Berita Bisnis

Negara G7 Hentikan Pembiayaan Batubara, Bank Lokal Jadi Andalan Kredit Batubara

Rabu, 16 Juni 2021 | 06:00 WIB
Negara G7 Hentikan Pembiayaan Batubara, Bank Lokal Jadi Andalan Kredit Batubara

Reporter: Muhammad Julian | Editor: Azis Husaini

KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Kelompok negara maju yang tergabung dalam Group of Seven (G7) menyuarakan rencana menghentikan pembiayaan di sektor pertambangan batubara. Produsen batubara nasional mengaku tak mencemaskan rencana kelompok G7 yang beranggotakan Amerika Serikat, Inggris, Kanada, Prancis, Jerman, Italia dan Jepang.

Sebelumnya Kelompok G7 menyebutkan pembangkit listrik berbasis batubara merupakan penyebab terbesar emisi gas rumah kaca. 
 
“Kami menekankan investasi internasional pada batubara harus dihentikan sekarang. Kami saat ini berkomitmen mengakhiri dukungan baru untuk pembangkit listrik batubara termal internasional pada akhir 2021,” ujar Kelompok G7 sebagaimana dikutip Reuters, Senin (14/6).
 
Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI), Hendra Sinadia mengatakan, produsen batubara memiliki banyak opsi untuk menghimpun pendanaan eksternal di dalam negeri. Beberapa opsi yang bisa dijajaki seperti pinjaman perbankan dalam negeri, penggalangan dana di pasar modal, dan lain-lain.
 
Meski begitu, APBI tak menampik bahwa sikap G7 bisa berdampak terhadap ekspor batubara Indonesia dalam jangka panjang. Pasalnya, penghentian pendanaan eksternal dari negara G7 untuk proyek pembangunan PLTU di negara tujuan ekspor batubara Indonesia bisa saja menekan permintaan batubara Indonesia di negara tersebut.
 
Hanya saja, menimbang pasar batubara belakangan ini, Hendra optimistis permintaan komoditas energi tersebut masih akan tumbuh hingga beberapa tahun ke depan. Apalagi, PLTU existing yang sudah beroperasi umumnya memiliki usia operasi yang tidak pendek, yaitu sekitar 25 tahun.
 
“Kalau kami melihat  permintaan batubara, rasanya masih cukup bagus, setidaknya satu-dua dekade ke depan masih oke,” ungkap dia kepada KONTAN, kemarin.
 
Head of Corporate Communication PT Indika Energy Tbk (​INDY), Ricky Fernando mengemukakan, Indika menjadikan aspek environmental, social and governance (ESG)  sebagai prioritas dalam beroperasi. Selain itu, INDY ke depan juga telah mempersiapkan langkah-langkah seperti memperkuat diversifikasi usaha ke sektor non-batubara, menargetkan penerimaan pendapatan dari sektor non-batubara sebesar minimal 50% di tahun 2025 mendatang, serta berkomitmen mencapai netral emisi karbon pada tahun 2050. 
 
“Kami juga menjajaki penggalangan dana dari dalam negeri,” ungkap Ricky kepada KONTAN, Selasa (15/6).
 
Sumber pendanaan utama Indika Energy berasal dari kas perusahaan, pinjaman bank, dan obligasi internasional. Berdasarkan catatan INDY, mereka memiliki pinjaman kepada Bank Mandiri, Bank Permata, HSBC, Bank Woori Saudara dan Citibank.
 
Sementara Sekretaris Perusahaan PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS), Sudin Sudirman mengatakan, GEMS selama ini mengandalkan pinjaman dari perbankan lokal untuk urusan pendanaan eksternal. Saat ini Golden Energy mengandalkan fasilitas pinjaman dari Bank Mandiri. “Ke depan, GEMS lebih banyak mengandalkan kas internal dan pinjaman bank lokal,” kata dia kepada KONTAN, kemarin.
 
Menyoal prospek penjualan batubara, Sudin optimistis permintaan batubara di pasar global masih akan memiliki prospek positif hingga beberapa tahun ke depan.     

Tag

Baca juga