Nilai Ekspor Jepang Bulan Mei Bakal Terpukul Perang Dagang

Jumat, 14 Juni 2019 | 14:31 WIB
Nilai Ekspor Jepang Bulan Mei Bakal Terpukul Perang Dagang
[]
Reporter: Sumber: Reuters | Editor: Narita Indrastiti

KONTAN.CO.ID - TOKYO. Ekspor Jepang di bulan Mei kemungkinan bakal turun lebih dalam, dan menjadi penurunan lanjutan dalam enam bulan terakhir. Berdasarkan jajak pendapat Reuters, perang dagang Amerika Serikat dengan China memang berdampak pada ekonomi Jepang.

Masih menurut jajak pendapat tersebut, Bank of Japan (BOJ) diperkirakan akan mempertahankan target untuk suku bunga jangka pendek. Imbal hasil pemerintah jangka panjang kemungkinan juga tidak berubah. 

Sementara itu, harga konsumen (consumer prices) kemungkinan bakal turun pada bulan Mei. Hal ini akan memberi tekanan pada BOJ, lantaran masih jauh dari target inflasi sebesar 2%. 

"Ekspor kemungkinan turun karena pabrik berhenti selama libur nasional 10 hari kemarin dan permintaan eksternal melemah," ujar Koya Miyamae, Ekonom Senior di SMBC Nikko Securities, Jumat (14/6).

Menurut dia, perang dagang AS-China yang semakin intensif akan berpengaruh besar pada perdagangan di bulan Juni. Ekspor pada bulan Mei diperkirakan telah turun 7,7% dari tahun sebelumnya. Angka ini merupakan jajak pendapat dari 16 ekonom. Dibandingkan dengan penurunan 2,4% di bulan April, ekspor Mei menjadi penurunan yang terbesar sejak Januari lalu. 

Sementara itu, impor Jepang di bulan Mei naik 0,2% dari tahun sebelumnya, setelah kenaikan 6,5% pada bulan April direvisi. Sehingga, akan ada defisit perdagangan sebesar 979,2 yen atau sekitar US$ 9,04 miliar. 

Kementerian Keuangan Jepang akan merilis data perdagangan ini pada 19 Juni mendatang, pukul 8:50 pagi waktu Jepang. BOJ bakal menjaga target suku bunga jangka pendek pada minus 0,1% dan berjanji untuk menjaga yield obligasi pemerintah 10 tahun sekitar 0% pada pertemuan 19-20 Juni mendatang. 

Para pemimpin keuangan G20, di akhir pekan lalu mengatakan, ketegangan perdagangan dan geopolitik elah meningkatkan risiko pertumbuhan global. 

BOJ adalah salah satu bank sentral utama yang bisa mendapat tekanan untuk meningkatkan program stimulusnya yang sudah masif. Lagi-lagi, hal ini karena perselisihan perdagangan menimbulkan kecemasan soal resesi global. 

Jajak pendapat Reuters juga memproyeksikan indkes harga konsumen inti Jepang, akan naik 0,8% pada Mei. Angka ini lebih rendah dari kenaikan 0,9% di bulan April lalu. 

"Harga listrik dan gas, yang mencerminkan penurunan harga minyak, kemungkinan berkontribusi pada harga yang lebih rendah," kata Takumi Tsunoda, Ekonom Senior di Shinkin Central Bank Research Institute. Kementerian Dalam Negeri akan mempublikasikan data tentang harga konsumen pada pukul 8:30 pagi pada 21 Juni mendatang.

Bagikan

Berita Terbaru

Dari Alibaba, Blackrock Hingga Vanguard; Investor Kakap Nyangkut Berjemaah di GOTO
| Kamis, 13 Agustus 2026 | 12:08 WIB

Dari Alibaba, Blackrock Hingga Vanguard; Investor Kakap Nyangkut Berjemaah di GOTO

Tekanan jual terhadap saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) semakin hebat setelah didepak dari MSCI.

Utang Pemerintah Tembus Rp 10.293 Triliun, Tumbuh Lebih Cepat Daripada Ekonomi
| Kamis, 13 Agustus 2026 | 11:45 WIB

Utang Pemerintah Tembus Rp 10.293 Triliun, Tumbuh Lebih Cepat Daripada Ekonomi

Per Juni 2026, total utang pemerintah sudah Rp 10.293,69 triliun, atau setara 41,26% produk domestik bruto (PDB).

Bersih-bersih, Bos TLKM Dikabarkan Memenuhi Panggilan SEC
| Kamis, 13 Agustus 2026 | 11:05 WIB

Bersih-bersih, Bos TLKM Dikabarkan Memenuhi Panggilan SEC

BEI telah meminta beberapa penjelasan dan melaksanakan dengar pendapat dengan petinggi TLKM. Ini untuk memperoleh klasifikasi lebih komprehensif

Menanti Hasil Akhir Demutualisasi Bursa
| Kamis, 13 Agustus 2026 | 09:11 WIB

Menanti Hasil Akhir Demutualisasi Bursa

Pemegang saham Bursa Efek Indonesia (BEI) memberikan respons positif terkait rencana demutualisasi Bursa. 

Harga Gandum Melonjak di Tengah Tekanan Rupiah, Saham INDF Jadi Pilihan
| Kamis, 13 Agustus 2026 | 08:45 WIB

Harga Gandum Melonjak di Tengah Tekanan Rupiah, Saham INDF Jadi Pilihan

Kenaikan harga gandum dunia tidak serta-merta membuat industri tepung terigu langsung tertekan karena permintaan yang masih besar.

CPI AS Sesuai Ekspektasi, Arah Rupiah Masih Dibayangi Faktor Domestik
| Kamis, 13 Agustus 2026 | 08:22 WIB

CPI AS Sesuai Ekspektasi, Arah Rupiah Masih Dibayangi Faktor Domestik

Permintaan dolar untuk kebutuhan impor, pembayaran utang, serta capital outflow dari pasar keuangan dapat memberikan tekanan terhadap rupiah.

Didorong Spekulasi & Ekspektasi Saham IATA Melaju 106%, Seberapa Kuat Reli Berlanjut?
| Kamis, 13 Agustus 2026 | 08:09 WIB

Didorong Spekulasi & Ekspektasi Saham IATA Melaju 106%, Seberapa Kuat Reli Berlanjut?

IATA membidik tambahan kuota produksi batubara hingga 2 juta ton setelah pengajuan revisi RKAB perusahaan memasuki tahap evaluasi akhir.

SMDR Buka Rute KIX, Investor Perlu Mencermati Dampaknya ke Laba dan Margin
| Kamis, 13 Agustus 2026 | 07:55 WIB

SMDR Buka Rute KIX, Investor Perlu Mencermati Dampaknya ke Laba dan Margin

Peluncuran KIX belum akan memberikan perubahan signifikan terhadap kinerja fundamental SMDR dalam jangka pendek.

MSCI Putuskan Indonesia Tetap di Emerging Market, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini
| Kamis, 13 Agustus 2026 | 07:51 WIB

MSCI Putuskan Indonesia Tetap di Emerging Market, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) keluar dari indeks MSCI. Sementara saham PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN)  turun kelas. 

Pendapatan Melesat, Rugi EXCL Menyusut
| Kamis, 13 Agustus 2026 | 07:51 WIB

Pendapatan Melesat, Rugi EXCL Menyusut

PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) membukukan kerugian bersih sebesar Rp 994,15 miliar sepanjang semester I-2026.\

INDEKS BERITA

Terpopuler