Meragukan Narasi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, awal pekan ini, mau tak mau mengingatkan kita akan peristiwa angkat kakinya empat pimpinan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan bos Bursa Efek Indonesia (BEI) di awal tahun ini.
Alasan tentang hengkangnya para pejabat penting di industri keuangan negeri ini adalah pengunduran diri. Penjelasan itu pun disampaikan oleh pihak lain, tanpa kehadiran mereka yang disebut mundur. Dalam kejadian para pimpinan OJK dan BEI, memang ada kejadian penurunan harga saham yang drastis sebagai pendahulu. Pararegulator di industri keuangan pun disebut mundur karena merasa bertanggungjawab.
Alasan Perry memilih untuk mundur, tidak sejelas itu. Destry Damayanti, Deputi Gubernur Senior BI yang kemudian menempati posisi Gubernur BI sementara, hanya menyebut Perry mundur secara sukarela karena alasan pribadi.
Saat ia mengajukan mundur, nilai tukar rupiah, yang berada dalam domain bank sentral, tak pernah lepas dari tekanan. Kurs dolar Amerika Serikat (AS), belakangan ini tak pernah jauh dari kisaran 18.000-an.
Pelemahan kurs, tentu berimbas ke laju inflasi. Mengingat negeri ini masih banyak bergantung pada barang dari luar negeri, imported inflation sangat mungkin naik, hingga menggeser inflasi lebih tinggi lagi.
Dalam buku teks monetaris, situasi semacam ini akan berujung ke bunga yang lebih tinggi. Selama Mei-Juni, BI telah tiga kali menaikkan bunga acuan, dengan total kenaikan 100 basis poin, hingga BI rate saat ini sebesar 5,75%.
Namun apakah pelemahan rupiah, atau bunga yang makin tinggi yang memicu Perry untuk pamit? Publik hanya bisa menebak-nebak.
Ketidakjelasan informasi seputar pengunduran diri para bos OJK dan bursa, yang terulang lagi saat Perry pergi, seharusnya dihindari. Itu menciderai kualitas transparansi yang wajib dipelihara setinggi mungkin oleh pemerintah.
Hanya mereka yang berorientasi pada kekuasaan, yang percaya bahwa alasan pengunduran diri serta merta akan menghilangkan berbagai pertanyaan juga reaksi.
Kenyataannya, mereka yang berada di dalam, atau dekat dengan industri keuangan, mencerna informasi seputar pengunduran diri di BI dan OJK dengan hati-hati, bahkan ragu. Ini terlihat dari banyaknya yang memberi komentar bernada kecemasan tentang tergerusnya independensi otoritas moneter dan otoritas keuangan.
