Nakhoda yang Menggambar Peta Baru
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Coba bayangkan sebentar: Anda adalah Presiden Prabowo Subianto. Di meja kerja Anda tergelar sebuah peta dunia, yang dalam enam tahun terakhir, telah digambar ulang berkali-kali oleh tangan-tangan yang tidak pernah meminta izin kepada siapa pun. Anda menyaksikan sendiri bagaimana pandemi membongkar ilusi rantai pasok yang selama tiga dekade dianggap tak tergoyahkan.
Anda membaca laporan bagaimana kelangkaan cip melumpuhkan pabrik otomotif di tiga benua sekaligus. Anda mengikuti, satu demi satu, bagaimana Washington dan Beijing saling menembakkan kontrol ekspor seperti dua kapten yang sama-sama menutup jalur pelayaran satu sama lain -- cip canggih ditahan di satu sisi, galium dan germanium ditahan di sisi lain, lalu grafit, lalu tanah jarang, lalu tungsten dan bismut, sampai akhirnya seluruh peta perdagangan dunia berubah menjadi kumpulan pelabuhan yang saling curiga. Anda tahu persis bahwa dunia sedang berpindah dari era "siapa yang paling murah" menuju era "siapa yang paling tidak tergantikan". Dan Anda, sebagai kepala negara, tidak punya kemewahan untuk sekadar menjadi penumpang yang menonton peta itu digambar oleh orang lain.
