OJK Usut 32 Kasus Dugaan Manipulasi Saham, Tak Semuanya Melibatkan Influencer

Rabu, 25 Februari 2026 | 07:35 WIB
OJK Usut 32 Kasus Dugaan Manipulasi Saham, Tak Semuanya Melibatkan Influencer
[ILUSTRASI. Hasan Fawzi, Pejabat Sementara (Pjs) Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK. KONTAN/Arif Ferdianto]
Reporter: Nur Qolbi | Editor: Tedy Gumilar

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tengah menggeber penyelesaian tumpukan pekerjaan rumah terkait pelanggaran hukum di lanskap pasar modal. Saat ini, wasit industri keuangan tersebut tengah menyoroti dan mengusut 32 kasus yang sarat dengan indikasi manipulasi pasar.

Pejabat Sementara (Pjs) Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, memaparkan bahwa pihak-pihak yang terindikasi melakukan manuver kotor tersebut masih dalam tahap pendalaman intensif.

Ini Artikel Spesial
Agar bisa lanjut membaca sampai tuntas artikel ini, pastikan Anda sudah berlangganan.
Sudah Berlangganan?
Berlangganan dengan Google
Gratis uji coba 7 hari pertama dan gunakan akun Google sebagai metode pembayaran.
Business Insight
Artikel pilihan editor Kontan yang menyajikan analisis mendalam, didukung data dan investigasi.
Kontan Digital Premium Access
Paket bundling Kontan berisi Business Insight, e-paper harian dan tabloid serta arsip e-paper selama 30 hari.
Masuk untuk Melanjutkan Proses Berlangganan
Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Harga Emas Lunglai, Industri Gadai Dorong Ekspansi
| Senin, 19 Oktober 2026 | 04:40 WIB

Harga Emas Lunglai, Industri Gadai Dorong Ekspansi

Penyaluran pembiayaan pergadaian tumbuh 44,60% secara tahunan per Agustus menjadi Rp 156,61 triliun per Agustus 2026

Harga Emas Lunglai, Industri Gadai Dorong Ekspansi
| Senin, 19 Oktober 2026 | 04:40 WIB

Harga Emas Lunglai, Industri Gadai Dorong Ekspansi

Penyaluran pembiayaan pergadaian tumbuh 44,60% secara tahunan per Agustus menjadi Rp 156,61 triliun per Agustus 2026

Desentralisasi dan Stagnasi Daya Saing Daerah
| Senin, 19 Oktober 2026 | 04:32 WIB

Desentralisasi dan Stagnasi Daya Saing Daerah

Pertumbuhan ekonomi dan realisasi investasi tak linear dengan serapan tenaga kerja, sehingga masyarakat tak kebagian "kue" pertumbuhan itu sendiri

Sejahteraraya Anugrahjaya (SRAJ) akan Memperbaiki Profitabilitas
| Senin, 19 Oktober 2026 | 04:30 WIB

Sejahteraraya Anugrahjaya (SRAJ) akan Memperbaiki Profitabilitas

Strategi perusahaan ke depan adalah mengoptimalkan utilisasi kapasitas tempat tidur yang sudah tersedia di seluruh unit Mayapada Hospital,

Bisnis Kawasan Industri Tetap Prospektif
| Senin, 19 Oktober 2026 | 04:20 WIB

Bisnis Kawasan Industri Tetap Prospektif

Salah satu sektor yang kini menjadi motor utama permintaan adalah pusat data (data center) yang kebutuhannya dari sektor ini semakin besar.

UNSP Berpotensi Hadapi Perkara Hukum Terkait Karhutla
| Minggu, 18 Oktober 2026 | 15:05 WIB

UNSP Berpotensi Hadapi Perkara Hukum Terkait Karhutla

UNSP menyatakan bahwa perusahaan dan/atau entitas anak berpotensi menghadapi proses hukum seiring maraknya karhutla yang terjadi saat ini.

Penangkal Kekeringan hingga Penggerak Ekonomi
| Minggu, 18 Oktober 2026 | 06:10 WIB

Penangkal Kekeringan hingga Penggerak Ekonomi

Dulu menjadi desa yang kerap dilanda kekeringan, Desa Doho di Wonogiri, Jawa Tengah, kini menjadikan Embung Doho sebagai

Jaminan & Tanya Besar
| Minggu, 18 Oktober 2026 | 06:10 WIB

Jaminan & Tanya Besar

​Pengendali saham PT Jhonlin Agro Raya, Tbk (JARR) dan PT Pradiksi Gunatama, Tbk (PGUN) menggadaikan hampir seluruh sahamnya kepada Bank Mandiri.

Ketika Pemimpin Hanya Mendengar Kabar Baik
| Minggu, 18 Oktober 2026 | 05:50 WIB

Ketika Pemimpin Hanya Mendengar Kabar Baik

​Di tengah sederet laporan keberhasilan para pemimpin, realitas di lapangan kerap menyuguhkan cerita berbeda yang luput dari pandangan mereka.

Kualitas Pertumbuhan Lebih Penting daripada Angka
| Minggu, 18 Oktober 2026 | 05:30 WIB

Kualitas Pertumbuhan Lebih Penting daripada Angka

Data Infovesta menunjukkan, rata-rata imbal hasil unitlink berbasis saham mengalami kontraksi 9,21% secara year to date hingga September 2026.

INDEKS BERITA