Berita Bisnis

Menyulap Eks Tambang Timah Jadi Agrowisata Selinsing

Selasa, 12 Oktober 2021 | 06:00 WIB
Menyulap Eks Tambang Timah Jadi Agrowisata Selinsing

Reporter: Azis Husaini | Editor: Azis Husaini

KONTAN.CO.ID -BELITUNG. Sejumlah kawasan bekas tambang di Bumi Laskar Pelangi disulap menjadi kawasan hijau dengan konsep agrowisata. Di kawasan seluas 17,7 hektare (ha), PT Timah Tbk bersama BUMDes Selinsing mengembangkan agro wisata hingga kolam pemancingan.

Kegiatan sosial dan ekonomi di Belitung Timur, Kepulauan Bangka Belitung, kembali berdenyut setelah kasus positif Covid-19 mereda. Sejumlah penerbangan dari Jakarta menuju Bandar Udara Internasional H.A.S. Hanandjoeddin di Tanjung Pandan, Kabupaten Belitung, mulai ramai.
 
Pulau dengan kerap disebut Bumi Laskar Pelangi ini merupakan salah satu tujuan wisata yang eksotis. Tak heran apabila PT Timah Tbk (TINS), salah satu korporasi yang berbasis di sana, bersama BUMDes Kampong Reklamasi Selinsing mengembangkan kawasan hijau dengan aneka fungsi. "Dulu wilayah ini bekas tambang, hamparan pasir putih yang tidak ada kehidupan," ungkap Hariyanto, Kepala Desa Selinsing, Senin (11/10).
 
Kini BUMDes Selinsing bersama PT Timah Tbk mengembangkan kawasan wisata tersebut. Apalagi saat ini banyak masyarakat lokal maupun luar desa menantikan pengembangan kawasan ini. Izin wisata pun sedang diurus. "Alhamdulillah, di sini sudah nihil kasus positif Covid-19," terang dia.
 
Kawasan agrowisata ini bisa menjadi pemasukan bagi BUMDes yang saat ini dikelola secara profesional. "Kemungkinan nanti kami akan mengenakan tiket di bawah Rp 5.000 per orang," urai Hariyanto.
 
Fasilitas agrowisata ini sangat lengkap, dari tanaman buah naga, durian, keramba apung. Bahkan, ada pula pembibitan yang sekarang sedang digarap.
 
Beberapa spot menarik lain adalah fishing villa, parabolic shelter dan dermaga danau buatan.
 
Kemudian ada executive villa, pedestrian, light park, bumi perkemahan, kupi tumpa, replika kapal keruk, pencil signage, concrete keyboard, dan area peternakan sapi dan penangkaran ikan. Saat ini BUMDes dan TINS sedang menyiapkan pembukaan untuk umum menunggu izin keramaian dari pemerintah daerah setempat dan izin wisata diselesaikan.
 
Pengawas Kampong Reklamasi PT Timah Tbk, Rahardian bilang, tambang timah ini berumur pendek, hanya ditambang antara tahun 2010-2013. "Kami mengembangkan wilayah ini dengan dana awal Rp 1 miliar saat 2013, tapi sekarang bertambah menjadi sekitar Rp 5 miliar," ungkap dia.
 
Sigit Prabowo, Kepala Unit Produksi Belitung PT Timah Tbk mengatakan, proyek reklamasi dengan konsep agrowisata ini terus dikembangkan di beberapa desa di Belitung. "Bahwa ada yang bilang bekas tambang tak bisa ditanami, itu salah. Ini buktinya kami berhasil menanam cabai, buah naga, durian dan lainnya," ungkap dia kepada KONTAN, kemarin.
 
Saat ini pihaknya terus menata tambang yang sudah selesai. "Kami juga terus membina pertambangan rakyat. Ada 500 penambang yang kami bina, karena 95% produksi kami memang dari mereka," imbuh dia.
 
Khusus di Belitung, TINS menguasai lahan 72.000 ha dengan perincian darat 42.000 ha dan laut 30.000 ha. TINS memproduksi sekitar 100 ton per bulan. "Saya menekankan, harga timah sedang bagus, berefek juga ke perekonomian Belitung. Di sini tak kenal krisis," ungkap Sigit.   


Baca juga