 per saham, per Kamis (27/3).

Bank Danamon dalam RUPS yang diadakan pada 21 Maret 2025 memutuskan untuk membagi 35% dari laba bersih atau setara dengan Rp 1,11 triliun menjadi dividen. Sehingga dividen per saham yang akan dibagi kepada pemegang saham adalah Rp 113,85 per saham.

Baca Juga: Dividen BBRI Rp 208,4 per saham, Paling Lambat Beli Sahamnya 10 April 2025

Sementara Bank Mega baru mengumumkan rencana pembagian dividen pada 27 Maret. Perusahaan milik CT Group ini berencana membagi dividen sebesar Rp 1,05 triliun setara dengan 40% laba bersih mereka. Namun dalam pengumumnnya, MEGA belum merinci kapan cum dividen mereka.

Jika mengacu pada jumlah saham beredar MEGA sebanyak 11,74 miliar maka dividen per saham akan di kisaran Rp 89,39 per saham.

Beberapa kabar bagi dividen ini sejatinya telah memberi harapan positif pada pergerakan saham emiten perbankan jelang libur Lebaran. Padahal seminggu sebelumnya pasar diterpa sentimen buruk dan membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok hingga membuat Bursa Efek Indonesia (BEI) harus membekukan sementara perdagangan alias trading halt sistem perdagangan.

Analis Kiwoom Sekuritas, Oktavianus Audi mengatakan, saham big bank terutama masih mencatatkan pertumbuhan kinerja solid. Ini terlihat dari pertumbuhan kredit yang kompak bertumbuh secara tahunan.

"Bank Mandiri misalnya membukukan pertumbuhan kredit sebesar BMRI 19% secara tahunan, kredit BBRI tumbuh 5,16% secara year on year (yoy), BBNI naik 10,16% yoy dan BBCA meningkat 13,97% secara yoy. Penguatan ini kami perkirakan masih akan terjadi seiring dengan potensi pelonggaran suku bunga yang berdampak pada penurunan cost of credit dan menjaga demand kredit," papar Audi kepada KONTAN.

Baca Juga: Adira Finance (ADMF) Putuskan Tebar Dividen Laba Tahun 2024, Cek Besarannya

Tak hanya dari fundamental perusahaan yang terlihat positif. Menurut Audi, rencana pembagian dividen bank ternyata lebih tinggi dari ekspektasi para analis.

"Kami berpandangan pembagian dividen per saham (DPS) sudah sesuai ekspektasi, sejalan dengan kinerja. Bahkan terjadi kenaikan dividen payout rasio (DPR) BBRI sebesar 86% atau tertinggi dalam lima tahun terakhir, BMRI sebesar 78% atau di atas rerata lima tahun terakhir sebesar 60%," papar Audi.

Audi berpendapat, kenaikan dividen yang dibagi oleh emiten perbankan terutama yang pelat merah ada kepentingan dari Danantara. "Kami melihat ini didorong adanya kepentingan Danantara yang berasal dari dividen yang ditargetkan mencapai Rp 300 triliun," ujar dia.

Karena itu, Audi masih memberi rekomendasi beli saham bank besar. BMRI masih direkomendasi beli dengan target di Rp 5.450 per saham. BBNI ditargetkan di Rp 4.600, BBRI dipasang target Rp 4.570 dan BBCA ditargetkan di Rp 9.250 per saham.

Baca Juga: Asik! BBNI Umumkan Bakal Bagi Dividen Senilai Rp 13,9 Triliun

Meski begitu, prospek pergerakan harga saham bisa saja berubah lantaran pada 2 April 2025, Presiden Amerika Serikat (AS) akan memberlakukan tarif resiprokal. "Kami memperkirakan akan terjadi peningkatan volatilitas di pasar global," ujar Audi. Hal ini berpotensi menimbulkan dampak pada saat IHSG dibuka kembali pada 8 April 2025.

Emiten Bank Pembagi Dividen          
               
               
No Emiten bank Total pembagian dividen Payout ratio Cum dividen Dividen Harga (27/3) Dividen yield
1 Bank Central Asia (BBCA) Rp 36,98 triliun 67,44 24-Mar 250 8500 2,94%
2 Bank Negara Indonesia (BBNI) Rp 13,95 triliun 65% 16-Apr 374,05 4240 8,82%
3 Bank Rakyat Indonesia (BBRI) Rp 51,74 triliun 85,32% 14-Apr 208,4 4050 5,15%
4 Bank Tabungan Negara (BBTN) Rp 751,83 miliar 25% 16-Apr 53,57 885 6,05%
5 Bank Danamon (BDMN) Rp 1,11 triliun 35% 11-Apr 113,85 2440 4,67%
6 Bank Mandiri (BMRI) Rp 43,51 triliun 78% 15-Apr 466,18 5200 8,97%
7 OCBC NISP (NISP) Rp 2,43 triliun 49,98% 10-Apr 106 1345 7,88%
8 Bank Mega (MEGA) Rp 1,05 triliun 40%   89,39 3560 2,51%
            Average 6,29%
               
Sumber : Perusahaan, diolah KONTAN          

Bagikan

Berita Terkait

Berita Terbaru

Menakar Peluang Solana Menembus Level US$ 200/SOL pada Kuartal Pertama 2026
| Jumat, 09 Januari 2026 | 09:43 WIB

Menakar Peluang Solana Menembus Level US$ 200/SOL pada Kuartal Pertama 2026

Untuk mencapai harga US$ 200, Solana perlu mengalami kenaikan lebih dari 45 persen dari kisaran harga saat ini.

Dirut MKNT: Kami Tidak Ada Pinjaman Bank, Menarik Investor yang Mau Backdoor Listing
| Jumat, 09 Januari 2026 | 09:05 WIB

Dirut MKNT: Kami Tidak Ada Pinjaman Bank, Menarik Investor yang Mau Backdoor Listing

Backdoor listing perusahaan baja dan tambak udang jadi jalan ninja demi selamatkan PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk (MKNT).

Rekor Baru Saham RAJA, PTRO & IMPC, Sentuhan MSCI dan Dividen bisa Jaga Nafas Reli?
| Jumat, 09 Januari 2026 | 08:29 WIB

Rekor Baru Saham RAJA, PTRO & IMPC, Sentuhan MSCI dan Dividen bisa Jaga Nafas Reli?

Simak rekomendasi analis, target harga, dan prospek ekspansi PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) dan PT Petrosea Tbk (PTRO).

Menakar Prospek Saham Batubara di Tengah Ambisi Hilirisasi DME, PTBA Diuntungkan
| Jumat, 09 Januari 2026 | 08:12 WIB

Menakar Prospek Saham Batubara di Tengah Ambisi Hilirisasi DME, PTBA Diuntungkan

Tanpa struktur pendanaan yang sehat dan dukungan kebijakan harga yang jelas, proyek hilirisasi batubara berisiko menekan profitabilitas emiten.

Strategi Ekspansi MIDI 2026 Bidik Pertumbuhan di Luar Jawa Lewat Penetrasi 200 Gerai
| Jumat, 09 Januari 2026 | 07:50 WIB

Strategi Ekspansi MIDI 2026 Bidik Pertumbuhan di Luar Jawa Lewat Penetrasi 200 Gerai

Ekspansi di luar Jawa menawarkan keunggulan berupa biaya operasional yang lebih rendah dan tingkat persaingan yang relatif lebih longgar.

Harga Timah US$ 44.000-an, TINS Siap Melaju Kencang di Tahun 2026
| Jumat, 09 Januari 2026 | 07:18 WIB

Harga Timah US$ 44.000-an, TINS Siap Melaju Kencang di Tahun 2026

Harga timah dunia tembus US$42.450–44.500/ton awal 2026 dorong saham TINS naik 9,97% sepekan. Analis rekomendasi buy dengan target Hingga Rp 4.200

Pasar CPO Tersulut Sentimen La Nina, Mandat B50 Jadi Amunisi Baru Saham BWPT
| Jumat, 09 Januari 2026 | 07:14 WIB

Pasar CPO Tersulut Sentimen La Nina, Mandat B50 Jadi Amunisi Baru Saham BWPT

Kombinasi antara tekanan pasokan dan potensi lonjakan permintaan membuat pasar CPO kini berada dalam fase yang patut dicermati.

Sebelum Berlibur Akhir Pekan Lagi, Berikut Rekomendasi Saham Hari Ini, Jumat (9/1)
| Jumat, 09 Januari 2026 | 06:59 WIB

Sebelum Berlibur Akhir Pekan Lagi, Berikut Rekomendasi Saham Hari Ini, Jumat (9/1)

Kemarin, IHSG mengalami tekanan jual dan aksi profit taking setelah reli signifikan dalam beberapa hari terakhir.

Dapat Persetujuan RUPSLB, RISE Genjot Modal dan Bagi Saham Bonus
| Jumat, 09 Januari 2026 | 06:49 WIB

Dapat Persetujuan RUPSLB, RISE Genjot Modal dan Bagi Saham Bonus

RUPSLB PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk (RISE) menyetujui peningkatan modal dasar dan pembagian saham bonus kepada pemegang saham.​

Target Produksi Emas Tinggi, Kinerja Bumi Resources Minerals (BRMS) Bisa Mendaki
| Jumat, 09 Januari 2026 | 06:45 WIB

Target Produksi Emas Tinggi, Kinerja Bumi Resources Minerals (BRMS) Bisa Mendaki

Di 2026, BRMS menargetkan produksi emas 80.000 ons troi. Ini lebih tinggi dari proyeksi produksi tahun 2025 di kisaran 68.000-72.000 ons troi. 

INDEKS BERITA