Menanti Kebijakan Bank Sentral

Senin, 17 Juni 2019 | 08:33 WIB
Menanti Kebijakan Bank Sentral
[]
Reporter: Arfyana Citra Rahayu | Editor: A.Herry Prasetyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pekan ini, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan dipengaruhi hasil rapat The Federal Reserve dan Bank Indonesia. Pelaku pasar terutama menanti kebijakan bank sentral soal suku bunga.

Pelaku pasar tampaknya memprediksi The Fed masih mempertahankan Fed fund rate. Menurut survei Bloomberg, cuma 21,3% analis yang memprediksi The Fed akan memangkas suku bunga.

Chief of Executive (CEO) Avere Investama Teguh Hidayat menilai, The Fed belum memiliki ruang luas untuk menaikkan suku bunga. Sebab, Amerika Serikat masih terpengaruh perang dagang.

Selain itu, data inflasi dan indikator tenaga kerja belum menunjukkan penguatan fundamental ekonomi AS. Kondisi tersebut membuat The Fed minimal menahan suku bunganya di level sekarang.

Analis juga memprediksi BI masih akan menahan suku bunga acuan. Junior Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia Mangesti Diah Sulistiani menjelaskan, inflasi sepanjang Mei sebesar 3,38%.

Realisasi tersebut memang masih berada pada rentang target inflasi BI, 2,5%-4,5%. Namun, itu tak serta-merta membuat BI bisa menurunkan bunga. "Karena masih ada faktor defisit akun berjalan dan sentimen kondisi eksternal," ujar Mangesti.

Defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) kuartal pertama tahun ini mencapai US$ 7 miliar. Mangesti memperkirakan, BI baru akan menurunkan bunga acuan pada awal semester kedua tahun ini.

Meski begitu, peluang BI menurunkan suku bunga mendahului The Fed juga masih terbuka. Analis menilai, meski Fed fund rate tetap, bakal jauh lebih baik jika BI menurunkan BI 7-day repo rate (7-DRR).

"Selain akan memperkuat IHSG, penurunan bunga akan mendorong sektor properti dan perbankan,” ujar Kepala Riset Samuel Sekuritas Suria Dharma, Jumat (14/6).

Teguh menilai, bunga acuan 6% tergolong tinggi. Penurunan menjadi 5,75% saja sudah cukup menjadi bahan bakar bagi IHSG untuk rebound.

Analis Oso Sekuritas Sukarno Alatas berpendapat, penurunan bunga memberikan stimulus ekonomi. Ini membuat pelaku bisnis lebih mudah berekspansi. Dus, kinerja emiten bisa lebih baik.

Sukarno menyarankan investor pekan ini mengambil posisi wait and see. Investor perlu melihat arah kebijakan bank sentral ke depan.

Meski begitu, investor bisa melakukan trading jangka pendek. Tapi, hindari saham yang sensitif dengan bunga acuan. "Saham bank dan konstruksi akan tetap menjadi pilihan, imbuh Sukarno.

Bagikan

Berita Terbaru

Antara Utang dan Ancaman Krisis
| Kamis, 26 Februari 2026 | 02:30 WIB

Antara Utang dan Ancaman Krisis

Memilih utang daripada krisis adalah opsi yang masuk akal jika dibarengi efisiensi belanja yang drastis dan peningkatan pendapatan.

Rajin Ekspansi, Chandra Asri (TPIA) Bidik Total Kapasitas Produksi Tembus 21 Juta Ton
| Kamis, 26 Februari 2026 | 02:12 WIB

Rajin Ekspansi, Chandra Asri (TPIA) Bidik Total Kapasitas Produksi Tembus 21 Juta Ton

Permintaan produk petrokimia di Indonesia masih tinggi, dengan proyeksi rata-rata pertumbuhan CAGR sekitar 5% hingga tahun 2038.

Economic 30 Rebalancing: BBYB & HRTA Masuk, Bagaimana Rekomendasinya?
| Kamis, 26 Februari 2026 | 02:00 WIB

Economic 30 Rebalancing: BBYB & HRTA Masuk, Bagaimana Rekomendasinya?

Komposisi baru indeks Economic 30 berlaku 2 Maret 2026. Analis soroti NCKL, HRTA, KIJA. Cek rekomendasi dan target harganya sekarang.

Rumor Akhirnya Terjawab, Bakrie Capital Indonesia Resmi Akuisisi 6% Saham BIPI
| Rabu, 25 Februari 2026 | 19:11 WIB

Rumor Akhirnya Terjawab, Bakrie Capital Indonesia Resmi Akuisisi 6% Saham BIPI

Grup Bakrie merogoh kocek sekitar Rp 948 miliar untuk menebus 6% saham PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI).

Berburu Cuan Dividen Bank Besar, Intip Potensi Yield Dividen BBCA, BMRI, BBRI, & BBNI
| Rabu, 25 Februari 2026 | 08:31 WIB

Berburu Cuan Dividen Bank Besar, Intip Potensi Yield Dividen BBCA, BMRI, BBRI, & BBNI

Imbal hasil dividen terutama dari bank Himbara diproyeksi lebih menarik, bisa menyentuh menyentuh 8%-9%.

Saham SIDO Terjerembap di Musim Hujan Awal Tahun, tapi Diborong Tiga Institusi Asing
| Rabu, 25 Februari 2026 | 08:10 WIB

Saham SIDO Terjerembap di Musim Hujan Awal Tahun, tapi Diborong Tiga Institusi Asing

Investor asing institusi seperti Vanguard dan Blackrock masih mencatatkan unrealized loss di  saham SIDO.

OJK Usut 32 Kasus Dugaan Manipulasi Saham, Tak Semuanya Melibatkan Influencer
| Rabu, 25 Februari 2026 | 07:35 WIB

OJK Usut 32 Kasus Dugaan Manipulasi Saham, Tak Semuanya Melibatkan Influencer

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tengah memfinalisasi POJK yang ditargetkan bakal dirilis pada semester I-2026.

Bangkit dari Level Gocap, Didorong Sentimen Right Issue Harga Saham WMUU Melesat
| Rabu, 25 Februari 2026 | 07:10 WIB

Bangkit dari Level Gocap, Didorong Sentimen Right Issue Harga Saham WMUU Melesat

Konversi hak tagih akan membawa dampak positif, salah satunya memangkas rasio pinjaman terhadap ekuitas WMUU. 

Perjanjian Dagang RI-AS Menekan Bisnis Logistik
| Rabu, 25 Februari 2026 | 07:05 WIB

Perjanjian Dagang RI-AS Menekan Bisnis Logistik

Perjanjian ini berpotensi membuat perlindungan data primer bangsa menggunakan platform digital dan server pihak asing.

Pasar Saham Masih Lesu, Hari Ini, Rabu (25/2) IHSG Berpotensi Melanjutkan Koreksi
| Rabu, 25 Februari 2026 | 05:53 WIB

Pasar Saham Masih Lesu, Hari Ini, Rabu (25/2) IHSG Berpotensi Melanjutkan Koreksi

Keuangan menjadi satu-satunya sektor yang menguat. Pelemahan IHSG juga diiringi tekanan pada rupiah yang melemah ke Rp 16.829 per dolar AS.

INDEKS BERITA

Terpopuler